
Ringkasan Berita:
- Presiden ke-6 Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan rudal Israel yang mengarah ke Teheran pada hari Sabtu (28/2/2026).
- Ahmadinejad memimpin Iran selama dua masa jabatan, yaitu dari tahun 2005 hingga 2013, dan menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dalam politik Iran kontemporer.
- Selama masa karierya, ia terkenal dengan gaya hidup yang sederhana dan citra yang dekat dengan rakyat biasa, bahkan pernah dilaporkan memakai jas yang rusak.
NEWSMAKER.COM- Berita mengejutkan datang dari wilayah Timur Tengah.
Presiden ke-6 Iran, Mahmoud Ahmadinejad (69), dilaporkan meninggal dunia akibat serangan rudal Israel yang menyerang ibu kota Iran, Teheran, pada hari Sabtu (28/2/2026).
Serangan itu mengguncang ibu kota Teheran dan menimbulkan rasa sedih yang mendalam di berbagai kalangan masyarakat, mengingat Ahmadinejad adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Iran modern.
Mahmoud Ahmadinejad merupakan presiden Republik Islam Iran yang menjabat selama periode tahun 2005 hingga 2013.
Selama dua masa kepemimpinannya, ia terkenal sebagai tokoh yang aktif di panggung internasional serta memiliki citra yang kuat di dalam negeri.
Selama masa karierya, Mahmoud Ahmadinejad terkenal sebagai salah satu tokoh yang paling dekat dengan rakyat.
Sikap kepemimpinannya sering kali membuatnya dekat dengan rakyat biasa, bahkan terkadang ia langsung turun ke lapangan untuk berinteraksi dengan warga di berbagai wilayah.
Ahmadinejad sering kali digambarkan memiliki kehidupan yang sangat sederhana.
Ia pernah menjadi perhatian media setelah dilaporkan memakai jas yang rusak—gambaran yang semakin memperkuat citranya sebagai pemimpin dengan penampilan sederhana.
Pergiannya Ahmadinejad dalam insiden serangan rudal ini menjadi babak baru dalam dinamika politik wilayah, sekaligus menandai akhir dari perjalanan hidup salah satu tokoh paling kontroversial dan berpengaruh dalam sejarah Republik Islam Iran.
Profil Ahmadinejad
Mahmoud Ahmadinejad lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran.
Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, merupakan seorang tukang las. Ketika keluarganya pindah dari Aradan ke Teheran pada tahun 1957, Ahmad mengganti nama keluarganya menjadi Ahmadinejad.
Ahmadinejad menghabiskan masa kecil dan masa remajanya di Teheran, setelah itu melanjutkan studi tingginya dengan menempuh jurusan teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada tahun 1976.
Sebagai seorang mahasiswa, Ahmadinejad termasuk dalam kalangan pemuda yang giat berpartisipasi dalam organisasi. Ia bahkan menjadi salah satu pelaku utama dalam aksi demonstrasi selama berlangsungnya Revolusi Iran pada tahun 1978-1979.
Ahmadinejad juga ikut serta dalam kelompok milisi yang didirikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yaitu Korps Garda Revolusi Islam Iran. Ia bahkan terlibat langsung dalam Perang Irak Iran (1980-1988).
Setelah selesai menjalani tugasnya dalam kelompok milisi, pada tahun 1986, Ahmadinejad melanjutkan studinya di IUST dan memperoleh gelar doktor dalam bidang teknik serta perencanaan transportasi.
Pada tahun 1989, ia memasuki IUST dan menjadi salah satu dosen di kampus tersebut.
Terjun ke Politik
Ahmadinejad mulai bekerja di pemerintahan setelah ia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, yang berada di Provinsi Azerbaijan Barat. Pada tahun 1993, ia diangkat sebagai penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi.
Ahmadinejad selanjutnya diangkat sebagai gubernur Provinsi Ardabil, yang baru saja dibentuk. Ia menjabat hingga tahun 1997, kemudian kembali menjadi dosen di IUST.
