
Ringkasan Berita:
- Wilayah aman al-Mawasi di selatan Gaza kembali menjadi sasaran serangan Israel meskipun gencatan senjata masih berlaku, mengakibatkan lebih dari 30 warga Palestina tewas.
- Warga pengungsi meragukan makna gencatan senjata karena serangan masih berlangsung di wilayah yang disebut sebagai zona kemanusiaan.
- Turki mengecam tindakan tersebut dengan keras, sementara Hamas menganggap komitmen gencatan senjata tergantung pada ketaatan Israel terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
NEWS.COM - Wilayah aman di Jalur Gaza kembali menjadi target serangan udara Israel yang menyebabkan kematian puluhan warga sipil, meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Salah satu tempat yang terkena dampak adalah kota tenda al-Mawasi di selatan Gaza, wilayah pengungsian yang ditempati oleh puluhan ribu penduduk Palestina.
Al-Mawasi sebelumnya ditetapkan oleh Israel sebagai "zona kemanusiaan yang aman".
Namun, serangan udara terbaru menyerang area tempat tenda pengungsi, menyebabkan kekacauan dan korban jiwa, menurut laporan Al Jazeera.
"Saya sedang melaksanakan salat subuh ketika mendengar suara ledakan," kata Atallah Abu Hadaiyed, seorang pengungsi Palestina di al-Mawasi, seperti dikutip Al Jazeera.
"Kami berlari dan menemukan kerabat saya tergeletak dengan api yang menyala," lanjutnya.
Ia meragukan keberadaan gencatan senjata di tengah serangan yang terus berlangsung.
Warga lainnya, Mounir Hadayed, menyatakan bahwa kematian masih terus menghantui kamp pengungsian itu meskipun telah tercapai perjanjian gencatan senjata yang diawasi oleh Amerika Serikat.
"Setiap hari terjadi pembunuhan," ujar Hadayed kepada Al Jazeera.
"Kami perlahan meninggal di dalam tenda-tenda ini," tambahnya.
Serangan-serangan ini mengakibatkan kematian lebih dari 30 warga Palestina di berbagai daerah Gaza dalam sehari terakhir, menurut laporan Al Jazeera.
Kejadian itu menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025.
Kecaman internasional pun bermunculan.
Kementerian Luar Negeri Turki menyampaikan kecaman tajam terhadap serangan Israel dan mengklaim bahwa Tel Aviv sering kali melanggar perjanjian gencatan senjata, sebagaimana dilaporkan dalam pernyataan resmi pemerintah Turki.
Dalam pernyataannya di platform X, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut serangan tersebut membahayakan usaha global dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di Gaza.
Turki juga menganggap serangan tersebut menunjukkan bahwa Israel tidak memiliki niat untuk mencari perdamaian.
Selain itu, Turki menegaskan bahwa Israel harus mematuhi seluruh ketentuan Rencana Perdamaian yang disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB.
Di sisi lain, perwakilan Hamas kembali membicarakan kondisi gencatan senjata bersama para pihak yang menengahi.
Anggota badan politik Hamas, Khalil al-Hayya, mengkritik pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel, yang disebut terjadi hampir setiap hari, menurut laporan Al Jazeera.
Al-Hayya melakukan diskusi dengan negara-negara penengah dan pihak internasional setelah serangan udara Israel yang menewaskan ratusan warga Palestina di wilayah selatan dan tengah Gaza.
Ia menyebut serangan itu sebagai "kejahatan dan pembunuhan" yang dilakukan dengan alasan palsu.
Menurut kelompok Hamas, komitmen terhadap gencatan senjata hanya bisa dipertahankan apabila Israel diwajibkan memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian yang telah disepakati, menurut laporan Al Jazeera.
(news.com/Andari Wulan Nugrahani)