PRIANGAN.COM – para saudara, puasa merupakan benteng diri (perisai/junnah) yang melindungi seorang Muslim dari tindakan dosa, keinginan duniawi, emosi negatif, serta hukuman api neraka.
Ibadah ini mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri, baik secara fisik maupun mental, sehingga menjadi benteng spiritual yang kuat terhadap dosa di dunia.
Membicarakan mengenai Jumat mendatang, tepatnya pada hari Jumat tanggal 13 Maret 2026, sebagai laki-laki yang beragama Islam, kita akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Jumat, yang disebut sebagai Raja Hari atau Penghulunya Hari, dianggap oleh umat Islam sebagai hari yang penuh berkah.
Khusus untuk khutbah pada Jumat mendatang, berikut ini adalah teks khutbah Jumat yang telah dipublikasikan oleh Priangan.com dari berbagai sumber pada 13 Maret 2026 dengan tema "Puasa sebagai Sistem Perlindungan Diri".
Khutbah 1
Alhamdulillah, alhamdulillah, yang telah membimbing kami ke jalan perdamaian, dan memberi pemahaman melalui syariat Nabi mulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang satu tanpa sekutu, yang memiliki kemuliaan dan kehormatan. Dan aku bersaksi bahwa pemimpin kami dan utusan kami adalah Muhammad, hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan berkah kepada pemimpin kami Muhammad serta keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti dengan kebaikan sampai hari kiamat. Sesudah itu: wahai saudara-saudara, aku nasihati kalian dan diriku sendiri untuk takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya, semoga kalian berhasil. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: "Wahai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan kemenangan yang besar." Dan firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim." Benarlah Allah Yang Agung.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah,
Memulai khutbah pada siang hari yang penuh berkah ini, khatib menasihati kita semua, terutama dirinya sendiri, untuk selalu berupaya meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala kewajiban dan menghindari segala yang dilarang.
Barakah dan keselamatan semoga selalu tercurah kepada Nabi penghabisan masa, teladan kita, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang senantiasa memperkuat komitmen kita untuk mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah,
Dengan rasa terima kasih yang mendalam, kita mulai dengan memperbanyak kalimat alhamdulillahi Rabbil 'alamin, serta mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad, kami mengingatkan diri sendiri sekaligus mengajak seluruh jamaah umat Islam untuk meningkatkan komitmen dalam beribadah kepada Allah.
Di dalam ayat yang baru saja kita baca, Allah memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa beriman, menjaga diri dari hal-hal yang berbahaya bagi kita di dunia maupun di akhirat, sehingga kita diwajibkan untuk berpuasa.
Kemudian Nabi Muhammad saw menjelaskan dalam sebuah hadis yang telah kami sampaikan sebelumnya, bahwa puasa berfungsi sebagai benteng, pelindung, dan perlindungan diri. Itulah simbol ketakwaan, kewaspadaan, serta perlindungan yang terkandung dalam ayat: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
Hari ini, kita sedang berada di bulan Ramadan. Bulan yang menjadi kesempatan bagi kita untuk menyempurnakan rukun Islam, yaitu berpuasa. Tanpa menjalankan puasa Ramadan, keimanan kita tidak akan utuh.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad melukiskan Islam seperti sebuah bangunan. Rukun Islam merupakan tiang-tiang utama yang mendukung struktur bangunan tersebut. Sama halnya dengan kaki dalam tubuh manusia, tiang-tiang ini sangat penting. Jika salah satu dari tiang utama ini tidak ada, maka bangunan akan menjadi tidak stabil dan bisa miring. Bahkan, bangunan keislaman dapat runtuh jika tiang puasa diingkari, ditolak, atau tidak dianggap sebagai bagian dari syariat Islam.
Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah.
Di antara makna ayat: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ dan hadis اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ ialah puasa berfungsi sebagai perlindungan dan pengawasan bagi kita dari godaan iblis yang selalu mencoba menjauhkan kita dari Tuhan. Puasa menjadi benteng yang melindungi jiwa kita dari masuknya iblis ke dalam diri kita.
Puasa, sebagai salah satu dari rukun Islam, memiliki makna dan tujuan yang dalam yang perlu kita pahami. Seperti yang disebutkan dalam hadis yang mulia, puasa memiliki maksud-maksud yang tinggi. Salah satu tujuan puasa adalah untuk melindungi diri kita dari godaan iblis.
Dari Safiyah, ibu dari orang-orang beriman, radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya, "Dari Shafiyyah ra, dikabarkan bahwa Nabi saw bersabda, 'Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah.' Atau bisa juga diterjemahkan sebagai, 'Sesungguhnya setan masuk ke dalam jiwa manusia melalui aliran darah.' (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Hikmah yang terdapat dalam perkataan Rasulullah saw adalah untuk mengingatkan kita bahwa setan masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalur peredaran darah. Sistem peredaran darah ini bergantung pada bahan bakarnya, yaitu makanan dan minuman yang kita makan. Oleh karena itu, pintu utama setan memasuki tubuh manusia adalah melalui mulut.
