
Pemerintah Israelmenyatakan akan terus melanjutkan serangan militer terhadap Iran hingga bulan April mendatang. Hal ini dilakukan karena masih banyak sasaran di Iran yang belum dituju.
Juru bicara Angkatan Pertahanan Israel atau Israel Defense Force (IDF), Brigadir Jenderal Effie Defrin, menyatakan bahwa militer telah disiapkan untuk berlangsung melebihi perayaan agama Yahudi yang dikenal sebagai Paskah tiga minggu mendatang.
"Kami siap, bekerja sama dengan sekutu Amerika Serikat, dengan rencana yang paling tidak sampai Perayaan Paskah, dan bahkan lebih jauh setelahnya," kata Defrin, sebagaimana dilaporkan olehCNN pada Minggu (15/3).
Pasukan Udara Israel melaporkan telah melakukan sekitar 400 gelombang serangan di wilayah barat dan tengah Iran sejak serangan pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Agung (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei.
- Spesifikasi Rudal Sejjil Iran yang Menyerang Israel, Jangkauan Mencapai 2.000 Kilometer
Serangan-serangan tersebut ditujukan pada penghancuran infrastruktur serta penyerangan terhadap unit militer Iran. Pejabat Israel juga menyatakan, pasukan militer mereka bersama Amerika Serikat (AS) telah menyerang ribuan sasaran sejak konflik berlangsung.
Namun, Defrin menyatakan bahwa operasi militer tidak memiliki batas waktu tertentu. "Kami tidak bekerja berdasarkan jadwal, tetapi untuk mencapai tujuan, yaitu melemahkan pemerintahan Iran secara signifikan," katanya.
Defrin menyatakan bahwa situasi peningkatan konflik saat ini telah mendorong Hizbullah di Lebanon untuk turut terlibat. Hal ini berbeda dengan pendirian mereka dalam konflik sebelumnya.
Pasukan Israel juga memperluas operasi di wilayah utara dengan menambah jumlah pasukan di perbatasan Lebanon. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya untuk memberi tekanan kepada Hizbullah.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukan IDF telah memperluas operasi mereka ke area baru di wilayah selatan Lebanon. Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya pendudukan yang berlangsung lama di kalangan ratusan ribu warga Lebanon yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya.
Katz juga membandingkan kondisi di Lebanon dengan Gaza. Ia memberi peringatan kepada penduduk Lebanon yang mengungsi bahwa mereka tidak akan diperbolehkan kembali ke rumah mereka sampai keamanan warga Israel di sekitar perbatasan benar-benar terjaga.
Laporan The Guardianpada Senin (16/3) menulis, pernyataan Katz mengindikasikan kemungkinan keberadaan pasukan Israel akan berlangsung lama. Katz menyebutkan bahwa Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu telah memerintahkan IDF untuk menghancurkan infrastruktur yang dianggap sebagai teror di dekat perbatasan Lebanon.
Tindakan tersebut, menurut Katz, dilakukan dengan pendekatan yang serupa dengan operasi militer Israel terhadap Hamas di kawasan Rafah, Beit Hanoun, dan jaringan terowongan di Gaza.
"Ratusan ribu warga Syiah di wilayah selatan Lebanon yang telah meninggalkan atau sedang meninggalkan rumah mereka di daerah selatan Lebanon dan Beirut tidak akan kembali ke wilayah selatan garis Litani hingga keamanan penduduk di wilayah utara terjamin," ujar Katz dalam pernyataannya.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata pada November 2024, Hizbullah seharusnya menarik pasukannya dari wilayah selatan Lebanon dan militer Lebanon akan mengambil alih daerah tersebut sebagai imbalan atas henti serangan bom oleh Israel.
Namun, Israel mengklaim bahwa Lebanon tidak pernah memenuhi kewajibannya dalam perjanjian tersebut, dan Israel terus melakukan serangan udara hampir setiap hari terhadap yang disebut sebagai posisi dan senjata Hizbullah.
Perang terbaru ini dimulai ketika Hizbullah melepaskan roket ke Israel pada 2 Maret. Serangan itu memicu Israel untuk melakukan operasi militer di seluruh wilayah Lebanon. Sejak saat itu, perselisihan memburuk secara signifikan dan telah melebihi tingkat perang antara Israel dan Hizbullah yang berlangsung selama 13 bulan pada tahun 2023–2024.