Ahmadinejad berperan dalam mendirikan Partai Pengembang Islam Iran yang menawarkan agenda populis dan bertujuan menyatukan kelompok-kelompok konservatif. Partai ini berhasil meraih kemenangan dalam pemilihan dewan kota di Teheran pada Februari 2003.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Pada bulan Mei berikutnya, dewan kota menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama masa jabatannya sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad mendapatkan pujian karena dianggap berhasil menyelesaikan masalah lalu lintas serta mengendalikan harga. 2. Di bulan Mei, dewan kota menetapkan Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama ia menjabat sebagai wali kota Teheran, ia diapresiasi karena mampu mengatasi kendala lalu lintas dan menekan angka harga. 3. Pada bulan Mei, dewan kota memilih Ahmadinejad untuk menjadi wali kota. Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad dinilai sukses dalam menangani masalah lalu lintas dan menjaga stabilitas harga. 4. Dalam bulan Mei, dewan kota mengangkat Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama masa kepemimpinannya sebagai wali kota Teheran, ia diakui telah berhasil mengurangi permasalahan lalu lintas dan mengontrol harga. 5. Pada bulan Mei, dewan kota menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Selama menjabat sebagai wali kota Teheran, Ahmadinejad mendapat apresiasi karena mampu menangani isu lalu lintas serta menekan harga.
Berkat bakat dan kemampuan politiknya, Ahmadinejad segera mendapatkan banyak dukungan. Beberapa kebijakan yang diambilnya saat menjabat sebagai wali kota termasuk menutup restoran cepat saji ala Barat serta menutup papan iklan yang mengandung referensi Barat.
Ia juga menyarankan pemisahan lift berdasarkan jenis kelamin, serta mengubah fungsi pusat budaya menjadi ruang ibadah selama bulan Ramadhan.
Selain itu, ia memerintahkan para pegawai pemerintahan kota untuk merawat jenggot dan mengenakan baju lengan panjang.
Menjadi Presiden Iran
Pada tahun 2005, Ahmadinejad mengajukan dirinya sebagai kandidat presiden dengan dukungan penuh dari tokoh-tokoh konservatif. Ia menggunakan pendekatan yang dekat dengan rakyat dan berjanji untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di Iran, serta membersihkan korupsi.
Ahmadinejad merupakan satu-satunya kandidat presiden yang secara terbuka menolak peningkatan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ahmadinejad menggambarkan dirinya sebagai calon presiden yang sederhana dan dekat dengan rakyat.
Sementara lawannya, mantan presiden Iran yang menjabat dari tahun 1989 hingga 1997, Hashemi Rafsanjani, digambarkan sebagai seorang politisi yang korup. Akhirnya, Ahmadinejad memenangkan pemilu dengan hasil yang sangat jelas dan mendapatkan 17 juta suara dari total 27 juta suara.
Ia dilantik sebagai presiden pada 3 Agustus 2005 oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai kepala negara, Ahmadinejad tetap memperlihatkan dirinya sebagai presiden yang dekat dengan rakyat.
Ia lebih ingin tinggal di rumahnya sendiri dibandingkan di istana kepresidenan, hingga akhirnya setuju pindah setelah didesak oleh para penasihat keamanan.
Setelah menghuni istana presiden, ia memerintahkan untuk mengeluarkan seluruh peralatan dan karpet mewah yang ada serta menggantinya dengan yang lebih terjangkau.
Ahmadinejad juga menolak menggunakannya kursi khusus di pesawat presiden dan lebih memilih menggunakan pesawat kargo.
Ia juga memakai bahasa sehari-hari dalam pidato dan presentasi resminya.
Meskipun mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya rakyat yang menganggap Presiden Ahmadinejad sebagai bagian dari mereka, langkah-langkah perubahan tersebut dikritik oleh kalangan elit politik Iran.
Di mata dunia, Presiden Ahmadinejad terkenal dengan sikap tegasnya terhadap hak Iran dalam mengembangkan program nuklirnya, yang berdampak pada meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Kembangkan Nuklir
Dalam pidatinya di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2005, Ahmadinejad menyampaikan keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir yang ia klaim memiliki tujuan damai.
Pada bulan April 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran telah memulai produksi bahan bakar nuklir secara skala industri, yang akhirnya menyebabkan pemberlakuan sanksi internasional. Pada bulan Maret 2008, Ahmadinejad menjadi presiden pertama Iran yang berkunjung ke Irak sejak terjadinya Revolusi Iran.
Hubungan Tehran selama masa pemerintahan Ahmadinejad dengan Washington mengalami peningkatan setelah Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.
Ahmadinejad bahkan mengucapkan selamat kepada Obama. Dalam bidang ekonomi, Iran mengalami kenaikan inflasi sebesar 10 persen selama masa pemerintahan pertamanya, yang disebabkan oleh kebijakan ekonominya. Belum lagi adanya sanksi internasional yang menyulitkan masuknya investasi asing.
