Perang saudara meletus di Ethiopia, situasi memburuk! -->

Perang saudara meletus di Ethiopia, situasi memburuk!

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026

Jakarta, IDN Times - Etiopia saat ini sedang mengalami konflik perang saudara. Perang ini terjadi antara pasukan Pemerintah Federal Etiopia melawan pasukan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di wilayah Tsemlet, bagian barat Provinsi Tigray. Konflik juga dilaporkan terjadi di bagian utara Provinsi Tigray.

Menurut laporan AFPPada Kamis (29/1/2026), konflik tersebut telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Kondisi di wilayah tersebut dilaporkan semakin memburuk, sehingga menyebabkan beberapa aktivitas penerbangan di bandara yang berada di Ibu Kota Addis Ababa harus dihentikan sementara.

"Kondisi di sana semakin memburuk," kata sumber tak dikenal kepadaAFP

1. Perang saudara pernah terjadi pada tahun 2020

Konflik yang terjadi antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF sebenarnya bukanlah hal yang baru. Karena sebelumnya, kedua belah pihak telah mengalami perang pada November 2020. Itu merupakan pertama kalinya terjadi perang saudara di Ethiopia. Perang ini dikenal sebagai Perang Tigray.

Pada masa itu, perang meletus akibat serangan pasukan TPLF terhadap markas pasukan Pemerintah Federal Ethiopia yang berada di Provinsi Tigray. Menanggapi serangan tersebut, Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengirimkan pasukannya ke wilayah Tigray guna menyerang TPLF. Pertempuran senjata terjadi antara kedua belah pihak.

Pasukan Pemerintah Federal Ethiopia pada masa itu tidak bertindak sendirian. Mereka didukung oleh pasukan dari Pemerintah Eritrea yang dikenal sangat mendukung Perdana Menteri Ahmed dan sangat menentang TPLF.

2. Perang menyebabkan kematian ratusan ribu orang

Pertempuran yang terjadi antara pasukan Ethiopia dan TPLF pada masa itu berlangsung sengit. Kedua belah pihak saling bertempur untuk mempertahankan posisi mereka.

Setelah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, konflik akhirnya selesai pada November 2022. Pada saat itu, pasukan pemerintah Ethiopia dan pasukan TPLF sepakat untuk menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

Pada masa itu, perang dilaporkan telah menyebabkan kematian sebanyak 600.000 orang. Di sisi lain, lebih dari 3 juta penduduk terpaksa meninggalkan negeri mereka menuju negara-negara sekitar demi mencari tempat yang lebih aman.

3. Wilayah Tigray menghadapi krisis setelah terjadi perang saudara

Setelah berakhirnya perang saudara, Provinsi Tigray justru menghadapi situasi krisis. Banyak penduduk di sana hidup dalam kemiskinan dan kelaparan setiap hari. Keadaan ini terjadi karena wilayah Tigray menjauhkan diri dari Pemerintah Ethiopia.

Oleh karena itu, Provinsi Tigray hingga kini masih bergantung pada bantuan dari luar negeri. Hal ini karena berdasarkan data dari World Food Program (WFP), sebanyak 80 persen penduduk di wilayah tersebut memerlukan dukungan pangan.

Salah satu organisasi internasional yang menjadi harapan masyarakat Tigray dalam memperoleh bantuan adalah USAID. Namun, sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari 2025, USAID tidak lagi memberikan bantuan ke Tigray. Alasannya, Trump memutuskan untuk membubarkan USAID dengan alasan efisiensi.

Bantuan kepada Tigray saat ini diatur secara langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat dengan jumlah yang terbatas. Akibatnya, kondisi penduduk Tigray kini semakin memprihatinkan. Terlebih dalam aspek kesehatan.

"Pengurangan dana dari pemberi bantuan telah memperparah tekanan pada sistem kesehatan masyarakat yang sudah lemah," ujar seorang dokter relawan yang bertugas di Tigray, Joshua Eckley, menurut laporan.Al Jazeera

Etiopia Melaporkan 3 Kematian Akibat Wabah Marburg Etiopia Berhasil Mengurangi 80 Persen Hutang Luar Negeri Dalam Waktu 6 Tahun Orang Terkaya di Afrika Akan Membangun Pabrik Pupuk Terbesar di Ethiopia

TerPopuler