Idulfitri di Tengah Perang, Warga Lebanon dan Gaza Berjuang Bertahan Hidup -->

Idulfitri di Tengah Perang, Warga Lebanon dan Gaza Berjuang Bertahan Hidup

21 Mar 2026, Sabtu, Maret 21, 2026

bengkalispos.com,JAKARTA — Perayaan Lebaran di beberapa negara diTimur Tengahberlangsung di bawah bayang-bayang perselisihan yang belum reda.

Kebahagiaan yang seharusnya menyertai perayaan Idulfitri tidak terlihat banyak, khususnya di negara-negara yang mengalami konflik. Di Lebanon,Gaza,hingga ke Iran, penduduk mengalami krisis ekonomi, kerusakan hingga kehilangan tempat tinggal akibat konflik, sehingga sulit merayakan hari raya dengan cara biasa.

Di Beirut, Lebanon, seorang pengungsi Suriah bernama Allah menyatakan bahwa kini ia tidak memiliki tempat tinggal setelah rumahnya di Dahiyeh hancur akibat serangan dari Israel.

Alaa menyatakan bahwa dirinya telah menghabiskan hari dengan berkeliling ibu kota Lebanon mencari tempat yang aman. SeranganIsraelBanyak daerah di Lebanon melaporkan kematian lebih dari 1.000 orang.

Sekarang, yang terpikir olehnya hanya mencari tempat yang aman. Perayaan Idulfitri yang dimulai pada Jumat bahkan tidak terlintas dalam pikirannya. Alaa mengakui tidak memiliki rencana apa pun untuk merayakan Idulfitri tahun ini. Fokusnya hanya pada mendapatkan sebuah tenda.

"Saya tidak diperbolehkan tinggal di sekolah, lalu saya tidur di tepi sungai. Selanjutnya petugas pemerintah kota meminta saya datang ke pinggir laut pusat kota Beirut," kata Alaa dilaporkan oleh Al Jazeera, Sabtu (21/3/2026).

Alaa belum berhasil memperoleh tenda dan sementara ini harus tidur di luar ruangan. Namun, beberapa orang di wilayah tersebut telah membangun tenda, mengubah pusat kota yang biasanya penuh dengan restoran dan bar mewah menjadi area pengungsian bagi penduduk yang terkena dampak konflik.

Di seluruh Lebanon, lebih dari satu juta penduduk dilaporkan telah meninggalkan tempat tinggalnya. Penduduk Lebanon juga tidak tahu kapan perang akan selesai, terutama karena mereka belum sepenuhnya pulih dari konflik dengan Israel yang berlangsung antara Oktober 2023 hingga November 2024.

Keadaan ini menyulitkan perayaan hari raya, situasi yang juga dirasakan oleh negara-negara lain yang terkena dampak konflik saat ini.

Iran

Sementara itu, di Iran, yang telah memasuki minggu ketiga serangan Amerika Serikat danIsrael, masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin meningkat.

Selain perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, krisis ekonomi yang telah terjadi lebih dulu menyebabkan banyak warga kesulitan dalam membeli kebutuhan yang biasanya dibeli pada masa liburan.

Berbelanja di tempat yang ramai seperti Grand Bazaar Teheran dianggap berisiko karena sebagian area tersebut mengalami kerusakan akibat serangan bom.

Aspek keagamaan Idulfitri juga menimbulkan ketegangan tertentu bagi sebagian warga Iran yang tidak setuju dengan pemerintah. Beberapa di antaranya melihat ekspresi keagamaan sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam Iran.

Tahun ini, perayaan Nowruz atau Tahun Baru Persia jatuh pada hari Jumat, sehingga beberapa kelompok oposisi lebih memilih merayakan Nowruz dan menghindari kegiatan yang berkaitan dengan Idulfitri.

Gaza

Di sisi lain, di Jalur Gaza, banyak penduduk Palestina masih ingin merayakan Idulfitri. Namun kondisi ekonomi yang memburuk akibat perang Israel membuat hal itu menjadi sulit dilakukan.

Pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap masuknya barang ke Gaza—yang semakin ketat sejak perang dengan Iran dimulai—telah menyebabkan kenaikan harga berbagai kebutuhan, termasuk mainan anak-anak.

Khaled Deeb (62), penduduk Gaza City yang tinggal di rumahnya yang rusak sebagian, mengungkapkan bahwa ia datang ke pasar Remal untuk memeriksa harga buah dan sayur menjelang Idulfitri.

Dari luar, suasana Lebaran terlihat penuh kegembiraan dan riang," ujar Khaled sambil menunjuk pasar yang ramai pengunjung. "Namun dari segi ekonomi, keadaannya sangat memprihatinkan. Banyak orang meninggalkan rumah mereka dan kini tinggal di tenda pengungsian. Semua orang kehilangan segalanya selama konflik.

Khaled mengakui tidak mampu membeli buah dan sayuran itu serta harus melewati Idulfitri tanpa barang tersebut. Menurutnya, hanya "raja" yang bisa membeli kebutuhan itu, bukan "orang miskin dan lelah" seperti dirinya.

Keadaan tersebut semakin sulit karena ia masih mengingat kehidupannya sebelum perang, ketika dirinya memiliki toko swalayan.

"Pada hari raya Idulfitri, saya biasanya memberikan hadiah kepada putri dan kerabat perempuan saya dengan jumlah lebih dari 3.000 shekel (sekitar US$950) saat berkunjung, belum termasuk persiapan rumah, pembelian pakaian baru untuk anak-anak, serta permen dan cokelat untuk menyambut perayaan," katanya.

Namun, hal tersebut tidak akan terjadi pada Hari Raya Idul Fitri tahun ini, meskipun terdapat gencatan senjata di Gaza.

Perasaan yang sama diungkapkan oleh Shireen Shreim, seorang ibu yang memiliki tiga anak. Ia mengatakan, kegembiraan Hari Raya Idulfitri saat ini terasa tidak utuh.

"Kami baru saja selesai melewati dua tahun perang dengan tantangan berat, dan kini harus menghadapi kehidupan di mana bahkan kebutuhan paling mendasar pun sulit diperoleh," katanya.

Karena Israel dianggap belum menunjukkan indikasi akan menghentikan serangan terhadap penduduk Palestina maupun negara lain di kawasan, Shireen mengatakan ia tidak tahu kapan Gaza benar-benar akan direkonstruksi.

Shireen mengatakan bahwa ia tinggal di sebuah apartemen yang dindingnya hampir seluruhnya rusak. Ia dan suaminya menutup celah-celah tersebut menggunakan terpal dan kayu.

"Kami masih lebih beruntung dibandingkan yang lain. Setiap kali kembali ke rumah, saya merasa sedih. Orang-orang tinggal di tenda dari nilon dan kain di jalanan tanpa tempat tinggal yang layak. Bagaimana mereka bisa merayakan Idulfitri?" lanjutnya.

TerPopuler