
-MEDAN.com- Pakistan dan Afghanistan sepakat untuk menghentikan sementara pertarungan selama perayaan Idul Fitri, setelah serangan terburuk dalam konflik terbaru di Kabul menewaskan ratusan orang pada awal pekan ini.
Pemerintah di Islamabad dan Kabul mengumumkan keputusan tersebut melalui pernyataan terpisah pada hari Rabu (18 Maret 2026).
Saudi Arabia, Qatar, dan Turki dikabarkan meminta kedua negara berhenti bertempur menjelang akhir Ramadhan, dengan permintaan tersebut disetujui oleh keduanya.
Tegangan antara Pakistan dan Afghanistan memburuk sejak bulan lalu akibat meningkatnya intensitas serangan lintas batas.
Pakistan menuduh pihak Taliban melindungi kelompok ekstremis yang bertanggung jawab atas kekerasan di wilayahnya, namun tuduhan ini ditolak oleh Afghanistan.
Serangan terbaru terjadi pada hari Senin (16/3/2026) malam ketika pesawat tempur Pakistan meluncurkan serangan ke pusat rehabilitasi narkoba di Kabul.
Serangan ini memicu permintaan baru dari berbagai pihak untuk segera mengakhiri konflik dan memulai pembicaraan perdamaian.
Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengumumkan bahwa pemerintahnya akan menghentikan operasi militer selama 5 hari, mulai Kamis (19/3/2026) hingga Senin (23/3/2026).
Ia menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil dengan niat yang tulus dan sesuai dengan aturan-aturan agama.
Tarar juga memberi peringatan bahwa operasi militer bisa dilanjutkan kembali jika terjadi serangan baru.
"Jika terjadi serangan lintas batas, serangan drone, atau kejadian teror apa pun di dalam Pakistan, (operasi) akan segera dilanjutkan dengan intensitas yang lebih tinggi," ujar Tarar, seperti dikutip dari kantor berita AFP.
Di sisi lain, perwakilan pemerintah Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan bahwa Afghanistan tetap akan menjaga kedaulatannya.
Ia menyatakan bahwa melindungi Afghanistan adalah tanggung jawab nasional, serta akan menanggapi setiap ancaman atau serangan.
Situasi di Kabul Memprihatinkan
Di tengah gencatan senjata sementara, kondisi kemanusiaan di Kabul masih memperihatinkan.
Pihak Taliban melaporkan sekitar 400 orang meninggal dan lebih dari 200 lainnya cedera akibat serangan yang terjadi awal pekan ini.
Upacara pemakaman massal diadakan pada 18 Maret untuk beberapa korban yang telah diketahui identitasnya.
Anggota Palang Merah Afghanistan terlihat mengangkut ratusan peti mati kayu sederhana dari ambulans ke tempat pemakaman di Kabul.
Lokasi makam massal ditemukan di lereng bukit yang berbatu dengan menggunakan alat berat di tengah hujan deras.
Menteri Dalam Negeri Taliban Sirajuddin Haqqani menyebut para korban sebagai penduduk sipil yang tidak bersalah.
"Kami pasti akan mempertanyakan mereka," kata Haqqani.
Ia juga memberi peringatan kepada pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
"Kami bukanlah orang yang lemah dan tidak berdaya. Kalian akan menghadapi akibat dari perbuatan kalian," ujarnya.
Namun, Haqqani menegaskan bahwa pemerintah Taliban tetap memprioritaskan jalur diplomasi.
"Kami tidak menginginkan konflik, namun keadaannya telah sampai pada titik ini," katanya.
"Maka, kami berusaha menyelesaikan masalah melalui perundingan," tambah Haqqani.
Konflik Pakistan-Afghanistan yang berlangsung terus-menerus menimbulkan kekhawatiran internasional mengenai bertambahnya korban sipil dan pengungsi.
PBB sebelumnya mengungkapkan bahwa setidaknya 76 penduduk sipil Afghanistan meninggal sejak 26 Februari.
Lebih dari 115.000 individu juga harus meninggalkan tempat tinggal mereka karena pertempuran.
Usaha perdamaian internasional hingga saat ini belum memberikan hasil yang nyata.
Negara-negara Teluk yang sebelumnya aktif dalam mediasi kini beralih perhatian pada situasi regional mereka sendiri setelah ketegangan antara AS-Israel dengan Iran memburuk.
Tiongkok telah mengirim utusan khusus dan menyatakan siap berperan positif dalam menenangkan ketegangan.
Rusia juga menunjukkan kemampuan untuk mendukung proses penengahan.
Wakil khusus Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, menyatakan bahwa Moskow akan terlibat jika diminta oleh kedua belah pihak.
"Sejauh ini, hal tersebut belum terjadi," katanya kepada media Izvestia.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com