bengkalispos.com, JAKARTA — Perluasan areal perkebunan kelapasawittingkat industri di Indonesia tercatat mengalami penurunan pada tahun 2025. Namun,deforestasiyang berkaitan dengan ekspansi tersebut tidak menunjukkan penurunan secara nasional. Di sisi lain, konversi hutan menjadi lahan kelapa sawit di Papua justru meningkat dua kali lipat dan menjadi yang terbesar sejak 2018.
Analisisterbaru TreeMap, perusahaan geospasial asal Prancis, melalui platform Nusantara Atlas yang menggunakan data citra satelit Sentinel-2 dan Planet mencatat peningkatan luas areal kelapa sawit industri sebesar 101.120 hektare pada 2025, mengalami penurunan 18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, luasnya deforestasi yang terkait dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit relatif tetap, yaitu sebesar 31.073 hektare pada tahun 2025. Angka ini sedikit lebih besar dibandingkan 30.956 hektare pada tahun 2024.

Secara regional, penyebaran kebun dan deforestasi yang berkaitan dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit tercatat mengalami penurunan di Kalimantan dan Sumatra. Sebaliknya, tren peningkatan terjadi di Papua dan secara lebih kecil juga terlihat di Sulawesi.
Di Papua, deforestasi yang disebabkan oleh perluasan perkebunan kelapa sawit mencapai 7.333 hektar pada tahun 2025, meningkat dari 3.510 hektar pada tahun 2024. Angka ini merupakan yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir.
"Pola ini menunjukkan pergeseran ekspansi kelapa sawit ke arah timur, dari Sumatra dan Kalimantan menuju Papua yang lahan terbatas," tulis TreeMap dalam laporan yang diterbitkan awal Maret 2026.
Sementara itu, konversi lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit industri mengalami penurunan sebesar 35% menjadi 7.593 hektar pada tahun 2025, dibandingkan dengan 11.686 hektar pada tahun sebelumnya.

Di tingkat konsesi, terdapat 65 konsesi kelapa sawit yang melakukan penebangan hutan pada tahun 2025, dengan 28 di antaranya terlibat dalam konversi lahan gambut. Namun, angka ini dinilai belum mewakili seluruh konsesi yang terlibat, mengingat luas area hutan yang ditebang di dalam konsesi yang teridentifikasi mencapai 21.823 hektar. Angka ini sekitar dua pertiga dari total 31.073 hektar deforestasi yang terjadi untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit tahun lalu.
Berdasarkan pengelompokan tingkat perusahaan, TreeMap menunjukkan bahwa kelompok usaha yang terkait dengan keluarga Fangiono menjadi penyumbang terbesar deforestasi yang berkaitan dengan kelapa sawit pada tahun 2025, untuk ketiga kalinya secara berurutan.
Melalui jaringan perusahaan yang dimilikinya, termasuk Ciliandry Anky Abadi (CAA), New Borneo Agri/Sulaidy, dan FNG Bona Nusantara, kelompok ini dikaitkan dengan konversi hutan seluas sekitar 7.800 hektar. Sekitar 80% atau sekitar 6.179 hektar terjadi di wilayah Papua.
Keluarga Fangiono juga memiliki First Resources, perusahaan penghasil kelapa sawit yang bermarkas di Singapura dan menjual minyak kelapa sawit bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Sejak tahun 2021, beberapa organisasi masyarakat sipil telah mengajukan keluhan kepada RSPO terkait dugaan keterlibatan yang tidak diungkap dari perusahaan-perusahaan tersebut. Pada tahun 2025, Sekretariat RSPO menyatakan bahwa First Resources tidak melanggar aturan keanggotaan dan menolak tuduhan tersebut.
"Keputusan ini mendapat kritik dari organisasi lingkungan yang menganggap keputusan tersebut berpotensi menjadi contoh buruk karena bisa memberi ruang bagi perusahaan untuk tetap mempertahankan sertifikasi sambil melakukan penebangan hutan," tulis TreeMap.