BATAM.id - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran semakin meningkat.
Pemicunya terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan bersama di beberapa wilayah Iran, pada Sabtu (28/2/2026).
Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menjadi korban serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Kemudian, Iran melakukan serangan balasan terhadap beberapa wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat.
Iran pernah mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Informasi terkini, Iran telah memiliki data intelijen yang sangat akurat mengenai posisi Netanyahu.
Konsultan senior pemimpin tertinggi Iran, Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi mengonfirmasi informasi yang diperoleh dari intelijen.
Safavi mengatakan Iran memahami secara tepat lokasi di mana Netanyahu mengadakan pertemuan-pertemuannya.
Hal ini disampaikan Safavi dalam wawancara televisi, pada Selasa (3/3/2026).
Selain itu, Safavi menyampaikan bahwa serangan udara Amerika Serikat-Israel tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertahanan Iran.
Safavi kemudian menganggap Netanyahu sebagai orang yang salah paham dan menerima data yang tidak akurat.
Netanyahu menyampaikan data yang tidak benar dan perkiraan yang salah.
"Ia mengira Iran melemah setelah 'Perang 12 Hari', padahal kenyataannya kami sekarang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya," kata Safavi sebagaimana dilaporkan oleh WANA.
Safavi menyatakan bahwa di balik meja diplomasi dan ajakan perdamaian, Teheran secara diam-diam terus menggerakkan mesin perangnya.
Ia menyatakan bahwa kekuatan ofensif Iran, khususnya dalam teknologi rudal dan drone, telah meningkat secara signifikan hingga sepuluh kali lipat.
Jangkauan pengintaian Iran dikatakan telah menyebar hingga ke wilayah lawan.
Menurutnya, Kementerian Intelijen Iran kini mengendalikan sepenuhnya titik-titik penting musuh.
Kami memiliki informasi lengkap mengenai target-target musuh di sekitar Iran, termasuk sasaran yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Israel.
Kami juga memahami secara tepat lokasi pertemuan Netanyahu.
"Database intelijen kami telah sempurna," tegas jenderal bintang dua itu.
Pernyataan ini muncul di tengah reruntuhan akibat serangan udara Israel dan AS yang menyerang beberapa lokasi di Teheran pada awal Maret 2026.
Sebaliknya, Iran tampaknya ingin membuktikan kepada dunia bahwa sistem pertahanan dan jaringan intelijen mereka tetap kuat meskipun menghadapi serangan berkelanjutan.
Netanyahu Percaya Perang dengan Iran Akan Berlangsung Singkat
Di sisi lain, Netanyahu menyatakan bahwa konflik militer antara AS dan Israel terhadap Iran tidak akan menjadi "perang yang berkepanjangan".
Meski mengakui diperlukan waktu, Netanyahu yakin perselisihan ini akan selesai dalam waktu dekat tanpa harus membawa kawasan ke dalam perang yang berlangsung bertahun-tahun.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, setelah serangan udara besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada hari Sabtu lalu.
Serangan itu dilaporkan mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, peristiwa yang segera memicu tindakan balasan dari Teheran.
Saya mengatakan ini dapat berjalan dengan cepat dan menentukan. Mungkin memerlukan waktu, tetapi tidak akan memakan tahunan.
"Ini bukan perang tanpa akhir," tegas Netanyahu, Senin (2/3/2026), merujuk pada Reuters.
Sebaliknya, Netanyahu menganggap perang ini sebagai langkah awal menuju kestabilan wilayah.
Ia yakin bahwa kehancuran kemampuan militer Iran akan memfasilitasi perdamaian yang kekal, termasuk penyelesaian hubungan antara Israel dan Arab Saudi.
Selain itu, Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa intervensi militer ini bertujuan memicu pemberontakan di Iran.
Ia berharap tekanan dari pihak luar akan mendorong rakyat Iran untuk bertindak menggulingkan pemerintahan saat ini.
"Kami (AS dan Israel) sedang membangun situasi yang memungkinkan rakyat Iran mengganti pemerintah mereka sendiri," tambahnya.
(Batam.id)
Artikel ini telah tayang di news.com dengan judul "Tidak Khawatir terhadap Israel, Jenderal Iran: Kami Mengerti Letak Pertemuan Netanyahu"