KALTIM.CO- Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengimbau kepada generasi muda agar tidak perlu merasa cemas terkait pekerjaan.
Karena itu, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Bahkan, Purbaya berani menjamin bahwa pembukaan lapangan kerja terus dilakukan.
Purbaya menekankan bahwa pembukaan kesempatan kerja dilakukan bersamaan dengan giatnya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Artinya teman-teman tidak perlu khawatir. Terlebih bagi kalangan pemuda yang takut mencari pekerjaan, setelah lulus dalam bulan-bulan mendatang, tahun-tahun berikutnya akan lebih banyak kesempatan kerja yang tercipta," ujar Purbaya di Menara Danantara, Jumat (13/2/2026), dilaporkan oleh Kontan.
Purbaya menyatakan bahwa kondisi ekonomi dalam negeri menunjukkan arah perbaikan yang sangat luar biasa, baik pada tingkat masyarakat maupun produsen.
Pemerintah juga mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun 2026 diperkirakan mencapai 5,5 hingga 6 persen.
Purbaya mengatakan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, seluruh pengeluaran pemerintah yang terkait dengan program strategis akan digunakan secara tepat waktu.
Purbaya menjelaskan pihaknya akan menyalurkan dana hingga Rp 62 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga Rp 55 triliun.
Kemudian, dana rehabilitasi dan rekonstruksi bencana sebesar Rp 6 triliun serta paket stimulus ekonomi mencapai Rp 13 triliun.
"Maka pengeluaran kita pada kuartal pertama adalah Rp 89 triliun," ujar Purbaya.
Selain itu, pemerintah terus memastikan iklim investasi yang kondusif dengan menyelaraskan kebijakan bersama Bank Indonesia (BI) guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Maka prospek kita akan lebih baik tahun ini. Kita berusaha mendorongnya ke arah 6%. Dan jika Anda ingin tahu, dalam 10 tahun ke depan tampaknya kita memasuki masa ekspansi yang sehat hingga 2033," katanya.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 7 hingga 8 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, tingkat pertumbuhan sebesar 5% yang selama ini dicapai masih belum memadai untuk menyerap tenaga kerja baru yang terus meningkat setiap tahun.
"Indonesia telah tumbuh sekitar 5% dalam jangka panjang. Ini terlihat baik, beberapa orang mengatakan itu sudah maksimal. Namun menurut saya kita paling tidak harus mencapai pertumbuhan 6,7% hingga 7% agar mampu menyerap tenaga kerja baru yang masuk usia kerja," kata Purbaya.
Ia menekankan, bila Indonesia ingin terlepas dari jerat negara berpenghasilan menengah dan menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi perlu lebih giat.
Bahkan, ia menganggap pertumbuhan sebesar 8% masih dianggap rendah dalam jangka panjang.
Berdasarkan pendapat Purbaya, pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa percepatan pertumbuhan yang tinggi selama jangka panjang merupakan kunci untuk melompat ke status negara maju.
Ia memberikan contoh negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan Tiongkok yang berhasil mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, bahkan dua digit, selama lebih dari satu dekade pada tahap awal pembangunannya.
Purbaya juga merespons target pertumbuhan sebesar 8% yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengakui bahwa target tersebut pernah dianggap ragu oleh sebagian pihak.
Namun menurutnya, angka tersebut justru menjadi persyaratan untuk menuju negara yang berkembang.
"Itu merupakan prasyarat untuk menuju negara yang berkembang. 8% masih kurang, seharusnya harus ditingkatkan hingga 10%. Namun untuk lima tahun ke depan, jika mencapai 8%, sudah cukup," katanya.
Sebagai contoh, pada tahun 2025, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,11 persen.
Angka tersebut dianggap cukup kuat bila dibandingkan dengan negara-negara anggota G20.
Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan laju pertumbuhan terbesar dalam kelompok tersebut.
Namun, Purbaya memperingatkan bahwa pertumbuhan sebesar 5% membuat ekonomi cenderung rentan terhadap ketidakstabilan.
Ia memberikan contoh situasi tekanan ekonomi yang pernah terjadi pada akhir Agustus hingga awal September tahun lalu.
Oleh karena itu, pemerintah akan mendorong lahirnya alat-alat pertumbuhan baru yang didukung oleh generasi muda yang terpelajar dan berkarya.
"Kedepan kita membutuhkan mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh tenaga muda lulusan kampus unggulan yang kompeten," kata Purbaya.(*)