Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Menilai Amal Setelah Ramadan Berlalu -->

Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Menilai Amal Setelah Ramadan Berlalu

25 Mar 2026, Rabu, Maret 25, 2026
Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Menilai Amal Setelah Ramadan Berlalu
Ringkasan Berita:
  • Pemantauan amal setelah Ramadan penting dalam mempertahankan konsistensi dan tingkat keimanan.
  • Tanda puasa yang berhasil ialah meningkatnya ketakwaan serta konsistensi dalam beribadah setelah bulan Ramadan.
  • Jauhi perbuatan dosa seperti berbohong dan menggunjing agar pahala puasa tetap terjaga.
 

PRIANGAN.COM –para penerima, evaluasi amal setelah Ramadan adalah kunci untuk mempertahankan kekonsistenan (istiqamah) dalam beribadah.

Tanda keberhasilan berpuasa adalah meningkatnya kualitas diri, ketulusan, serta ketaatan yang terus berlanjut, bukan berhenti.

Penting untuk melakukan evaluasi apakah puasa berhasil mengendalikan nafsu dan menjaga kebiasaan baik seperti shalat tepat waktu, membaca al-Qur'an, serta beramal kebajikan.

Membicarakan mengenai Jumat mendatang, khususnya pada hari Jumat tanggal 27 Maret 2026, kita sebagai laki-laki yang beragama Islam akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.

Jumat, yang disebut sebagai Raja Hari atau Penghulunya Hari, diyakini oleh umat Islam sebagai hari yang penuh berkah.

Khusus untuk khutbah pada Jumat mendatang, berikut adalah naskah khutbah Jumat yang telah diunggah oleh Priangan.com dari berbagai sumber pada 27 Maret 2026 dengan tema "Mengevaluasi Segala Amal Setelah Kepergian Ramadan".

Khutbah 1

Dan Islam telah menjadi agama yang diridhai bagi kami. Ia memberi kelebihan kepada kami dengan kebaikan, kemurahan, dan kasih sayang-Nya. Aku memuji-Nya dengan pujian yang sebenarnya, Tuhan kami dan Tuhan kalian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia memuliakan sebagian dari kami dan menghinakan sebagian yang lain. Tuhan yang Mulia satu-satunya, Maha Agung, bersih dari kesamaan, sekutu, dan persamaan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang satu tanpa sekutu, kesaksian yang menyelamatkan orang yang mengucapkannya pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat kecuali bagi siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang tulus. Dan aku bersaksi bahwa tuan kami, Nabi kami, penolong kami, dan teladan kami Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan utusan-Nya yang jujur dalam janji dan amanah. Semoga Allah melimpahkan rahmat, berkah, dan keselamatan kepada beliau, keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat, dan ampunilah kami bersama mereka dengan pengampunan dan kemurahan-Mu, ya Tuhan yang paling murah dari semua yang murah. Sesudah itu, wahai manusia, marilah kita menasihati diri sendiri dan kalian semua untuk takwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itulah yang beruntung. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: "Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, adalah dengan berkata kepada-Nya 'jadilah', maka akan jadilah."

Maasyiral muslimin rakhimakumullah,

Memulai khutbah pada siang hari yang penuh berkah ini, khatib menasihati kita semua, khususnya dirinya sendiri, untuk terus berupaya meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dengan menjalankan segala kewajiban dan menghindari segala yang dilarang.

Barakah dan keselamatan semoga tercurah kepada Nabi penghabisan zaman, teladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang senantiasa memperkuat komitmen kita untuk taat menjalankan perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan Rasul-Nya serta menghindari segala larangan-Nya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Alhamdulillah, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang senantiasa melimpahkan berkah, petunjuk, dan perlindungan kepada kita semua agar tetap konsisten dalam menjalankan ibadah kepada-Nya, sehingga kita mampu melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan keteguhan.

