Iran dan Amerika Serikat mengadakan pembicaraan di Oman mengenai program nuklir. Trump mengatakan "hal-hal buruk" dapat terjadi jika tidak ada kesepakatan. Negara-negara di kawasan Teluk khawatir akan risiko perang regional.
Iran dan Amerika Serikat (AS) mengadakan pembicaraan di Oman mengenai program nuklir Teheran. Sebelumnya, Oman juga bertindak sebagai perantara antara Iran dan AS saat kedua negara melakukan negosiasi terkait program nuklir Iran pada 2025, hingga pecahnya konflik antara Iran dan Israel selama 12 hari.
AS akan diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff, sementara menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, juga ikut serta dalam perjalanan ke Timur Tengah.
Di pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi beserta beberapa diplomat tiba di Oman pada Senin (02/02) malam, seperti dilaporkan oleh kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Iran memasuki diplomasi dengan pikiran terbuka dan ingatan yang jelas tentang tahun terakhir," tulis Araghchi melalui akun X-nya. "Posisi yang setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama bukanlah retorika—tetapi keharusan dan dasar dari kesepakatan yang berkelanjutan.
Apa tujuan yang ingin dicapai?
Negosiasi ini adalah yang pertama sejakPria itu meledakkan fasilitas nuklir Irandalam pertempuran Iran-Israel pada bulan Juni 2025.
Saat mendekati negosiasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa negaranya siap melindungi diri dari "tuntutan yang berlebihan" Amerika Serikat. Teheran, menurut Araghchi, akan memanfaatkan jalur diplomatik untuk menjaga kepentingan nasionalnya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Araghchi dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.
Di sisi lain, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Presiden ASDonald Trump memiliki "banyak pilihan" selain diplomasi”.
Trump sendiri mengatakan bahwa "hal-hal buruk" dapat terjadi jika tidak ada kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
Pejabat Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menganggap bahwa pemerintahan teokratis Iran kini sedang dalam kondisi paling lemah sejak Revolusi Islam 1979. Pernyataan tersebut merujuk padagelombang protes nasionalsebulan yang lalu, yang dianggap sebagai tantangan terbesar terhadap otoritas Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun.
Saat itu, protes menewaskan ribuan orang dan dilaporkan mengakibatkan puluhan ribu penangkapan. Keadaan ini juga memicu ancaman militer baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.
Marco Rubio menekankan bahwa pembicaraan harus mencakup semua masalah.
“Saya pikir agar negosiasi benar-benar menghasilkan sesuatu yang berarti, pembicaraannya harus mencakup beberapa hal. Hal itu termasuk jangkauan rudal balistik mereka,” kata Rubio kepada wartawan, Rabu (04/02). “Termasuk juga dukungan mereka terhadap organisasi teroris di wilayah tersebut. Termasuk program nuklir, serta cara mereka menangani rakyatnya sendiri.”
Kekhawatiran negara-negara di kawasan Teluk
Di sisi lain, Tiongkok menyatakan dukungannya terhadap usaha Iran dalam menjaga kepentingannya serta menolak "penindasan satu pihak" dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang berbicara di Doha, Qatar, mengajak para pemimpin Iran untuk "secara serius mengikuti pembicaraan", sambil menyampaikan "kekhawatiran besar terhadap peningkatan aktivitas militer di wilayah tersebut".
Saat ini, negara-negara Arab di kawasan Teluk merasa cemas bahwa serangan terhadap Iran bisa memicu konflik regional yang melibatkan mereka. Hal ini terjadi karena pasukan Amerika Serikat telah menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak Iran di dekat kapal perang USS Abraham Lincoln, sementara Iran juga pernah berusaha menghalangi kapal milik AS di Selat Hormuz.
Sampai saat ini, belum diketahui seberapa jauh Iran bersedia berunding dalam negosiasi tersebut. Teheran menyatakan bahwa pembicaraan hanya akan fokus pada program nuklirnya. Namun, Al Jazeera melaporkan bahwa diplomat dari Mesir, Turki, dan Qatar telah memberikan sebuah usulan kepada Iran, yang mencakup penghentian pengayaan uranium selama tiga tahun, pengiriman uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke luar negeri, serta komitmen "tidak memulai penggunaan rudal balistik".
AS meminta warga negaranya untuk meninggalkan Iran
Kedutaan Amerika Serikat di Teheran meminta warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Iran.
"Warga negara Amerika Serikat perlu bersiap menghadapi gangguan internet yang terus-menerus, merencanakan alternatif komunikasi, dan jika memungkinkan serta aman, pertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju Armenia atau Turki," tulis Kedutaan di situs resminya. Kedutaan juga memberi peringatan bahwa pembatalan penerbangan bisa terjadi kapan saja.
Pemerintah Amerika Serikat juga menyarankan warga yang memiliki kewarganegaraan gandaAS–Iranuntuk meninggalkan Iran dengan menggunakan paspor Iran.
Bagi mereka yang tidak bisa meninggalkan tempat, disarankan untuk "mencari lokasi aman" di dalam rumah masing-masing atau bangunan lain yang terlindungi, serta memastikan ketersediaan air, makanan, dan obat-obatan. Warga juga dimintamenghindari demonstrasi.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Yuniman Farid
ind:penulis_konten: Felix Tamsut (sumber: AP, AFP)