
bengkalispos.com.CO.ID, TEHERAN -- Kedutaan Besar Amerika Serikat yang berada di Zona Hijau Irak menjadi target serangan. Seorang pejabat keamanan memberi keterangan kepada AFP yang dikutip BBC, bahwa tiga pesawat tanpa awak dan empat rudal menyerang kedutaan tersebut. Paling sedikit satu drone jatuh di dalam bangunan.
Seorang saksi mata menyampaikan kepadaReutersbahwa mereka melihat paling sedikit tigadronemelayang menuju konsulat Amerika Serikat. Dua di antaranya jatuh setelah ditembak, namun yang ketiga menabrak bagian dalam kompleks konsulat.
Sumber keamanan Irak mengatakan kepadaAFPbahwa itu merupakan serangan paling hebat sejak perang dimulai.
Dilansir Aljazirah, kelompok bersenjata Irak, Saraya Awliya al-Dam, telah mengunggah video di saluran Telegram mereka yang menampilkan sebuahdroneyang terlihat terbang di atas dan mengawasi kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Zona Hijau Baghdad yang dikelilingi benteng.
Rekaman berdurasi 1 menit 55 detik dengan judul "Drone Pengintai al-Awliya" menunjukkan sesuatu yang tampak sepertidrone quadcopterterbang dengan bebas di siang hari dan merekam video dari lokasi tersebut.
Video tersebut terlihat memperlihatkan pemandangan udara yang rinci mengenai infrastruktur kedutaan, termasuk tiang bendera dan bendera Amerika Serikat, serta sistem pertahanan di sekitarnya.
Di sisi lain, beberapa ledakan mengguncang ibu kota Irak, Baghdad, dengan paling sedikit empat orang meninggal dalam serangan udara terhadap sebuah gedung yang dimanfaatkan oleh kelompok pendukung Iran.
Serangan mematikan di wilayah Jadiriya Baghdad terjadi setelah terdengar suara ledakan dari dekat kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Zona Hijau Baghdad yang dijaga ketat.
Perang ditentukan Iran
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa penutupan perang tidak akan ditentukan melalui media sosial seperti yang dilakukan oleh pemimpin Amerika tersebut. Penutupan perang ditentukan di lapangan perang.
"Kita tentukan di medan perang," katanya dalam video yang dirilis oleh Aljazirah, Selasa (17/3/2025).
Ia juga meremehkan nama kampanye AS bernama "Epic Fury," dengan menyatakan bahwa sebutan yang lebih sesuai adalah "Epic Fear."
Tegangan di kawasan semakin memburuk sejak Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang hingga saat ini telah menyebabkan kematian sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons dengan menyerang menggunakan pesawat tak berawak dan rudal yang mengarah ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang memiliki basis militer Amerika Serikat. Serangan ini menimbulkan korban jiwa, kerusakan pada infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Dikutip dari Aljazirah, pejabat militer Iran lainnya menyatakan bahwa pertanyaan mengenai seberapa lama perang akan berlangsung dan kapan akan berakhir akan dijawab oleh Iran, bukan Amerika Serikat.
"Kalian yang memulai, kami yang akan menyelesaikannya," ujar pejabat Iran.