Kondisi ekonomi ini menjadi sorotan utama dan menjadi isu penting menjelang pemilu presiden Iran pada tahun 2009. Meskipun dalam sejarah belum pernah ada presiden Iran yang gagal meraih periode kedua, beberapa analis menilai kebijakan ekonomi serta gaya kepemimpinan Ahmadinejad telah membuat posisinya rentan.
Banyak analis menganggap Ahmadinejad mungkin akan kalah oleh salah satu lawannya, yang paling kuat adalah Mir Hossein Mousavi yang didukung oleh kelompok moderat di Iran.
Namun pada akhir masa pemungutan suara pada 12 Juni, Ahmadinejad berhasil memperoleh kemenangan langsung dalam putaran pertama dengan lebih dari 60 persen suara.
Hasil pemilu sempat memicu protes, khususnya dari pendukung Mousavi yang menyatakan adanya ketidakwajaran dalam proses pemilihan. Demonstrasi dilakukan oleh warga di jalanan.
Tokoh paling tinggi di Iran yang awalnya mendukung hasil pemilu juga meminta dilakukannya penyelidikan resmi terkait pelaksanaan pemilihan. Meskipun demikian, pada 3 Agustus 2009, Ayatollah Ali Khamenei secara resmi mengumumkan Ahmadinejad sebagai presiden.
Pengukuhan tersebut tidak dihadiri oleh beberapa tokoh politik oposisi, termasuk mantan presiden Mohammad Khatami dan Akbar Hashemi, serta Mir Hossein Mousavi.
Akhir Masa Jabatan
Pada tahun 2011, terjadi perselisihan antara Ahmadinejad dengan Khamenei, yang diduga dipicu oleh pemecatan seorang menteri intelijen yang merupakan pendukung dekat Khamenei. Perselisihan ini berkembang menjadi persaingan mendapatkan dukungan dari masyarakat antara Ahmadinejad dan Khamenei.
Pada bulan Maret 2012, ia dipanggil oleh Majelis Legislatif Iran yang mengajukan pertanyaan terkait kebijakan dan perselisihannya dengan pemimpin tertinggi.
Pemanggilan presiden yang sedang menjabat oleh Majelis Iran terjadi untuk pertama kalinya, memicu spekulasi mengenai turunnya dukungan politik terhadap Ahmadinejad.
Penurunan dukungan terhadap Ahmadinejad juga terjadi dalam pemilihan legislatif, sehingga masa jabatannya berakhir pada Agustus 2013 dan digantikan oleh Hassan Rouhani.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Ahmadinejad kembali tinggal di rumah pribadinya di Narmak. Pada tahun 2017, Ahmadinejad pernah dilaporkan akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden Iran, tetapi kemudian dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Ia dilaporkan ditangkap oleh otoritas Iran pada Januari 2018 karena dianggap memicu aksi protes dan demonstrasi melalui pernyataannya. Ia dikabarkan menjadi tahanan rumah berdasarkan persetujuan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Tewas Bersama Pengawal
Media Iran melaporkan bahwa Ahmadinejad gugur dalam serangan udara bersama antara Israel dan AS pada Sabtu (28/2/2026) malam.
Lembaga berita ILNA melaporkan serangan itu menyerang rumahnya di wilayah Narmak, sebelah utara timur Teheran.
Lembaga media yang mendukung pemerintah Iran menyatakan bahwa Ahmadinejad (69) telah meninggal bersama dengan para pengawalnya.
Laporan internasional yang dirujuk dari media Israel menyebutkan serangan di wilayah tersebut diperkirakan terjadi pada malam Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ahmadinejad terkenal sebagai salah satu tokoh yang paling aktif menentang Israel dan negara-negara Barat selama menjabat sebagai Presiden Iran.
Lembaga berita keamanan Mashreq News melaporkan, para pengawal Mahmoud Ahmadinejad yang gugur adalah Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi.
"Mereka meninggal dalam serangan yang mengarahkan ke kantor mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di bagian timur Teheran," demikian laporan tersebut.
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa sebuah rudal jatuh di kawasan Narmak di sebelah timur Teheran, dekat tempat tinggal Ahmadinejad, dengan video yang beredar menunjukkan kerusakan di lokasi tersebut.
(newsmaker.com/news/ Bekasi/Kompas.com)