
jatim.bengkalispos.comSURABAYA - Kondisi konflik di kawasan Timur Tengah menyebabkan beberapa mahasiswa asing yang berada di Surabaya membatalkan rencana pulang ke kampung halaman saat Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya yang berasal dari Yaman, Khusay, mengungkapkan bahwa ia tidak mampu kembali ke negara asalnya akibat situasi keamanan yang tidak stabil serta biaya tiket pesawat yang sangat tinggi.
"Sebelumnya terjadi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, kami tidak dapat kembali ke Yaman karena harga tiket pesawat sangat tinggi dan tidak ada penerbangan dekat," ujar Khusay di Surabaya, Minggu (15/3) malam.
Mahasiswa Teknik Informatika tersebut menyatakan bahwa sebenarnya ia mampu kembali ke rumah melalui Mesir karena beberapa anggota keluarganya tinggal di negara itu.
Namun, ibu menyarankan agar dia tetap tinggal di Indonesia karena alasan keamanan.
"Ibu saya sedang berada di Yaman ketika perang dimulai. Oleh karena itu, keadaannya memang sulit," katanya.
Penerbangan yang tidak pasti, serta kenaikan harga tiket akibat alasan keamanan. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak pulang saat Lebaran tahun ini.
Keputusan itu juga di dukung oleh orang tua mereka.
Orang tua saya mengatakan agar tetap berada di Indonesia. Saya datang ke sini untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, harus tetap konsentrasi dalam melanjutkan pendidikan," katanya.
Mahasiswa asal Yaman lainnya, Abdurrahman Khalid, juga membatalkan rencana kembali ke negaranya saat libur Lebaran.
Ia menyatakan perang di kawasan Timur Tengah memengaruhi kestabilan keamanan dan penerbangan di berbagai negara.
Menurutnya, harga tiket pesawat ke negaranya meningkat hingga tiga hingga empat kali lipat.
"Seluruh bandara utama seperti yang ada di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar juga terkena dampak akibat kondisi perang," katanya.
Ia mengakui sebenarnya mampu kembali ke Jeddah untuk bertemu dengan keluarganya.
Namun, Abdurrahman memutuskan untuk tetap berada di Indonesia karena kondisi yang belum stabil serta jadwal perkuliahan yang masih berlangsung.
Mahasiswa jurusan Teknik Mesin tersebut menyatakan keinginan untuk tetap berfokus menyelesaikan pendidikannya di Indonesia.
"Pada saat ini saya masih memiliki banyak kelas. Selain perang dan biaya tiket yang mahal, lamanya liburan juga tidak terlalu lama," katanya.
Abdurrahman, Khusay, dan sejumlah mahasiswa dari Timur Tengah yang tinggal di asrama akhirnya memutuskan merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia.(mcr12/jpnn)