Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran Tewas Dalam Serangan Rudal Israel, Ingin Kembangkan Nuklir -->

Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran Tewas Dalam Serangan Rudal Israel, Ingin Kembangkan Nuklir

2 Mar 2026, Senin, Maret 02, 2026
Ahmadinejad, Mantan Presiden Iran Tewas Dalam Serangan Rudal Israel, Ingin Kembangkan Nuklir
Ringkasan Berita:
  • Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan rudal Israel di Teheran pada hari Sabtu (28 Februari 2026).
  • Ahmadinejad menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 2005 hingga 2013 dan terkenal karena gaya hidup sederhananya serta pendirian tegas terhadap negara-negara Barat.
  • Ia dinyatakan tewas bersama para pengawalnya setelah serangan menghancurkan rumahnya di wilayah Narmak.

NEWS.COM, TEHERAN-Presiden ke-6 Iran, Mahmoud Ahmadinejad (69 tahun), meninggal dunia akibat serangan rudal Israel yang menargetkan ibu kota, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026).

Mahmoud Ahmadinejad merupakan presiden Iran yang menjabat antara tahun 2005 hingga 2013. Selama masa jabatannya, Mahmoud Ahmadinejad terkenal sebagai salah satu tokoh yang paling dekat dengan rakyat.

Ahmadinejad sering digambarkan memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, bahkan pernah dilaporkan memakai jas yang rusak.

Profil Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran.

Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, merupakan seorang tukang las. Ketika keluarganya pindah dari Aradan ke Teheran pada tahun 1957, Ahmad mengganti nama keluarganya menjadi Ahmadinejad.

Ahmadinejad menghabiskan masa kecil dan masa remajanya di Teheran, setelah itu melanjutkan studi tingginya dengan menempuh jurusan teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada tahun 1976.

Sebagai seorang mahasiswa, Ahmadinejad merupakan salah satu pemuda yang giat dalam berorganisasi. Ia bahkan menjadi salah satu tokoh yang menggerakkan aksi protes selama berlangsungnya Revolusi Iran pada tahun 1978-1979.

Ahmadinejad juga ikut serta dalam kelompok milisi yang didirikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, Korps Garda Revolusi Islam Iran. Ia bahkan turut serta dalam Perang Irak Iran (1980-1988).

Setelah selesai menjalani tugasnya dalam kelompok milisi, pada tahun 1986, Ahmadinejad melanjutkan studinya di IUST dan memperoleh gelar doktor dalam bidang teknik serta perencanaan transportasi.

Pada tahun 1989, ia bergabung dengan IUST dan menjadi salah satu dosen di kampus tersebut.

Terjun ke Politik 

Ahmadinejad memulai kariernya di pemerintahan setelah diangkat sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, yang terletak di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada tahun 1993, ia ditunjuk sebagai penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi.

Ahmadinejad selanjutnya ditunjuk sebagai gubernur Provinsi Ardabil, yang baru saja dibentuk. Ia menjabat hingga tahun 1997, kemudian kembali menjadi dosen di IUST.

Ahmadinejad berperan dalam mendirikan Partai Pengembang Islam Iran yang menawarkan agenda populis dan bertujuan menyatukan faksi-faksi konservatif. Partai tersebut berhasil memenangkan pemilihan dewan kota di Teheran pada Februari 2003.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Pada bulan Mei berikutnya, dewan kota menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama masa jabatannya sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad mendapat pujian karena dianggap berhasil mengatasi masalah lalu lintas serta mampu menekan harga. 2. Di bulan Mei, dewan kota menetapkan Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama ia menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dinilai berhasil dalam menangani permasalahan lalu lintas dan mengendalikan harga. 3. Pada bulan Mei, dewan kota memilih Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama masa pemerintahannya sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad diapresiasi karena mampu mengatasi kesulitan lalu lintas serta menurunkan harga. 4. Tidak lama setelah itu, pada bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad mendapatkan apresiasi karena berhasil menyelesaikan masalah lalu lintas dan mengendalikan harga. 5. Dalam bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama masa jabatannya sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad diakui telah berhasil mengatasi permasalahan lalu lintas serta menekan biaya.

