Rupiah Tertekan, BI Siaga Intervensi Pasar -->

Rupiah Tertekan, BI Siaga Intervensi Pasar

4 Mar 2026, Rabu, Maret 04, 2026

bengkalispos.com, JAKARTA — Kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Bank Indonesia (BI) mengatakan tetap siap berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 44 basis poin atau 0,26% ke level Rp16.916 per dolar AS. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan kenaikan indeks dolar AS yang mencapai 0,14% menjadi 99,19.

Wakil Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa bank sentral akan mengambil tindakan pencegahan dini dan tetap berada di pasar valuta asing untuk menghindari penyebaran dampak akibat memburuknya krisis di wilayah Timur Tengah.

"Kami akan terus melakukan intervensi yang tegas dan konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward [NDF] di pasar luar negeri, transaksi tunai, serta Domestic Non-Deliverable Forward [DNDF] di pasar dalam negeri, ditambah dengan pembelian SBN [surat berharga negara] di pasar primer," kata Destry dalam pernyataannya, Rabu (4/3/2026).

Meskipun sedang mengalami tren pelemahan, Destry mengatakan bahwa penurunan nilai rupiah sebenarnya masih sesuai dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Ia mencatat, secara month to date (MtD), rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,51%, yang lebih baik dibandingkan performa negara-negara tetangga (peers).

Selanjutnya, menurutnya, dasar ekonomi dan ketahanan luar negeri Indonesia masih sangat kuat, terlihat dari posisi cadangan devisa yang tetap stabil pada angka US$154,6 miliar hingga akhir Januari 2026. Arus masuk modal asing (capital inflow) di pasar keuangan dalam negeri sepanjang tahun ini juga mencatatkan hasil yang positif, yaitu sebesar Rp25,7 triliun.

Perkembangan Negara Peers

Tren pelemahan di pasar pagi ini tidak hanya mengenai rupiah. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga mengalami penurunan terhadap dolar AS.

Dilaporkan, rupee India mengalami penurunan sebesar 0,55%, baht Thailand turun 0,36%, dan peso Filipina mengalami depresiasi sebesar 0,29%. Di sisi lain, pelemahan yang lebih rendah terjadi pada dolar Singapura (-0,09%), ringgit Malaysia (-0,05%), dolar Hong Kong (-0,03%), serta yuan China (-0,02%).

Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan dan yen Jepang yang mampu menghadapi dominasi dolar AS, masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,38% dan 0,11%.

Kepala Perusahaan Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi pada hari Rabu (4/3/2026), rupiah masih akan mengalami fluktuasi dan cenderung melemah secara terbatas dalam kisaran Rp16.870 hingga Rp16.910 per dolar AS.

Sentimen utama global saat ini masih dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi konflik udara antara Amerika Serikat dan Israel yang semakin memburuk. Israel melakukan serangan terhadap Lebanon, sementara Iran merespons dengan menyerang infrastruktur energi negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.

Akibatnya, biaya pengiriman minyak dan gas meningkat tajam serta harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama beberapa hari mendatang. Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global dan memperkuat nilai tukar dolar AS.

TerPopuler