Doa dan keselamatan marilah kita sampaikan kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat serta pengikutnya.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak dirinya sendiri, keluarga, dan seluruh jamaah yang hadir dalam pelaksanaan salat Jumat untuk tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjauhi segala larangan-Nya. Karena tidak ada bekal yang lebih baik untuk kita bawa menuju akhirat selain ketakwaan. 2. Dengan menggunakan mimbar yang mulia ini, khatib memanggil dirinya sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang hadir dalam salat Jumat untuk terus berpegang teguh dalam menjalani ibadah, meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebab, ketakwaan adalah bekal terbaik yang kita bawa menuju akhirat. 3. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri, keluarga, dan seluruh jamaah yang hadir dalam salat Jumat untuk tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjauhi larangan-LNya. Karena ketakwaan adalah bekal terbaik yang kita bawa menuju akhirat. 4. Dalam kesempatan ini, melalui mimbar yang mulia, khatib mengajak dirinya sendiri, keluarga, dan seluruh jamaah yang hadir dalam salat Jumat untuk senantiasa istiqamah dalam beribadah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Karena ketakwaan adalah bekal terbaik untuk kita bawa ke akhirat. 5. Dengan memanfaatkan mimbar yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang hadir dalam salat Jumat untuk tetap konsisten dalam menjalankan ibadah, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebab, ketakwaan merupakan bekal terbaik yang kita bawa menuju akhirat.

Para jamaah Jumat yang tercinta,

Saat ini kita semua telah melewati bulan suci Ramadan 1447 H.

Oleh karena itu, marilah kita sejenak mengevaluasi ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan ini. Apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar, mulai dari puasa, sholat, zakat, dan yang lainnya?

Secara umum, kita semua diwajibkan oleh Allah SWT untuk berpuasa selama sebulan bukan dengan maksud merasakan lapar, haus, dan kesulitan. Namun, di balik hal tersebut terdapat banyak hikmah.

Hikmah pertama adalah bahwa dengan berpuasa, kita semua dapat menjadi hamba yang memiliki ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagaimana tujuan utama dari wajibnya puasa bagi orang-orang beriman yaitu agar mereka mampu menjadi hamba yang bertakwa. Hal ini telah disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran, Dia berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

Maknanya, "Wahai orang-orang yang beriman! Kewajiban berpuasa diwajibkan kepada kalian, sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat tersebut mengandung makna yang mulia, yaitu bahwa puasa seharusnya menjadi jembatan bagi kita semua dalam meningkatkan rasa takwa kepada Tuhan.

Dengan berpuasa, seseorang telah menunjukkan komitmennya untuk menyempurnakan ketakwaannya, sesuai dengan makna takwa itu sendiri, yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menghindari larangan-Nya.

Dari tujuan tersebut, marilah kita meninjau kembali ibadah puasa yang selama ini kita lakukan, apakah telah membuat kita menjadi hamba yang benar-benar taat kepada-Nya?

Apakah puasa membuat kita menjadi hamba yang benar-benar giat dalam meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada-Nya? Atau justru ibadah yang kita lakukan selama ini tidak membawa dampak apa pun pada diri kita, semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu.

Cara paling mudah untuk memastikan ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT adalah dengan melihat antusiasme dan kesabaran kita dalam terus beribadah setelah bulan Ramadan.

Jika tetap bersemangat, ini menunjukkan bahwa ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan diterima. Jika tidak bersemangat, ini mengindikasikan bahwa ibadah kita selama ini ditolak oleh Allah. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Rajab dalam Kitab Lathaiful Ma'arif, yaitu:

Tanda diterimanya ketaatan adalah jika diikuti dengan ketaatan lainnya, dan tanda ditolaknya adalah jika diikuti dengan maksiat. Betapa indahnya kebaikan setelah kebaikan, dan betapa buruknya keburukan setelah kebaikan.

Maknanya, "Tanda diterimanya ketaatan adalah dengan terus beribadah secara konsisten setelahnya. Dan tanda ditolaknya ketaatan adalah dengan melakukan perbuatan maksiat setelahnya. Betapa mulianya suatu ibadah yang dilakukan setelah ibadah lainnya, dan betapa buruknya sebuah keburukan yang dilakukan setelah ibadah."

Para jamaah Jumat yang tercinta,

Puasa serupa dengan sholat. Dalam Al-Quran, Allah menjanjikan kebaikan kepada orang yang melakukannya, serta dapat menghilangkan segala keburukan dan kejelekan bagi pelakunya.

Namun, seberapa banyak di antara mereka yang melaksanakan sholat tetapi masih terus berbuat maksiat. Hal ini terjadi karena ketika melakukan sholat, masih banyak aturan yang tidak dipenuhi.

Sama halnya dengan puasa. Jika puasa yang kita lakukan selama ini tidak mampu meningkatkan ketakwaan kepada Allah, maka menunjukkan bahwa puasa yang kita lakukan selama sebulan ini memiliki kekurangan, ada hal yang tidak sempurna, dan ada hambatan yang menghalangi peningkatan ketakwaan tersebut.