Berkat bakat dan kemampuan berpolitiknya, Ahmadinejad dengan cepat mendapatkan banyak dukungan. Beberapa kebijakan yang diambilnya saat menjabat sebagai wali kota antara lain menutup restoran makanan cepat saji ala Barat serta menutup papan iklan yang mengandung referensi Barat.

Ia juga menyarankan pemisahan lift berdasarkan jenis kelamin, serta mengubah fungsi pusat budaya menjadi ruang ibadah selama bulan Ramadhan.

Selain itu, ia memerintahkan para pegawai pemerintahan kota untuk merawat jenggot dan mengenakan baju lengan panjang.

Menjadi Presiden Iran 

Pada tahun 2005, Ahmadinejad mengikuti pemilihan presiden dengan dukungan penuh dari tokoh-tokoh konservatif. Ia mengambil pendekatan yang dekat dengan rakyat dan berjanji untuk menangani kemiskinan serta ketidakadilan sosial di Iran, serta membersihkan korupsi.

Ahmadinejad merupakan satu-satunya calon presiden yang secara terbuka menolak penguatan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ahmadinejad menggambarkan dirinya sebagai kandidat presiden yang sederhana dan dekat dengan rakyat.

Sementara lawannya, mantan presiden Iran yang menjabat dari tahun 1989 hingga 1997, Hashemi Rafsanjani, digambarkan sebagai seorang politisi yang korup. Akhirnya, Ahmadinejad memenangkan pemilihan dengan hasil yang sangat meyakinkan dan mendapatkan 17 juta suara dari total 27 juta suara.

Ia dilantik sebagai presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai kepala negara, Ahmadinejad tetap memperlihatkan dirinya sebagai presiden yang dekat dengan rakyat.

Ia lebih suka tinggal di rumahnya sendiri daripada di istana presiden, hingga akhirnya setuju pindah setelah didesak oleh para penasihat keamanan.

Setelah menginjak istana presiden, ia memerintahkan untuk mengeluarkan seluruh peralatan dan karpet mahal yang ada serta menggantinya dengan yang lebih terjangkau.

Ahmadinejad juga menolak menggunakan kursi khusus di pesawat presiden dan lebih memilih menggunakan pesawat kargo.

Ia juga memakai bahasa sehari-hari dalam pidato dan presentasi resminya.

Meskipun memperoleh dukungan dari berbagai pihak, khususnya rakyat yang menganggap Presiden Ahmadinejad sebagai bagian dari mereka, langkah-langkah perubahan tersebut dikritik oleh kalangan elit politik Iran.

Dalam pandangan internasional, Presiden Ahmadinejad terkenal dengan pendiriannya yang tegas mengenai hak Iran dalam mengembangkan program nuklirnya, yang menyebabkan meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Kembangkan Nuklir 

Di hadapan PBB pada 2005, Ahmadinejad menyampaikan keinginan Iran dalam mengembangkan teknologi nuklir yang disebutnya memiliki tujuan damai.

Pada bulan April 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah memulai produksi bahan bakar nuklir secara skala industri, yang akhirnya menyebabkan pemberlakuan sanksi internasional. Pada bulan Maret 2008, Ahmadinejad menjadi presiden pertama Iran yang berkunjung ke Irak sejak terjadinya Revolusi Iran.

Hubungan Tehran selama masa pemerintahan Ahmadinejad dengan Washington mengalami peningkatan setelah Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Ahmadinejad bahkan mengucapkan selamat kepada Obama. Dalam bidang ekonomi, Iran mengalami kenaikan inflasi hingga 10 persen selama periode pemerintahannya yang pertama, yang disebabkan oleh kebijakan ekonominya. Belum lagi adanya sanksi internasional yang menyulitkan masuknya investasi asing.

