Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Warga Negara Indonesia: Video Viral WNI Bulukumba Kritik Pemerintah -->

Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Warga Negara Indonesia: Video Viral WNI Bulukumba Kritik Pemerintah

14 Mar 2026, Sabtu, Maret 14, 2026
Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Warga Negara Indonesia: Video Viral WNI Bulukumba Kritik Pemerintah

Warta Bulukumba- Lampu-lampu kota Teheran mulai menyala saat malam perlahan turun di atas atap-atap beton yang padat. Seorang pria asal Indonesia menyalakan kameranya. Suaranya terdengar tenang, namun tersembunyi kecemasan yang tak bisa ditutupi.

“Assalamualaikum, Bapak Presiden Prabowo yang saya hargai…,” ujarnya membuka rekaman tersebut.

Suara tersebut berasal dari Ismail Amin Pasannai, seorang warga negara Indonesia yang berasal dari Bulukumba, Sulawesi Selatan. Beberapa detik setelah pembukaan, ia menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi kutipan paling sering dibagikan di media sosial.

Jujur Pak, baru kali ini saya merasa malu sebagai warga Indonesia di Iran, Pak.

Kalimat tersebut diucapkan tanpa nada kesal. Namun justru karena diucapkan dengan tenang, terasa lebih berat.

Video itu segera menyebar. Kalimat-kalimatnya diputar ulang di berbagai media. Banyak orang terpaku pada satu pertanyaan sederhana: mengapa seseorang WNI yang tinggal di luar negeri merasa malu menjadi orang Indonesia?

Saya selalu dihargai sebagai warga negara Indonesia

Di dalam rekaman tersebut, Ismail menerangkan bahwa selama tinggal di Iran, statusnya sebagai warga Indonesia justru sering mendatangkan penghormatan.

"Saya sangat dihormati di Iran karena status saya sebagai WNI, Tuan," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak warga Iran memiliki pandangan yang baik terhadap Indonesia. Bagi sebagian masyarakat di sana, Indonesia dikenal sebagai negara yang berani menyuarakan pendirian untuk bangsa-bangsa yang tertindas.

Indonesia diingat oleh orang-orang Iran sebagai negara yang paling berkomitmen dalam melindungi negara-negara yang tertindas. Melindungi Palestina, serta berani menghadapi dominasi Barat.

Ismail juga menyatakan bahwa dalam percakapan sehari-hari, istilah Indonesia sering dikaitkan dengan peristiwa politik dunia.

Mereka selalu mengira bahwa semua presiden Indonesia sama dengan Sukarno.

Pernyataan tersebut mengacu pada citra diplomasi Indonesia selama masa Presiden Soekarno, khususnya setelah Konferensi Asia Afrika 1955 yang memunculkan semangat persatuan antara negara-negara berkembang dan menjadi dasar terbentuknya Gerakan Non-Blok.

Di berbagai literatur hubungan internasional, termasuk kajian akademis yang sering dikutip oleh peneliti Asia-Afrika, Indonesia memang diakui sebagai salah satu penggerak diplomasi negara-negara berkembang pada masa itu.

Namun menurut Ismail, gambaran tersebut kini mulai dipertanyakan.

Sekarang, di mana posisi Indonesia?

Suara Ismail sedikit berubah saat ia mulai membahas konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.

"Tetapi sekarang, di mana posisi Indonesia ketika Iran berperang melawan 'Israel' dan Amerika?" katanya.

Ia menyampaikan kekhawatiran karena merasa sikap Indonesia tidak lagi terlihat tegas di mata masyarakat Iran.

Tahukah Anda, Pak? Dengan duta besar Iran, mereka lebih memilih berkonsultasi dengan Pak JK daripada kepada Anda atau menteri Anda. Itu tanda bahwa Iran mulai tidak percaya kepada Anda.

Ismail juga menyampaikan bagaimana ia memandang perubahan persepsi terhadap kepemimpinan Indonesia.

Anda kini dianggap sebagai orangnya Trump, bukan lagi orang yang netral dan tidak memihak.

Pernyataan tersebut tentu bukan pernyataan resmi dari diplomasi internasional, melainkan pendapat pribadi yang ia alami selama berada di Iran. Namun, karena disampaikan langsung dari lokasi konflik geopolitik yang rentan, kalimat tersebut memicu perdebatan yang luas di Indonesia.

