
Ringkasan Berita:
- Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu kenaikan harga minyak global. Jika harga terus meningkat, harga bahan bakar di Indonesia kemungkinan akan naik dan berdampak pada masyarakat Solo Raya.
- Kenaikan harga solar dapat meningkatkan biaya pengangkutan sebesar 7–8 persen, yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga bahan pokok, bahan bangunan, dan barang impor dalam beberapa minggu.
- Rupiah berpotensi melemah hingga Rp17.000/USD, inflasi akan naik, sementara harga emas diperkirakan juga meningkat tajam.
SOLO.COM, SOLO- Perselisihan militer antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 memicu ketidakstabilan dunia.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, namun juga berpotensi menyebar ke wilayah seperti Solo Raya, yang mencakup Kota Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Boyolali, Klaten, hingga Wonogiri.
Harga BBM Terancam Naik
Kepala Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyatakan harga minyak Brent telah mencapai US$ 73 per barel dan berisiko meningkat hingga US$ 120 jika konflik terus berkembang.
Salah satu penyebabnya adalah penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Jika harga minyak global meningkat, dampaknya dapat dirasakan pada harga bahan bakar minyak di dalam negeri.
Bagi masyarakat Solo Raya yang memanfaatkan kendaraan pribadi serta pengiriman barang melalui jalur darat, kenaikan harga solar akan langsung mengakibatkan kenaikan biaya pengangkutan.
Pendiri Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengungkapkan bahwa komponen bahan bakar minyak (BBM) berkontribusi sebesar 35–40 persen terhadap biaya operasional truk.
Jika harga bahan bakar solar meningkat sebesar 20 persen, biaya pengangkutan dapat meningkat sekitar 7–8 persen.
Peningkatan ini berpeluang meningkatkan harga rata-rata barang sebesar 0,5–0,8 persen.
Harga Bahan Pokok dan Material Konstruksi Mungkin Naik
Kenaikan biaya pengiriman akan memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Solo Raya.
Barang-barang seperti beras, gula, minyak goreng, serta bahan konstruksi berpotensi mengalami perubahan harga.
Selain itu, gangguan pada jalur perdagangan di Bab el-Mandeb dan Terusan Suez menyebabkan kapal harus mengambil rute melalui Afrika.
Akibatnya, biaya pengiriman dan premi asuransi meningkat.
Para pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor juga menghadapi ancaman inflasi yang berasal dari luar negeri.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, mengingatkan kenaikan biaya logistik bisa mulai terlihat dalam jangka dua hingga tiga minggu mendatang.
Rupiah Melemah, Emas Naik
Profesor Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengingatkan adanya kemungkinan pelemahan rupiah hingga mencapai Rp 17.000 per dolar AS jika situasi krisis semakin memburuk.
Melemahnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan harga barang impor meningkat, termasuk bahan baku industri dan produk elektronik yang banyak beredar di wilayah Solo Raya.
Di sisi lain, pakar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas global mungkin naik hingga 6.000 dolar AS per ons troy.
Maknanya, harga emas di dalam negeri juga berpeluang mengukir rekor baru.
Apa maknanya bagi warga Solo Raya?
Jika perselisihan berlarut, masyarakat Solo Raya perlu bersiap menghadapi:
- Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif transportasi
- Harga kebutuhan pokok dan barang kebutuhan yang terus meningkat
- Tekanan inflasi yang disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah
Ahli ekonomi menyarankan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, serta mempercepat pengembangan sumber energi terbarukan agar dampak global tidak terlalu berdampak pada perekonomian daerah.
Meskipun perselisihan terjadi jauh ribuan kilometer dari Solo Raya, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di kantong mereka dalam waktu yang relatif singkat.
(*)