
Ringkasan Berita:
- Para siswa mengalami kepanikan setelah mendengar berita teman mereka NS (13) meninggal diduga akibat dianiaya oleh ibu tirinya di Sukabumi.
- Sahabat-sahabat sepondok almarhum sangat sedih ketika mendengar berita anak dari Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, meninggal akibat dianiaya.
- RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri melakukan autopsi terhadap jenazah NS dan menemukan beberapa luka bakar di tubuh NS.
BERITA.COM, SUKABUMI - Pengasuh Pondok Pesantren Cibitung, Abdul Rohman (38), menceritakan respons yang sangat emosional dari para santrinya ketika mengetahui teman mereka, NS (13), meninggal akibat dianiaya oleh ibu tirinya, TR (47).
Hal tersebut diungkapkan Abdul saat diwawancarai news.com di sebuah saung yang berada di lingkungan Pesantren Darul Ma'arif Cibitung, Selasa (24/2/2026) malam.
Duduk di bangku kayu dengan penerangan yang minim, Abdul terlihat berusaha menahan air mata. Matanya berkaca-kaca dan suaranya gemetar seolah akan menangis.
Menurut Abdul, rekan-rekan sepondok sangat sedih ketika mendengar berita anak dari Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, meninggal akibat dianiaya.
"Temannya juga di sini sedang panik, sangat panik ketika mendengar saudara Nizam meninggal," kata Abdul.
Abdul mengatakan, emosi para santri muncul karena sosok NS yang sangat melekat di hati teman-temannya, meskipun hanya tujuh bulan belajar di pondok tersebut.
"Ia orangnya baik, polos, jarang berbicara, tapi saat dia berkata sesuatu membuat orang tertawa," katanya. Ia mengakui selalu memantau keadaan korban setiap saat selama berada di pondok.
"Yang namanya guru terhadap santrinya kadang bisa lebih dari anaknya Pak, bisa lebih besar dari kasih sayang yang diberikan kepada anak sendiri. Yang namanya guru terhadap santri, setiap hari dan setiap malam saya selalu memantau 24 jam," ujar Abdul.
Berita kematian NS pada hari Kamis (19/2/2026) sore memberikan dampak yang sangat berat bagi Abdul dan seluruh penghuni pondok. "Saat saya mendengar bahwa saudara Nizam telah meninggal, saya benar-benar merasa sangat terpukul," katanya.
Abdul berharap kematian santrinya tersebut diteliti secara adil sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.
"Ya, harapan saya, jika memang benar ada penganiayaan atau kematian yang tidak wajar, kami berharap pihak pondok pesantren menjalani hukum sesuai dengan aturan negara kita, Republik Indonesia. Jika bisa, sampai tuntas saja," tambahnya.
Polres Sukabumi telah melakukan pemeriksaan terhadap ibu tiri TR (47). Penyidik juga telah memanggil sejumlah saksi. Namun, hingga saat ini belum ada penunjukan tersangka.
Dalam kasus ini, Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri melakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah NS. Dari hasilnya, ditemukan beberapa luka bakar di tubuh korban. Luka-luka tersebut terdapat pada berbagai bagian anggota tubuh hingga wilayah wajah.
Meskipun mengalami luka bakar, pihak rumah sakit masih belum dapat menentukan secara pasti penyebab terjadinya luka tersebut, apakah disebabkan oleh tindakan kekerasan atau faktor kelalaian.