Salah satu tindakan yang dapat merusak ibadah puasa adalah berbohong, berkata kasar, serta menyebarkan keburukan orang lain, sebagaimana disampaikan oleh Nabi dalam sebuah hadits, yaitu:

Puasa adalah perlindungan selama tidak dilanggar. Dengan apa saja puasa itu dilanggar, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Dengan berbohong, mengucapkan kata-kata kotor, menyebarkan fitnah, atau mencuri.

Maknanya, "Puasa merupakan benteng, selama kamu tidak merusakknya. Para sahabat bertanya, dengan apa bisa merusakknya, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: dengan berbohong, berkata kasar, menyebarkan keburukan orang lain, dan memfitnah." (HR An-Nasa'i).

Berdasarkan hadits di atas, kita dapat meninjau kembali, apakah kita telah meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak pahala puasa selama bulan Ramadan?

Sudah selesai, marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi kita pertolongan agar tidak terjatuh ke dalamnya. Dan jika belum, maka tidak heran jika puasa tidak memberikan dampak positif sedikit pun bagi kita semua.

Para jamaah Jumat yang tercinta,

Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Berikut ini adalah khutbah Jumat mengenai penilaian ibadah puasa selama bulan Ramadan. Semoga dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta dianggap sebagai hamba yang tetap konsisten dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin. 2. Khutbah Jumat kali ini membahas evaluasi ibadah puasa selama bulan Ramadan. Mudah-mudahan bisa menjadi manfaat dan berkah bagi kita semua, serta dianggap sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin. 3. Inilah khutbah Jumat tentang peninjauan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta termasuk dalam golongan hamba yang tetap teguh dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin. 4. Berikut ini adalah khutbah Jumat mengenai evaluasi ibadah puasa selama bulan Ramadan. Semoga dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta dianggap sebagai hamba yang konsisten dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin. 5. Berikut adalah khutbah Jumat mengenai penilaian ibadah puasa selama bulan Ramadan. Semoga bisa menjadi manfaat dan berkah bagi kita semua, serta dianggap sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin.

 

Khutbah 2

Alhamdulillah wa kafya, wa usalliy wa asallimu 'ala sayyidina Muhammad al-Mustafa, wa 'ala aalihi wa ashhabihii ahli al-wafa. Ašhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah, wa ašhadu anna sayyidina Muhammad 'abduhu wa rasuluh. Amma ba'du, ya ayyuha al-muslimuna, uwsiikum wa nafsii bi taqwa Allah al-aliyy al-azhim wa 'alimuu anna Allah amara kum bi amrin azhim, amara kum bis-salati was-salam 'ala nabiyyihi al-karim faqala: inna Allah wa malakutahu yusalluuna 'ala al-nabiyyi, ya ayyuha alladzina amanu sallu 'alaihi wasallimu tasliman. Allahu, sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama shollaita 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, wa barik 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama barakta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, fi al-'alamina innaka hamidun majid. Allahu, magfir lilmuslimina wal muslimat wal mu'minina wal mu'minat al-ahyaa minhum wal amwat, allahumma dfa' 'annaa al-bala' wal ghala' wal waba' wal fahsya' wal munkar wal baghy wal suyuful mukhtalifah wal shidaad wal mihan, ma zhahara minhu wa ma bathana, min badainaa haadza khassatan wa min buldan al-muslimina 'amman, innaka 'ala kulli sya'in qadir. Rabbana la tu'akhidh na in nasiyina au akhtha'na rabbana wa la tachmil 'alayna isran kama hamaltahu 'ala alladzina min qablina rabbana wa la tachmilnna ma la taqata lana bihi wa 'afu 'annaa wa magfir lana wa arhamnna anta maulana fansurnaa 'ala al-qawmi al-kafirin. Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qinna 'adzaba an-nar. Wa al-hamdu lillahi rabbil 'alamin. 'Ibadallah, inna Allah ya'muru bil-'adli wal ihsani wa i'ta' dzil qurbay wa yanhayu 'ani al-fahsyaa' wal munkar wal baghy, ya'izzukum la'allakum tadhakkaru. Fadzikru allaha al-azhim yadzikrukum wa ladzikru allaha akbaru.

 

Lihat berita terbaru Priangan.com lainnya di: Google News

TerPopuler