
Ringkasan Berita:
- Tantangan yang dihadapi Sami Raos dalam mengakses pasar global
- Selain biaya pengiriman, tantangan lain berasal dari aturan yang berlaku di setiap negara tujuan
- Sami Raos melakukan perbaikan terkait legalitas serta data produk
Liputan Jurnalis Jawa Barat, Putri Puspita
JABAR.ID, BANDUNG- Di balik kesempatan besar dalam ekspansi produk makanan ke luar negeri, pelaku bisnis juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari biaya pengiriman hingga aturan di negara tujuan.
Hal ini juga dirasakan oleh produsen bakso aci kemasan Sami Raos yang berasal dari Garut.
SPV Marketplace Sami Raos, Dani Kisma menyampaikan bahwa penyebaran barang ke luar negeri tidak selalu berjalan lancar.
Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah biaya pengiriman yang sangat mahal.
"Yang pertama memang yang kita alami secara langsung, kita masih menghadapi hambatan dalam pengiriman, artinya ongkos kirimnya cukup tinggi jika ke luar negeri," kata Dani saat dihubungi, Senin (30/3/2026).
Selain biaya pengiriman, tantangan lain berasal dari peraturan yang berlaku di setiap negara tujuan.
Tidak semua jenis makanan bisa dengan mudah diterima, khususnya yang mengandung bahan tertentu seperti daging.
"Berdasarkan regulasi di negara terkait, tidak semua negara dapat bebas memasukkan produk, terlebih lagi yang mengandung komposisi daging," kata Dani.
Situasi ini memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan produknya agar sesuai dengan standar internasional.
Salah satu tindakan yang dilakukan Sami Raos adalah meningkatkan aspek legalitas serta data produk.
"Kami berusaha memenuhi persyaratan hukum produk, termasuk permintaan untuk menampilkan komposisi dalam bahasa Inggris pada kemasannya," katanya.
Langkah ini diambil agar produk dapat diterima di pasar internasional serta memenuhi aturan yang berlaku di berbagai negara.
Di sisi lain, aspek keawetan produk menjadi hal yang sangat penting dalam pengiriman jarak jauh.
Dani memastikan bahwa produk Sami Raos, khususnya jenis bakso, memiliki ketahanan yang memadai untuk pengiriman ke luar negeri.
"Di suhu ruang, produk bakso kami mampu bertahan maksimal selama tiga bulan, sehingga untuk pengiriman ke luar negeri kami dapat memastikan keamanannya," katanya.
Namun, Sami Raos hingga saat ini belum melakukan pengiriman langsung ke luar negeri.
Proses pendistribusian masih memerlukan bantuan mitra seperti agen dan layanan titip yang sudah memiliki jaringan logistik masing-masing.
"Kita menyerahkan kepada mitra seperti agen atau jastiper, karena mereka memiliki layanan pengiriman khusus," katanya.
Di masa depan, Sami Raos berencana memperluas jangkauan pasar hingga ke Eropa dengan bekerja sama bersama platform Master Bagasi. Namun, perluasan ini dianggap tidak mudah karena perbedaan preferensi pelanggan.
"Bagi negara Eropa cukup sulit, karena kita hanya mengandalkan warga Indonesia yang tinggal di sana. Secara umum, orang Eropa tidak terlalu menyukai makanan pedas," katanya.
Hal ini berbeda dengan pasar Asia Tenggara yang dianggap lebih menjanjikan karena memiliki kesamaan preferensi terhadap makanan dengan rasa yang kuat dan pedas.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, Sami Raos tetap percaya diri dalam terus berkembang. Pada tahun 2026, perusahaan menetapkan tujuan untuk memperkuat penyebaran produk, khususnya di pasar domestik.
"Kami ingin terus berkembang dan memfokuskan diri pada distribusi secara langsung, agar produk kami dapat menyebar ke seluruh Indonesia," kata Dani.