Lentera Ramadan UIN Saizu: Prof Suwito Bongkar Kekuatan Spiritual di Era Digital -->

Lentera Ramadan UIN Saizu: Prof Suwito Bongkar Kekuatan Spiritual di Era Digital

18 Mar 2026, Rabu, Maret 18, 2026
Lentera Ramadan UIN Saizu: Prof Suwito Bongkar Kekuatan Spiritual di Era Digital

JATENG.COM, PURWOKERTO- Prof. Suwito, Wakil Rektor I UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, menekankan betapa pentingnya memperkuat spiritualitas selama Bulan Ramadan sebagai benteng utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, khususnya di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial.

Hal ini diungkapkan dalam acara Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto, yang secara rutin menyajikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat luas selama bulan suci.

Dalam ceramahnya, Prof Suwito memulai dengan mengajak umat Islam untuk selalu bersyukur atas anugerah iman, agama Islam, kesehatan, serta kesempatan yang masih diberikan oleh Allah SWT hingga bisa kembali bertemu dengan bulan Ramadan.

Ia menekankan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah biasa, tetapi kesempatan penting untuk memperkuat sisi spiritual manusia.

"Ramadan merupakan bentuk kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Pada bulan ini, kita diberikan tambahan nutrisi rohani agar jiwa kita kembali segar, aktif, dan penuh semangat," katanya.

Menurutnya, kehidupan spiritual yang aktif dapat memiliki pengaruh signifikan dalam kehidupan, khususnya dalam memperkuat ketahanan diri terhadap berbagai pengaruh buruk.

Prof Suwito menjelaskan bahwa kekuatan utama manusia berada pada keadaan hati atau kalbu. Hati yang sehat akan lebih mudah menerima petunjuk dan karunia dari Allah SWT.

Ia merujuk pada ayat Al-Qur'an dalam Surah Al-Maidah ayat 105 yang menekankan kepentingan menjaga diri sendiri.

"Apabila seseorang memiliki kebaikan di dalam dirinya, maka keburukan dari luar tidak akan memengaruhinya. Hal ini disebabkan oleh adanya panduan yang kuat di dalam dirinya," katanya.

Sebagai contoh, ia menggambarkan seseorang yang memahami tujuan akhir tidak akan mudah terkecoh oleh data yang tidak benar.

"Jika kita sudah mengetahui jalan yang benar, kita tidak akan mengikuti orang yang salah. Demikian pula dalam kehidupan, seseorang yang memiliki petunjuk tidak akan mudah terjebak dalam hal negatif," tambahnya.

Selanjutnya, Prof Suwito menyoroti tantangan besar yang dialami masyarakat saat ini, yaitu dampak teknologi dan media sosial yang semakin luas.

Menurutnya, tanpa dasar spiritual yang kuat, seseorang mudah terjebak dalam berbagai bentuk keburukan, mulai dari informasi yang salah hingga tindakan yang bertentangan dengan prinsip agama.

"Pengaruh media sosial sangat luar biasa. Namun, orang yang memiliki ketenangan batin tetap kuat dan tidak mudah terpengaruh," tegasnya.

Ia menambahkan, hati yang bersih mampu merasakan tanda-tanda petunjuk, bahkan dari hal-hal kecil yang sering tidak disadari oleh orang lain.

Sebaliknya, hati yang luka akan kesulitan menerima kebenaran, meskipun berbagai tanda telah ditunjukkan.

Dalam penjelasannya, Prof Suwito juga menekankan bahwa puasa tidak hanya terbatas pada menahan lapar dan haus, tetapi merupakan latihan pengendalian diri yang menyeluruh.

seorang pria menyebutkan kisah dalam Al-Qur'an mengenai pasukan Thalut yang diuji untuk menahan diri dari minum sebagai bentuk disiplin dan ketaatan.

"Puasa pada dasarnya merupakan cara mengendalikan keinginan. Bila seseorang mampu mengatasi hasratnya, maka sisi rohaninya akan menjadi sangat tangguh," katanya.

Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri ini merupakan faktor penting dalam membentuk kepribadian yang kuat dan berintegritas.

Di akhir ceramah, Prof Suwito mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Ramadan sebagai awal perubahan menuju diri yang lebih baik.

Ia berharap, ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadan tidak hanya memberikan dampak sementara, tetapi mampu membentuk kepribadian yang tangguh dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

"Puasa merupakan anugerah dan kesempatan istimewa dari Allah SWT. Kita perlu memanfaatkannya secara maksimal agar rohaniah kita tetap hidup, berkembang, dan selalu terhubung dengan-Nya," tutupnya. (***)

TerPopuler