
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa asal Jember bernama Muhammad Bagir dievakuasi dari Iran saat terjadi ketegangan yang meningkat.
- Bagir mulai kuliah di Universitas Qom sejak tahun 2022.
- Evakuasi dilakukan dengan menggunakan jalur darat menuju Teheran, kemudian melalui udara melalui Baku dan Istanbul menuju Jakarta.
- Bagir pernah merasakan getaran serangan rudal di sekitar Kota Qom.
- Meskipun terjadi perselisihan, kegiatan masyarakat dan harga kebutuhan pokok di Iran tetap relatif stabil.
JATIMTIMUR.COM, Jember- Seorang mahasiswa Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Jember, Muhammad Bagir, akhirnya kembali ke rumahnya di wilayah Mangli, Kecamatan Kaliwates, pada Senin (16/3/2026). Ia baru saja dievakuasi dari Iran oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran setelah situasi konflik bersenjata di negara tersebut memburuk.
Bagir dikenal telah tinggal di Iran sejak tahun 2022 untuk melanjutkan studi di Universitas Qom, kota Qom, dengan fokus pada jurusan teknik komputer.
Setelah mengalami proses evakuasi yang cukup lama, ia mengungkapkan rasa lega karena akhirnya bisa kembali ke tanah air dan bersatu dengan keluarga menjelang hari Raya Idul Fitri.
"Alhamdulillah jadi lebih tenang, karena sempat khawatir juga dengan keluarga. Terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri melalui KBRI di Iran," katanya.
Dievakuasi Melalui Jalur Darat dan Udara
Bagir menjelaskan bahwa proses evakuasi WNI dari Kota Qom dilakukan melalui jalur darat menuju Teheran. Selanjutnya, pada 10 Maret 2026, mereka dialihkan ke wilayah perbatasan Iran dengan Turki.
Kelompok tersebut kemudian berangkat ke Baku, sebelum melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Istanbul. Dari sana, warga negara Indonesia diangkut ke Jakarta.
"Dari Azerbaijan, Baku menuju Istanbul dengan pesawat. Setelah itu dari Istanbul kembali naik pesawat menuju Jakarta," ujar Bagir.
Menurutnya, jalur udara Iran pada masa itu ditutup akibat kondisi perang, sehingga proses evakuasi harus dilakukan melalui negara lain.
"Jalur udara di Iran ditutup akibat situasi perang, sehingga penerbangan dilakukan melalui Turki. Selama proses evakuasi, kami didampingi oleh KBRI Teheran dan KBRI Baku," tambahnya.
Pernah Merasakan Getaran Serangan Rudal
Selama berada di Iran, Bagir mengakui pernah merasakan dampak dari konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Ia mengatakan serangan rudal sempat mendarat di sekitar wilayah Kota Qom, meskipun tidak sampai berdampak signifikan terhadap masyarakat setempat.
"Kondusif, masyarakat masih terbiasa, para pembeli tetap berbelanja, para pelajar tetap belajar meskipun sekolah masih dilakukan secara online," katanya.
Bagir juga mengakui beberapa kali melihat jejak rudal di langit yang tampak seperti asap yang bergerak cepat sebelum akhirnya menghilang.
Ia bahkan merasakan gempa saat terjadi serangan di dekat dua kilometer dari pusat Kota Qom.
"Pada saat itu terjadi serangan sekitar dua kilometer dari pusat kota dan terasa getarannya," katanya.
Warga Iran Sempat Terkejut
Bagir mengungkapkan bahwa masyarakat Kota Qom sempat kaget ketika serangan pertama terjadi, terutama setelah beredar informasi tentang kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pemerintah setempat akhirnya menghentikan aktivitas sekolah selama sekitar tujuh hari. Di sisi lain, masyarakat juga mengadakan pawai untuk mengenang pemimpin mereka.
Menurut Bagir, meskipun kegiatan masyarakat berjalan cukup normal, berbagai perayaan tetap diadakan di beberapa daerah.
Ia juga melihat foto-foto pemimpin Iran tersebut dipasang di berbagai universitas di negara yang sebagian besar penduduknya berbicara bahasa Persia.
Di tengah perpecahan yang sedang berlangsung, Bagir menganggap situasi ekonomi masyarakat, khususnya mengenai kebutuhan pokok, masih cukup stabil.
"Masih dalam kondisi normal, baik itu harga susu, telur, beras, maupun ayam. Semua tetap relatif stabil," tambahnya.