Kritik terhadap sikap Indonesia

Di bagian lain dari videonya, Ismail menanyakan mengapa Indonesia dinilai belum cukup keras dalam menanggapi konflik.

Belum lagi, saya belum mendengar Anda mengutuk serangan ilegal 'Israel' dan Amerika terhadap Iran.

Ia juga menyebutkan pernyataan belasungkawa yang menurutnya datang terlambat.

Anda juga baru saja mengeluarkan pernyataan belasungkawa atas kematian pemimpin tertinggi Iran. Hal ini terjadi setelah Duta Besar Iran bertemu dengan Pak JK dan menerima surat duka dari Ibu Megawati. Mengapa setelah itu, Pak?

Ismail selanjutnya memberikan kritik yang lebih tajam.

Apakah hanya karena keduanya adalah teman Anda?

Kalimat tersebut diikuti oleh pernyataan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap diskusi mediasi yang pernah disampaikan pemerintah Indonesia.

Iran tidak meminta untuk diantara, Pak. Iran menuntut kecaman terhadap serangan ilegal Amerika dan 'Israel'.

Diplomasi Indonesia selalu dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati

Pernyataan Ismail menyebar luas di media karena menyentuh topik yang sensitif: posisi Indonesia dalam persaingan global.

Selama beberapa dekade, Indonesia menerapkan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif. Prinsip ini pertama kali diajukan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tahun 1948. Maknanya sederhana namun rumit dalam penerapan: Indonesia tidak memihak kepada kelompok kekuatan tertentu, tetapi tetap berperan aktif dalam menjaga perdamaian global.

Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam berbagai pernyataan yang dilaporkan oleh media nasional menyatakan bahwa Indonesia senantiasa mendukung penyelesaian sengketa melalui jalur diplomatik dan hukum internasional. Pendekatan ini sering membuat Indonesia memilih bahasa diplomatik yang lebih hati-hati dibandingkan negara lain.

Namun bagi sebagian anggota diaspora yang tinggal langsung di kawasan sengketa, pendekatan tersebut terkadang terasa jauh dari perasaan masyarakat setempat.

Video Ismail tidak hanya menyebar secara viral karena kritik yang disampaikannya. Ia juga menunjukkan bagaimana komunitas Indonesia di luar negeri memandang dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Tinggal di negara lain membuat seseorang terlibat langsung dengan narasi setempat yang sering kali berbeda dari narasi yang ada di dalam negeri.

Di dalam videonya, Ismail juga menyebutkan tanggapan masyarakat Iran terhadap peristiwa konflik yang sedang berlangsung.

Iran selalu tegas dan jelas. Iran tidak pernah ingin memulai konflik. Namun, jika diserang, Iran akan merespons.

Ia juga meragukan narasi yang sedang berkembang di tingkat internasional.

Amerika terus menciptakan narasi bahwa Iran adalah sumber ketidakstabilan di Timur Tengah. Padahal siapa yang melakukan serangan terhadap banyak negara di kawasan secara ilegal?

Pernyataan itu merupakan pendapat pribadi yang dia sampaikan berdasarkan pengalamannya hidup di Iran. Namun justru karena disampaikan dengan bahasa yang tulus dan penuh perasaan, video tersebut menggugah banyak orang.

Di akhir rekamannya, Ismail tidak mengakhiri dengan rasa marah. Ia justru mengulangi kembali perasaan yang telah ia sampaikan sejak awal.

Jujur Pak, baru kali ini saya merasa malu sebagai warga Indonesia di Iran.

Kalimat tersebut kini menyebar secara luas di media sosial, diambil oleh banyak orang dengan makna yang berbeda-beda.

Beberapa orang memandangnya sebagai kritik tajam terhadap diplomasi Indonesia. Sebagian yang lain melihatnya sebagai ekspresi perasaan seorang warga negara yang jauh dari tanah air.

Namun dalam tengah perdebatan tersebut, satu hal terlihat jelas: identitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintahnya, tetapi juga oleh bagaimana penduduknya dilihat di dunia.

Dan pada malam tertentu di Teheran, seorang pria asal Bulukumba mengingatkan bahwa reputasi suatu negara seringkali terasa paling jelas melalui pandangan warga yang tinggal jauh dari tanah airnya.

TerPopuler