Tradisi Ngaji Kitab Kuning di Pontren Al-Munawar Jarnauziyyah Tasikmalaya -->

Tradisi Ngaji Kitab Kuning di Pontren Al-Munawar Jarnauziyyah Tasikmalaya

24 Feb 2026, Selasa, Februari 24, 2026
Tradisi Ngaji Kitab Kuning di Pontren Al-Munawar Jarnauziyyah Tasikmalaya
Ringkasan Berita:* Setiap santri selalu menantikan bulan Ramadan untuk mengikuti kajian, salah satunya adalah pengajian kitab kuning yang diadakan bersamaan di area Pondok Pesantren Al-Munawar Jarnauziyyah Pusat, Selasa (24/2/2026).
 

Liputan Jurnalis Priangan.com, Jaenal Abidin

PRIANGAN.COM, KOTA  TASIKMALAYA - Setiap santri menantikan bulan Ramadan untuk mengikuti kajian, salah satunya adalah pengajian kitab kuning yang diadakan bersamaan di area Pondok Pesantren Al-Munawar Jarnauziyyah Pusat, pada hari Selasa (24/2/2026).

Pondok pesantren yang terletak di Desa Pasir Bokor, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

Pondok Pesantren ini berdiri sekitar abad ke-19, atau lebih tepatnya pada tahun 1930, yang didirikan oleh KH. Muhammad Jarnauzi dan hingga kini masih mempertahankan ajarannya yaitu membaca kitab kuning bagi setiap santri laki-laki maupun perempuan.

Selanjutnya, ponpes ini memiliki sekitar 63 santri yang tinggal di pondok dengan berbagai jenjang pendidikan mulai dari SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Ketua Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah Pusat Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya Dr. KH. Pepep Puad Muslim menyampaikan, selama bulan ramadan para santri mengikuti kajian kitab dengan berbagai tingkatan setiap hari.

Bahkan kegiatan ini dimulai setelah salat subuh hingga tengah malam, dengan bantuan para guru dari pondok pesantren.

"Selama bulan Ramadan, kegiatan santri dilaksanakan melalui pengajian kitab. Pengajiannya dilakukan setelah sholat Isya dan setelah sholat Tarawih, mulai dari tingkat 1 hingga tingkat 3," katanya saat diwawancara oleh wartawan Priangan.com.

Selain itu, santri yang mengikuti pembelajaran ini dibagi berdasarkan tingkatan serta jenis kelamin, dengan bimbingan guru dari pesantren.

"Kehidupan sehari-hari para santri memang sangat sibuk, mereka mulai belajar mengaji setelah salat subuh, kemudian dilanjutkan dari pagi hingga siang. Setelah itu, mereka melanjutkan kembali pada sore hari hingga pukul 11.30 WIB. Jadi, waktu berbuka puasa dan salat saja terpotong," jelasnya.

Ia mengakui, sistem belajarnya menggunakan kitab kuning dengan beberapa tahap sesuai tingkat para santri.

"Maka untuk malam itu diadakan pengajian kitab kuning dengan sistem logat atau klasik dari fiqih, kitab tasawuf, kitab tauhid serta kajian selama bulan ramadan yang singkat dan harus selesai dalam satu bulan," katanya.

Namun, ia menambahkan bahwa biasanya di luar bulan Ramadan, pembelajaran kitab ini dapat selesai dalam satu tahun dan berlangsung bertahap untuk setiap kitabnya.

"Tapi jika Ramadan itu dengan 600 halaman harus selesai dalam satu bulan, tetapi saya menargetkan pada tanggal 20 Maret kitab tafsir Jalalain dan pelajaran ngajinya harus cepat selesai," kata Dr KH Pepep.

Bahkan rata-rata usia mahasiswa hingga dosen yang melaksanakan pengajian tafsir jalalan

Bahkan mereka yang sudah memiliki anak juga turut serta.

"Jika SMP menggunakan kitab Jurumiah, ada juga Safinah yang tipis, dan tingkatannya yaitu tingkat 2 adalah SMA, tingkat tiga adalah kuliah," kata pria yang menjabat sebagai Rektor Institut Nahdlatul Ulama (INU) Tasikmalaya.

Ditanyakan perbedaan setiap Ramadhan selalu muncul, tetapi fokusnya pada pengajian kitab kuning yang diikuti oleh seluruh santri Ponpes ini.

"Setiap bulan Ramadhan memiliki sistem pengajian yang berbeda, tingkat 3 hanya khusus tafsir, sedangkan tingkat 1 mencakup akhlak dan tasawuf, serta tingkat 2 terdapat sorof," jelasnya.

Kegiatan lain yang dilakukan oleh para santri adalah sistem makan sahur dan berbuka puasa yang dilakukan secara bersamaan dengan menggunakan nampan besar yang sering disebut Ebleg.

Tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun guna memupuk rasa kebersamaan antar santri di pondok pesantren.

"Kita melakukan makan di halaman masjid, baik perempuan maupun laki-laki, namun tempatnya dipisahkan, karena kita ingin mengembalikan masa lalu terkait nilai kebersamaan di pondok pesantren," katanya.

Seperti yang disampaikan, Santriwati ponpes Al-Munawar Jarnauziyyah Pusat, Marlina menyebutkan, bahwa kegiatan selama bulan Ramadan dilakukan dengan mengadakan pengajian kitab yang berlangsung dari pagi hingga malam.

"Di sini sistemnya belajar mengaji setelah salat subuh, kemudian dilanjutkan pukul 8 pagi hingga mendekati waktu dzuhur. Setelah itu dilanjutkan hingga waktu ashar. Di sini biasanya kita beristirahat untuk berbuka puasa dan melaksanakan salat berjamaah. Setelah salat tarawih, kita kembali belajar mengaji hingga pukul 23.30 WIB," ujar Marlina.

Selain kegiatan ngaji, setiap kelas memiliki kitab yang berbeda, misalnya di kelas satu terdapat 8 kitab, kelas dua 4 kitab, kelas tiga 1 kitab tetapi berupa tafsir Al-Quran.

"Biasanya di target hingga 20 Ramadhan harus sudah selesai," kata Marlina.

Ditanya mengenai pengalaman belajar di pondok pesantren, ia menerangkan adanya kegiatan makan bersama menggunakan ebleg (nampan bulat) bersama santri perempuan.

"Untuk menu makanannya beragam, ada telur, daging, dan sayuran yang dicampur dengan nasi putih, terkadang juga ada liwet," tutupnya.

Marlina juga sangat berterima kasih menjadi seorang santri karena dapat mengatur jadwal belajar mengaji serta saling mengenal dengan sesama santri di sini.

"Maka dari itu, kesan yang dirasakan di sini menyenangkan, kita bisa belajar mengelola waktu, disiplin, dan kerja sama," tutupnya. (*)

TerPopuler