Ramadan, Pelatihan Kesabaran dan Pembersih Hati -->

Ramadan, Pelatihan Kesabaran dan Pembersih Hati

15 Mar 2026, Minggu, Maret 15, 2026
Ramadan, Pelatihan Kesabaran dan Pembersih Hati
Ringkasan Berita:
  • Gus Syarif Hidayatullah menyampaikan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bersih-bersih jiwa serta memperkuat rasa takwa.
  • Ia memanggil umat Islam untuk menjaga semangat beribadah hingga akhir bulan Ramadan serta mencapai malam Lailatul Qadar.
  • Mengutip buku Lathaif al-Ma'arif, ia menekankan bahwa pahala perbuatan baik diperbanyak, khususnya dalam puasa.
  • Puasa juga merupakan latihan ketahanan dan pengaturan diri.

NEWS.COM - Ramadan merupakan bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, di mana setiap orang Muslim berupaya meningkatkan ibadahnya dan memperbaiki diri.

Pada sebuah ceramah dengan tema Ramadan dan Pembersihan Hati, Gus Syarif Hidayatullah dari Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya menyampaikan bahwa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bertujuan untuk membersihkan jiwa serta memperkuat rasa takut kepada Allah SWT.

"Insyaallah semangat kita ini tidak hanya pada awal Ramadan, tetapi hingga akhir bulan," katanya dalam tayangan YouTube program berita Mutiara Ramadan 2026.

Ia memanggil umat Islam untuk tetap menjaga semangat beribadah dan berdoa agar Allah memberikan kesehatan serta kelancaran sehingga puasa dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Ramadan sebagai Masa Pembersihan Jiwa

Menurut Gus Syarif, bulan Ramadan memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan spiritual seorang Muslim, karena bulan ini menjadi kesempatan untuk membersihkan jiwa dan memperbaiki hati.

Ia menegaskan bahwa perintah berpuasa dalam Al-Qur'an bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai individu yang lebih bertaqwa.

"Inti dari kewajiban berpuasa adalah agar kita semakin mendekat dan beriman kepada Tuhan," katanya.

Dengan kata lain, puasa bukan sekadar aktivitas jasmani, tetapi juga latihan rohani dalam merapikan hati, memperbaiki niat, serta meningkatkan kualitas iman.

Pahala yang Berkali-kali Lipat di Bulan Ramadan

Di dalam penjelasannya, Gus Syarif merujuk pada pernyataan dari kitab Lathaif al-Ma'arif yang ditulis oleh ulama besar Zainuddin Abul Faraj Abdurrahman Ibn Rajab al-Hanbali.

Kitab tersebut menjelaskan bahwa setiap amal manusia pada dasarnya kembali kepada dirinya sendiri. 

Namun khusus bagi umat Nabi Muhammad, satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat.

Bahkan, dalam beberapa ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa pahala tersebut dapat dikali lipat hingga ratusan kali.

Gus Syarif memberikan contoh perumpamaan dalam Al-Qur'an mengenai satu biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, dengan setiap tangkai berisi seratus biji.

"Inilah gambaran betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya," katanya.

Namun terdapat satu bentuk ibadah yang memiliki keistimewaan khusus, yaitu puasa.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menyatakan bahwa puasa dilakukan hanya untuk-Nya, dan hanya Dia yang akan memberikan balasannya.

Ini menggambarkan bahwa puasa memiliki makna spiritual yang sangat besar di sisi Tuhan.

Puasa sebagai Latihan Kesabaran

Selain membersihkan jiwa, berpuasa juga menjadi latihan ketahanan. Gus Syarif menyampaikan bahwa Ramadan sering diistilahkan sebagai bulan ketahanan.

Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa puasa merupakan separuh dari kesabaran.

Maknanya, seseorang yang menjalankan puasa sebenarnya sedang berlatih mengendalikan keinginan dan memperkuat ketahanan diri.

"Orang yang berpuasa perlu siap secara fisik dan mental dalam menjalani ibadah dengan penuh ketekunan," katanya.

Tiga Jenis Kesabaran Saat Berpuasa

Di kitab yang sama dijelaskan bahwa ketahanan memiliki tiga jenis utama.

Pertama ialah kesabaran dalam menjalani ketaatan kepada Tuhan. Contohnya, bersabar dalam menjalankan puasa, shalat, dan ibadah lainnya meskipun terkadang terasa berat.

Kedua, adalah kesabaran dalam menjauhi tindakan yang dilarang. Selama bulan Ramadan, seorang muslim diwajibkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh Allah.

Ketiga, adalah kesabaran dalam menghadapi takdir Tuhan yang tidak selalu sesuai dengan harapan manusia.

Menariknya, ketiga jenis kesabaran tersebut sejatinya terlihat dalam ibadah puasa.

Seseorang yang berpuasa perlu bersabar saat menjalani ibadah, menghindari hal-hal yang dilarang, serta mampu menahan rasa lapar dan haus.

Hakikat Cinta kepada Allah

Di akhir pidatinya, Gus Syarif merujuk kisah seorang ulama bernama Dhu al-Nun al-Misri yang pernah ditanya mengenai makna cinta kepada Allah.

Menurut para ulama, seseorang akan benar-benar mencintai Allah apabila ia mampu meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah, meskipun hal tersebut sebenarnya ia sukai.

"Jika kita masih melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah, maka cinta kita kepada-Nya belum sempurna," ujar Gus Syarif.

Contoh yang sederhana adalah menyantap makanan dan mengonsumsi minuman.

Pada kondisi biasa, hal tersebut diperbolehkan, tetapi ketika sedang berpuasa, seorang muslim bersedia meninggalkannya demi ketaatan kepada Allah, karena itulah bukti kasih sayang kepada Allah.

Gus Syarif mengajak umat Muslim untuk memanfaatkan bulan Ramadan secara optimal.

Ia berharap setiap umat muslim melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh agar memperoleh manfaat yang besar dari Allah.

"Semoga Tuhan memberikan kita kesehatan dan kelancaran agar kita mampu menyelesaikan puasa Ramadhan," katanya.

Ia juga berharap umat Islam dapat meraih malam yang sangat istimewa pada bulan Ramadan, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih unggul daripada seribu bulan.

(news.com/Yunita Rahmayanti)

TerPopuler