Iblis memasuki tubuh manusia melalui dua cara utama, yaitu melalui makanan dan komunikasi. Pertama, melalui konsumsi makanan dan minuman yang tidak halal, kotor, tidak bersih, serta tidak baik. Kedua, melalui ucapan yang keluar dari mulut kita setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah.
Sering kali Al-Quran menegaskan bahwa setan adalah musuh yang jelas: عَدُوٌّ مُبِيْنٌ bagi kita. Kita harus percaya akan hal itu. Nabi pun menjelaskan bagaimana setan bekerja untuk memusuhi kita, sangat lembut dan sangat halus.
Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa salah satu pondasi untuk menghidupkan ilmu-ilmu agama yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah dengan mengenali musuh-musuh diri serta memahami strateginya dan menguasai cara mengalahkannya. Hal ini disebut oleh beliau sebagai lubbul quran (inti dari ajaran Al-Quran), jauharul quran (permata Al-Quran). Semua hal tersebut dapat kita temukan dalam karya beliau, Jawahirul Quran.
Puasa mengajarkan kita bagaimana mengendalikan keinginan dan mengatur penggunaan makanan serta minuman. Dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman selama puasa, kita bisa mengurangi kemungkinan masuknya gangguan dari setan ke dalam tubuh kita. Hal ini merupakan salah satu makna mendalam dari puasa yang perlu kita pahami dan jalani.
Itulah yang ditegaskan oleh Imam Izzuddin bin Abdissalam dalam kitabnya, Maqashidus Shaum:
Puasa adalah cara mengalahkan setan. Karena sarana setan untuk menyesatkan dan menggoda manusia adalah nafsu, dan nafsu hanya kuat melalui makan dan minum. Puasa menyempitkan saluran darah, sehingga saluran setan juga menyempit, dan dengan demikian setan dikalahkan.
Maknanya, "Puasa merupakan kemenangan (qahrun) atas setan. Karena, cara setan untuk menyesatkan dan menggoda adalah melalui hawa nafsu, dan hawa nafsu diperkuat dengan makan serta minum. Puasa menyempitkan aliran darah, sehingga jalur masuknya setan ke dalam tubuh kita juga menyempit. Dengan demikian, setan dapat dikalahkan."
Dari sini, kita dapat memahami bahwa puasa melindungi kita dari serangan iblis yang masuk ke dalam jiwa kita melalui makanan. Dengan berpuasa, kita juga menjaga keyakinan kita, karena rukun-rukun atau tiang-tiang yang menjadi dasar bangunan keislaman kita menjadi lebih sempurna dan kuat.
Melalui puasa, keinginan dan hasrat kita dapat dikendalikan sehingga kita tidak lagi tunduk pada nafsu yang tidak pernah memberi kepuasan dan ketenangan, melainkan kita mampu lebih maksimal dan sepenuhnya dalam beribadah hanya kepada Allah.
Sebagai umat Muslim, kita perlu memahami bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan latihan rohani untuk melindungi diri dari godaan iblis serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad sangat teliti dalam mengatur makanan dan minuman yang kita konsumsi. Beliau berharap agar makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita terbebas dari pengaruh setan.
Oleh karena itu, beliau sering mengingatkan orang-orang yang makan dan minum dengan tangan kiri karena cara tersebut dianggap sebagai cara makan setan. Itulah petunjuk yang diberikan oleh beliau. Beliau juga memberi teguran keras kepada anak-anak maupun orang dewasa yang ketahuan makan terburu-buru sehingga tidak menyebut nama Allah saat mengonsumsi makanan mereka. Beliau tertawa lepas ketika melihat setan memuntahkan kembali makanan yang telah dibacakan nama Allah pada suapan terakhirnya.
Itulah sistem pengawasan dan perlindungan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berpuasa. Tampaknya sederhana, melalui pengelolaan makanan, bukan hanya tentang pola makan, kandungan gizi, tetapi juga kehalalan, kesucian, serta dimensi spiritual dalam makanan dan minuman.
Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah.
Selain berpuasa secara fisik, ajaran puasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan ucapan saat berkomunikasi. Dengan menahan diri dari berkata-kata yang tidak berguna atau melukai orang lain, kita mampu menjaga diri dari godaan iblis yang masuk melalui komunikasi.
Iblis dapat memasuki seseorang melalui komunikasi yang tidak sehat seperti ejekan, hinaan, kata-kata kasar, fitnah, permusuhan, gosip, serta menyebarkan berita yang tidak jelas asalnya. Segala hal tersebut berasal dari mulut, melalui proses komunikasi.
Dengan berpuasa, keamanan kita juga terjaga. Kita menyadari bahwa puasa mengajarkan kita bagaimana mengatur komunikasi kita agar selalu bersifat positif.
Karena, puasa tidak hanya mengajarkan untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat. Sementara itu, perkataan yang tidak berguna memiliki kemungkinan besar menyebabkan gangguan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah bahwa:
Muslim adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari lisannya (HR. Muslim)
Maknanya, "Disebut sebagai Muslim yang sejati adalah ketika orang-orang muslim lainnya selamat dari ucapan mulutnya." (HR Muslim).
