PR JATENG- Borobudur tidak hanya berbicara tentang candi dan sejarah. Sejak 5 Februari hingga 5 Maret 2026, area ini ikut meramaikan dengan pameran seni visual yang bernama Describing Personality di Limanjawi Art House.Pameran ini merupakan langkah awal dari Echo Project, sebuah kelompok seni yang memilih jalur berbeda: menonjolkan kepribadian seniman di tengah tren seni rupa yang semakin serupa.
Proyek Echo diinisiasi oleh lima seniman dari berbagai daerah, yaitu Abdi Setiawan, Awang Darmawan, Heru Priyono, Heru Widodo, serta almarhum Zulfa Herdra. Secara keseluruhan, terdapat 32 karya yang dipamerkan, mulai dari lukisan hingga patung, dengan berbagai medium dan pendekatan. Seluruh karya ini disusun dalam satu tema utama: kejujuran pribadi setiap seniman.
Alih-alih mengusung tema utama yang menyatukan, Describing Personality justru memberikan kebebasan bagi setiap seniman. Di sini, karya dianggap sebagai sesuatu yang "pribadi", sangat terkait dengan kepribadian pembuatnya. Penonton dapat langsung mengenali, bahkan tanpa membaca label, karya dari siapa yang sedang mereka lihat.
"Pameran ini lahir dari kebiasaan kami berkumpul dan menganalisis satu karya secara mendalam. Dari diskusi tersebut, akhirnya timbul hasrat untuk menyelenggarakan pameran yang benar-benar menunjukkan kepribadian masing-masing," ujar Abdi Setiawan setelah pembukaan pameran, Kamis, 5 Februari 2026.
Menariknya, Proyek Echo tidak hanya diisi oleh seniman lokal Magelang. Seniman dari Yogyakarta hingga Padang juga turut berpartisipasi. Kombinasi latar belakang ini sengaja diciptakan untuk memperkaya perspektif dan menghindari kesan yang terlalu tertutup.
"Kita campur agar saling melengkapi," kata Abdi.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Heru Widodo. Menurutnya, proses panjang diskusi antar seniman menjadi dasar utama dari pameran ini. Mulai dari obrolan santai hingga perdebatan yang mendalam, semuanya berujung pada satu kesepakatan: menyajikan karya yang tulus, tanpa harus mengikuti selera pasar.
Pengelola sekaligus penggugah pameran, Aa Nurjaman, menganggap proyek pertama ini sebagai "kulonuwun" Echo Project kepada masyarakat seni. Ia menyoroti tren seni rupa modern yang semakin seragam karena pengaruh pasar yang sangat kuat.
"Di sini justru menekankan kepribadian. Setiap seniman memiliki ciri khas, mulai dari cara berpikir hingga cara menyampaikan ide," katanya.
Nama Echo Project lahir dari suasana yang nyaman dalam berkarya dan berkomunikasi. Proses kreatifnya berkembang melalui pertemuan santai, canda, hingga diskusi mendalam yang akhirnya berubah menjadi kegiatan artistik bersama.
Pemilik Limanjawi Art House, Umar Chusaeni, menganggap pameran ini sebagai momen penting bagi Borobudur. Baginya, Borobudur bukan hanya sebagai situs warisan dunia, tetapi juga sebagai ruang yang hidup dalam seni dan budaya modern.
"Seni rupa Indonesia terus berkembang, dan pameran semacam ini penting dalam menunjukkan perkembangan tersebut," kata Umar.
Salah satu karya yang menarik perhatian berasal dari Abdi Setiawan. Seniman yang terkenal sebagai pematung nasional kontemporer ini mempersembahkan karyanya yang terbuat dari sisa-sisa material patung yang didaur ulang. Pendekatan ini dianggap unik, segar, serta mencerminkan proses panjang dalam praktik seni rupa.
Melalui karya "Describing Personality", Echo Project menandai awal perjalanan mereka. Bukan hanya sekadar pameran, tetapi juga sebuah pernyataan pendirian: bahwa di tengah arus yang cenderung seragam, sifat dan kepribadian individu tetap pantas untuk diperjuangkan.***