
PRIANGAN.COM- Keharusan dalam beribadah kepada Tuhan, pada bulan Ramadan menjadi fokus utama bagi umat Islam setiap tahunnya.
Karena pada bulan tersebut, ukuran mencari pahala dengan menjalankan puasa, karena ia bukan hanya sekadar menahan lapar, tetapi memiliki peran lain di sisi Tuhannya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
Semua perbuatan baik umat Adam adalah milik mereka sendiri, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali hingga 700 kali lipat. Namun, ibadah puasa adalah milik Allah dan akan langsung dibalas. Sebabnya, pahala yang besar dari seseorang yang mampu menahan diri dari keinginan makanan dan minuman hanya karena Allah. Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah.
Tidak mustahil, ada banyak amalan atau ibadah yang dapat dilakukan di bulan yang baik ini, salah satunya adalah dengan mendengarkan kultum atau ceramah.
Seperti yang diketahui, kultum merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit yang berisi pesan atau nasihat baik kepada sesama umat Islam di depan umum.
Kultum umumnya disampaikan oleh dai, ustadz, tokoh masyarakat, atau para ayah yang bertanggung jawab dalam mengisi acara tersebut.
Tentu, berikut beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Pada bulan Ramadhan, kultum umumnya mudah ditemukan dan disampaikan sebelum waktu berbuka puasa, sebelum salat tarawih, atau setelah shalat subuh. 2. Di bulan Ramadhan, kultum biasanya tersedia dengan mudah dan disampaikan sebelum berbuka puasa, sebelum salat tarawih, atau setelah subuh. 3. Pada bulan suci Ramadhan, kultum sering kali diadakan dan disampaikan sebelum waktu berbuka, sebelum salat tarawih, atau setelah shalat subuh. 4. Dalam bulan Ramadhan, kultum biasanya dapat ditemui dan disampaikan sebelum berbuka puasa, sebelum salat tarawih, atau sesudah subuh. 5. Di bulan Ramadhan, kultum biasanya mudah ditemukan dan disampaikan sebelum waktu berbuka, sebelum salat tarawih, atau setelah shalat subuh.
Selama bulan Ramadhan, kita sering menemukan acara kultum di berbagai tempat, seperti masjid, mushola, surau, bahkan disiarkan melalui TV, YouTube, dan lain sebagainya.
Berikut ini, Kultum Ramadhan singkat terbaik yang dapat menjadi panduan selama puasa pada hari ke 7 Ramadhan 2026, tentang latihan kesabaran melalui berpuasa.
Melatih Kesabaran dengan Berpuasa
Salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah kepada kita semua adalah kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan, guna merasakan kembali keistimewaan berpuasa. Dengan berpuasa, kita dapat lebih memahami makna dari seteguk air bagi tenggorokan yang kering.
Dengan berpuasa, kita lebih memahami manfaat sepiring nasi bagi perut yang sedang lapar. Meskipun demikian, puasa tidak hanya berarti menahan diri dari rasa haus dan lapar, tetapi juga mengajarkan kita tentang cara melatih kesabaran. Seseorang yang sedang berpuasa dilarang mengonsumsi atau melakukan hal-hal yang diperbolehkan saat tidak berpuasa hingga tiba waktunya berbuka.
Maknanya, kita semua diwajibkan oleh Allah untuk bersabar sebelum tiba saatnya diperbolehkan makan, minum, dan melakukan hal-hal lain. Oleh karena itu, tujuan utama dari diwajibkannya puasa adalah agar mereka yang berpuasa mampu meningkatkan rasa takwa kepada Allah SWT, sebagaimana disampaikan dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.
Maknanya, "Wahai orang-orang yang beriman, kalian diwajibkan untuk berpuasa seperti yang diwajibkan kepada umat sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 183).
Menarik untuk dibicarakan dalam hal ini adalah kaitan antara puasa dengan ketakwaan. Mengapa Allah menjadikan ketakwaan sebagai tujuan utama dari puasa, mengapa bukan tujuan yang lain?
Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam salah satu tulisan karyanya mengungkapkan alasan mengapa ketakwaan menjadi tujuan utama di balik aturan puasa. Menurutnya, ketakwaan merupakan inti dari kesabaran. Seseorang yang sedang berpuasa diajarkan untuk bertakwa kepada Allah dengan taat kepada-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terbuka.
Di bawah kondisi yang rahasia, seseorang mungkin tidak taat kepada-Nya dengan tidak berpuasa, namun pada saat itulah ketakwaan dan imannya diuji oleh Allah. Apakah dia mampu bersabar dan tetap berpuasa hingga tiba waktunya berbuka; atau justru tergoda oleh hasrat yang buruk, sehingga tidak sabar dan berhenti berpuasa.
Oleh karena itu, dengan berpuasa seseorang akan semakin terlatih untuk semakin beriman kepada Allah dan taat kepada-Nya, sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Ali As-Shabuni:
Puasa mengajarkan ketakwaan jiwa manusia, dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan pengawasan-Nya baik secara terbuka maupun rahasia, serta membuat seseorang menjadi saleh dan bersih, menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.
Maknanya, "Puasa mampu melatih jiwa manusia, dengan sesuatu yang telah tersemat dalam hatinya, yaitu rasa takut kepada Allah, serta selalu merasa diawasi, baik saat sendirian maupun dalam keadaan terbuka. Selain itu, puasa juga membuat seseorang menjadi bertakwa dan bersih, serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah." (Muhammad Ali As-Shabuni, Tafsiru Ayatil Ahkam, [Damaskus, Maktabah Al-Ghazali: 1400 H], juz I, halaman 93).
Ketaqwaan dan kesabaran adalah dua unsur yang tak terpisahkan dalam menjalani ibadah puasa. Keduanya muncul sebagai akibat dari adanya puasa itu sendiri. Dengan kata lain, seseorang yang berpuasa sedang melatih dirinya untuk tetap berada di jalur yang telah ditentukan oleh agama Islam, dengan tujuan menjalankan perintah-Nya (imtitsalan li amrih) dan berharap mendapatkan pahala dari-Nya (ihtisaban lil ajri). Inilah inti dari syariat puasa. Oleh karena itu, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa puasa merupakan separuh dari kesabaran. Nabi bersabda:
الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Maknanya, "Puasa merupakan sebagian dari kesabaran." (HR At-Tirmidzi dan Ahmad).
Syekh Abdurrauf Al-Munawi (wafat 1031 H) dalam salah satu tulisan karyanya menyatakan bahwa puasa dan kesabaran memiliki makna yang serupa. Kesabaran berarti mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sementara puasa adalah mengendalikan keinginan hawa nafsu agar tidak melanggar hal-hal yang dilarang selama berpuasa. (Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarhil Jami’is Shagir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyah: 1356 H], jilid III, halaman 372).
Sementara Syekh Waliyuddin Abu Abdillah At-Tibrizi (wafat 741 H) dalam kitabnya menyatakan, alasan puasa menjadi bagian dari kesabaran adalah karena kesabaran merupakan usaha untuk mengajak diri sendiri dalam menjalankan kewajiban serta menahan diri dari perbuatan yang dilarang.
Sementara puasa merupakan usaha untuk mengendalikan hasrat nafsu yang terus-menerus menarik pada larangan-larangan tersebut. (Syekh Waliyuddin, Misykatul Mashabih ma’a Mir’atil Mafatih, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah], juz II, halaman 35). Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memperoleh manfaat di bulan Ramadhan, dan tidak menjadi golongan yang menyia-nyiakan kesempatan ini. Amin.(*)
Lihat artikel lain dari TirbunPriangan.com di Google News