Prediksi Harga Minyak Pasca Perang Iran vs AS-Israel dari Goldman hingga JPMorgan -->

Prediksi Harga Minyak Pasca Perang Iran vs AS-Israel dari Goldman hingga JPMorgan

2 Mar 2026, Senin, Maret 02, 2026

bengkalispos.com,JAKARTA - Harga minyak mentah global Brent melonjak sebesar 13% menjadi lebih dari 82 dolar AS per barel pada awal perdagangan hari ini, Senin (2/3/3036). Kenaikan harga minyak dan beberapa komoditas lainnya terjadi karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat serangan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran akhir pekan lalu. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang berada di bawah kendali Iran.

Peningkatan harga terjadi setelah lalu lintas kapal tanker melewati Selat Hormuz hampir berhenti sepanjang akhir pekan. Sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melintasi selat tersebut setiap hari.

Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran tetap dapat digunakan, namun pada saat yang sama mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak pada hari Minggu. Mayoritas pemilik kapal kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan melalui terusan sempit tersebut, setelah Amerika Serikat menetapkan zona peringatan laut.

Dikutip dari Bloomberg,beberapa lembaga keuangan internasional memberi peringatan tentang risiko fluktuasi harga minyak yang terus berlangsung. Citigroup meningkatkan prediksi harga minyak Brent untuk jangka pendek sebesar 15 dolar menjadi 85 dolar per barel. Dalam perdagangan minggu ini, harga minyak brent diperkirakan berada di kisaran 80 hingga 90 dolar per barel. Citigroup menganggap risiko terhadap infrastruktur energi dan aliran pasokan melalui Selat Hormuz masih besar.

Citigroup juga memprediksi kemungkinan sebesar 20% untuk skenario ekstrem, di mana harga minyak bisa naik hingga US$120 per barel jika infrastruktur energi regional terkena dampak langsung.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Rystad Energy. Kepala analisis geopolitik dari Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan gangguan yang berlangsung lama di Selat Hormuz selama beberapa minggu atau bulan bisa membuat harga minyak naik mencapai US$100 per barel. Ia menilai tambahan produksi dari OPEC+ kemungkinan tidak efektif karena sebagian besar pasokan tersebut juga harus melalui jalur yang sama.

Di sisi lain, Goldman Sachs Group menghitung premi risikoreal-timeHarga minyak mentah sekitar 18 dolar AS per barel, menggambarkan situasi penghentian total lalu lintas kapal tanker selama enam minggu di Selat Hormuz. Goldman Sachs menilai pasar telah memperhitungkan gangguan pasokan global sekitar 2,3 juta barel per hari selama setahun.

Kondisi tersebut dianggap berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pasar produk turunan minyak. Sekitar 9% pasokan gasoil global dan 18% bahan bakar pesawat diketahui melalui Selat Hormuz pada tahun lalu.

Dari segi industri, Wood Mackenzie memprediksi pemulihan penuh aliran energi di Selat Hormuz membutuhkan beberapa minggu, dengan asumsi Iran bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat. Alan Gelder, Wakil Presiden Senior Wood Mackenzie, menyatakan harga minyak berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel jika jalur tersebut tidak segera pulih, meskipun OPEC+ rencananya akan menaikkan produksi.

Selain itu, JPMorgan Chase & Co. menganggap gangguan di Selat Hormuz saat ini bersifat lebih preventif, yang dipicu oleh peringatan dari perusahaan asuransi yang membatalkan polis dan meningkatkan premi. Namun, JPMorgan memperingatkan bahwa risiko bisa bertambah jika konflik berlangsung lama dan kepemimpinan Iran kehilangan kendali atas Korps Garda Revolusi Islam.

"Jika konflik berlangsung lebih dari tiga minggu, produsen minyak di kawasan Teluk berpotensi kehabisan ruang penyimpanan dan terpaksa menghentikan aktivitas produksi," tulis analis JPMorgan dalam laporan mereka.

TerPopuler