Para tokoh agama juga senantiasa mengingatkan kita:
Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisan
Maknanya, "Keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan."
Kita dapat melihat contoh puasa komunikasi semacam ini dalam Al-Quran, yaitu yang dilakukan oleh Sayyidah Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa as:
Maka makan dan minumlah, serta bersabarlah. Jika kamu melihat seseorang dari manusia, katakanlah: "Sesungguhnya aku telah berpuasa atas perintah Allah, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan siapa pun."
Maksudnya, "Maka makan, minum, dan bersenang-senanglah kamu. Jika kau melihat seseorang manusia, katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah berjanji berpuasa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga aku tidak akan berbicara dengan seorang pun hari ini'." (QS Maryam: 26).
Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks yang diberikan: 1. Ini adalah puasa yang unik, yang dikenal dengan nama shaum. Menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat. Ia bukan hanya disebut shiyam yang secara praktis berarti menahan diri dari makan dan minum. 2. Inilah bentuk puasa yang khusus, yang dikenal sebagai shaum. Menghindari komunikasi yang tidak penting. Hal ini bukan sekadar disebut shiyam yang dalam penerapannya berarti menahan diri dari makan dan minum. 3. Puasa yang istimewa ini dikenal dengan sebutan shaum. Mencegah diri dari obrolan yang tidak berguna. Ini bukan hanya diartikan sebagai shiyam yang secara nyata berarti menahan diri dari makan dan minum. 4. Berikut adalah puasa yang khas, yang disebut dengan istilah shaum. Menahan diri dari percakapan yang tidak bermakna. Ia bukan hanya disebut shiyam yang dalam pelaksanaannya artinya menahan diri dari makan dan minum. 5. Ini merupakan puasa yang spesial, yang dikenal sebagai shaum. Mengendalikan diri dari komunikasi yang tidak perlu. Bukan hanya disebut shiyam yang secara aktual berarti menahan diri dari makan dan minum.
Bahkan dalam ayat ini disebutkan bahwa Sayyidah Maryam diperintahkan untuk makan dan minum. Namun, ia justru diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat.
Demikian pula sistem yang telah Allah ciptakan bagi kita sebagai bentuk perlindungan terhadap keselamatan diri kita sendiri. Inilah salah satu makna dari perlindungan dan penjagaan dalam ayat: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ, serta dalam bentuk perisai atau penghalang dalam hadis: اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ.
Mari kita manfaatkan bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat perlindungan diri dari godaan iblis. Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan ketabahan dalam menjalani puasa dengan tulus dan penuh keikhlasan. Amin.
Semoga Allah memberkati saya dan kalian dalam Al-Qur'an yang Agung, dan semoga saya serta kalian diberi manfaat oleh apa yang ada di dalamnya dari ayat-ayat dan perkataan yang bijaksana. Saya mengucapkan perkataan ini, lalu saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Besar bagi saya dan kalian serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Pengasih.
Khutbah 2
Alhamdulillah wa kafya, wa usalliyu wa asallimu 'ala sayyidina Muhammad al-Mustafa, wa 'ala aalihi wa ashabihi ahli al-wafa. Asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna sayyidina Muhammad abduhu wa rasuluh. Amma ba'du, ya ayyuha al-muslimuna, uwwasiykum wa nafsii bi taqwa Allah al-aliyy al-azhim wa 'alimuu anna Allah amara kum bi amrin 'azhim, amara kum bil-shalat was-salam 'ala nabiyyih al-karim fa qala: innallaha wa malakutuhu yusalluuna 'ala al-nabiyyi, ya ayyuha alladzina amanu shaluu 'alaih wa sallimu tasliman. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama shollaita 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim wa barik 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad kama barakta 'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala aali sayyidina Ibrahim, fi al-'alamina inna ka hamidun majid. Allahumma ghfir lil-muslimina wal muslimat wal mu'minina wal mu'minat al-ahyaa minhum wa al-amm wat, Allahumma dfa' 'annaa al-bala' wal ghalaa' wal wabaa' wal fahsya' wal munkar wal baghy wa al-suuf al-mukhtalifah wa as-sadaid wa al-mihana, ma zhahara minhu wa ma batana, min badainaa hadza khassatan wa min buldan al-muslimina 'amman, inna ka 'ala kulli syai'in qadir. Rabbana la tuakhidz na in nasiyina au akhthalna rabbana wa la tachmil 'alayna isran kama hamaltahu 'ala al-ladziina min qablina rabbana wa la tachmilnna ma la taqata lana bihi wa 'afu 'annaa wa ghfir lana wa arhamnna anta maulana fansurna 'ala al-qawmi al-kafirin. Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qinna 'adzaba al-nar. Wa al-hamdu lillahi rabbil 'alamin. 'Ibadallah, inna Allah ya'muru bil-'adli wal ihsan wa i'ta' dzil qurbay wa yanhiyi 'ani al-fahsya' wal munkar wal baghy, ya'izzukum la'allakum tadhakkaru. Fadzkurullah al-azhim yadzkurkum wa ladzikru Allahi akbaru.
Lihat berita terbaru Priangan.com lainnya di: Google News