
Bengkalispos.comFase masa kecil merupakan tahap paling krusial dalam pembentukan karakter seseorang.
Perilaku orang tua, anggota keluarga, dan lingkungan dalam menghadapi seorang anak akan menentukan bagaimana ia memandang dirinya sendiri serta dunia di sekitarnya.
Salah satu contoh perhatian emosional yang paling sederhana ialah dengan bertanya, "Bagaimana hari kamu?"
Pertanyaan ini bukan hanya sekadar ucapan formal, tetapi merupakan tanda perhatian, pengakuan emosional, serta tempat yang nyaman untuk menyampaikan perasaan.
Namun, tidak semua anak mengalami lingkungan yang memberikan ruang emosional semacam itu.
Beberapa anak tumbuh tanpa pernah diajukan pertanyaan mengenai perasaan mereka, tanpa kesempatan untuk berbagi cerita, dan tanpa pengakuan atas emosi yang mereka alami.
Berdasarkan teori psikologi perkembangan dan psikologi kelekatan, adanya kekosongan emosional yang terjadi secara berulang dapat membentuk pola kepribadian yang bertahan hingga masa dewasa.
Dilaporkan oleh Geediting pada Senin (2/2), terdapat 10 sifat kepribadian yang umum muncul pada orang dewasa yang saat kecil jarang atau tidak pernah ditanya mengenai hari dan perasaannya.
1. Sulit Mengekspresikan Emosi
Mereka sering merasa kebingungan ketika harus menyampaikan perasaan mereka sendiri. Emosi terasa "kabur", sulit untuk dinamai, dan sering disimpan sendiri. Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan alexithymia, yakni kesulitan dalam mengenali serta mengekspresikan emosi.
2. Terlalu Bersifat Emosional Secara Mandiri
Mereka terbiasa menangani masalah sendiri dan jarang meminta bantuan. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan orang lain, melainkan karena sejak kecil mereka diajarkan bahwa perasaan mereka tidak perlu disampaikan kepada siapa pun.
3. Merasa Tidak Pantas Diberi Perhatian
Di dalam jiwa, terdapat keyakinan yang tersembunyi: "Aku tidak cukup berarti untuk diperhatikan." Hal ini dapat muncul dalam interaksi sosial, lingkungan kerja, dan hubungan cinta.
4. Kesulitan Mempercayai Orang Lain
Karena tidak terbiasa dengan kehadiran emosional yang tetap, mereka cenderung menjaga jarak secara batin. Masalah kepercayaan bukan disebabkan oleh trauma besar, melainkan karena kekosongan emosional yang terus-menerus terjadi.
5. Pemalu atau Terlalu Berprestasi
Beberapa orang berusaha "menggantikan" ketidakcukupan perhatian emosional melalui kesuksesan. Mereka mengejar prestasi sebagai cara untuk memperoleh pengakuan dan validasi.
6. Cenderung Memendam Masalah
Sebaliknya, mereka menyembunyikan masalah. Permasalahan disimpan sendiri hingga menumpuk dan meledak dalam bentuk tekanan, kelelahan mental, atau gangguan kecemasan.
7. Khawatir Menjadi Beban Orang Lain
Mereka merasa berbicara = merepotkan. Akibatnya, mereka lebih memilih diam meskipun sedang sangat terluka.
8. Sangat Sensitif terhadap Penolakan
Karena tidak adanya validasi emosional pada masa kecil, mereka menjadi sangat rentan terhadap kritik, penolakan, atau sikap dingin dari orang lain.
9. Menjadi Pendengar yang Baik, Namun Sulit Berbagi Cerita
Mereka sering menjadi tempat untuk berbagi keluh kesah orang lain, namun jarang sekali bersikap terbuka. Terdapat ketidakseimbangan emosional dalam hubungan sosialnya.
10. Surat Persetujuan, Namun Khawatir Membuatnya
Di satu sisi ingin mendapatkan perhatian, namun di sisi lain takut dianggap tidak kuat. Perasaan konflik internal ini membuat mereka sering merasa sendirian meskipun berada di tengah banyak orang.
Penjelasan Psikologis
Dalam studi perkembangan psikologis, kebutuhan emosional anak sebanding dengan kebutuhan tubuhnya. Jika anak tidak menerima tanggapan emosional (pengabaian emosional), hal itu tidak berarti ia mengalami kekerasan, namun ia kehilangan tempat yang nyaman untuk mengembangkan identitas emosionalnya.
Anak yang tidak pernah ditanyakan mengenai perasaannya belajar bahwa:
Emosi tidak penting
Bercerita tidak berguna
Perasaan harus disimpan sendiri
Pola ini selanjutnya menjadi keyakinan inti (core belief) yang dibawa hingga dewasa.
Penutup
Jika kamu merasa cocok dengan ciri-ciri yang disebutkan, itu tidak berarti kamu lemah, rusak, atau mengalami gangguan. Hal tersebut merupakan bentuk penyesuaian diri.
Dulunya, hal itu merupakan cara untuk bertahan secara emosional. Kini, kamu hanya membawa pola tersebut ke tahap kehidupan yang berbeda.
Berita baiknya, pola ini dapat diakui, dipahami, dan diubah. Dengan kesadaran emosional, hubungan yang sehat, serta bantuan profesional (psikolog atau terapis) jika diperlukan, seseorang mampu belajar membangun kembali hubungannya dengan perasaan sendiri.
Karena pada akhirnya, setiap orang pantas diajukan pertanyaan: "Bagaimana harimu?" Dan setiap perasaan layak didengarkan.