Kondisi ekonomi ini menjadi sorotan utama dan topik penting menjelang pemilihan presiden Iran pada tahun 2009. Meskipun dalam sejarah tidak pernah ada presiden Iran yang gagal meraih masa jabatan kedua, beberapa analis menganggap kebijakan ekonomi serta gaya kepemimpinan Ahmadinejad telah membuat posisinya rentan terhadap kritik.

Banyak analis menganggap Ahmadinejad mungkin akan kalah dari salah satu lawannya, yang paling kuat adalah Mir Hossein Mousavi yang didukung oleh kelompok moderat di Iran.

Namun pada akhir masa pemungutan suara pada 12 Juni, Ahmadinejad berhasil memperoleh kemenangan langsung di putaran pertama dengan lebih dari 60 persen suara.

Hasil pemilihan umum sempat memicu protes, khususnya dari pendukung Mousavi yang mengklaim ada ketidakwajaran dalam proses pemungutan suara. Demonstrasi dilakukan oleh warga di jalanan.

Tokoh paling tinggi di Iran yang awalnya mendukung hasil pemilu juga meminta dilakukannya penyelidikan resmi terkait pelaksanaan pemilihan. Meskipun demikian, pada 3 Agustus 2009, Ayatollah Ali Khamenei secara resmi mengumumkan Ahmadinejad sebagai presiden.

Pengukuhan tersebut tidak dihadiri oleh beberapa tokoh politik oposisi, seperti mantan presiden Mohammad Khatami dan Akbar Hashemi, serta Mir Hossein Mousavi.

Akhir Masa Jabatan 

Pada tahun 2011, terjadi perselisihan antara Ahmadinejad dengan Khamenei, yang diperkirakan disebabkan oleh pemecatan seorang menteri intelijen yang merupakan pendukung dekat Khamenei. Perselisihan ini berkembang menjadi persaingan mendapatkan dukungan dari rakyat antara Ahmadinejad dan Khamenei.

Pada bulan Maret 2012, ia dipanggil oleh lembaga legislatif Iran yang menanyakan kebijakannya serta perselisihannya dengan pemimpin tertinggi.

Pemanggilan presiden yang sedang menjabat oleh Majelis Iran terjadi untuk pertama kalinya, memicu spekulasi mengenai menurunnya dukungan politik terhadap Ahmadinejad.

Penurunan dukungan terhadap Ahmadinejad juga terjadi dalam pemilihan legislatif, sehingga masa jabatannya berakhir pada Agustus 2013 dan digantikan oleh Hassan Rouhani.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad kembali tinggal di rumah pribadinya di Narmak. Pada tahun 2017, Ahmadinejad pernah dilaporkan akan kembali bertarung dalam pemilihan presiden Iran, tetapi kemudian dinyatakan tidak lolos.

Ia dilaporkan ditangkap oleh otoritas Iran pada Januari 2018 karena dianggap memicu aksi protes dan demonstrasi melalui pernyataannya. Ia diberitakan menjadi tahanan rumah berdasarkan persetujuan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Tewas Bersama Pengawal

Media Iran melaporkan bahwa Ahmadinejad gugur dalam serangan udara bersama antara Israel dan AS pada Sabtu (28/2/2026) malam.

Lembaga berita ILNA melaporkan serangan itu menyerang rumahnya di wilayah Narmak, sebelah timur laut Teheran.

Media yang mendukung pemerintah Iran menyatakan bahwa Ahmadinejad (69) meninggal bersama dengan pengawalnya.

Laporan internasional yang dirujuk dari media Israel menyebutkan serangan di wilayah tersebut kemungkinan terjadi pada malam Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ahmadinejad terkenal sebagai salah satu tokoh yang paling aktif dalam menentang Israel dan negara-negara Barat selama menjabat sebagai Presiden Iran.

Lembaga berita keamanan Mashreq News melaporkan, para pengawal Mahmoud Ahmadinejad yang gugur adalah Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi.

"Mereka meninggal dalam serangan yang mengarahkan ke kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di bagian timur Teheran," demikian laporan tersebut.

Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa sebuah rudal jatuh di wilayah Narmak di sisi timur Teheran, dekat tempat tinggal Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi kejadian.(news/ Bekasi/Kompas.com)

TerPopuler