Saat Paskah, Paus Leo XIV Dapat Kejutan Patung Santo Yusuf Arimatea dari Indonesia -->

Saat Paskah, Paus Leo XIV Dapat Kejutan Patung Santo Yusuf Arimatea dari Indonesia

31 Mar 2026, Selasa, Maret 31, 2026
Ringkasan Berita:
  • Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea yang dibuat oleh seniman Indonesia saat audiensi di Vatikan menjelang Paskah.
  • Patung menggambarkan penurunan tubuh Yesus Kristus dari kayu salib, dianggap sebagai karya pertama di Indonesia yang memiliki simbolisme mendalam, termasuk penggunaan warna dan nama khusus.
  • Delegasi KWI dan PWKI yang berkunjung ke Vatikan juga menandatangani perjanjian kerja sama penggunaan Bahasa Indonesia dalam Vatican News, sekaligus memperkuat hubungan dengan Paus.
 
 

JAKARTA.COM -Paus Leo XIV menerima kejutan menjelang Perayaan Paskah pada hari Senin (30/3/2026).

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia menerima patung Santo Yusuf dari Arimatea.

Patung ini adalah yang pertama kali dibuat di Nusantara. Karya tersebut menggambarkan tokoh Yusuf Arimatea serta proses pengangkatan tubuh Yesus Kristus yang telah meninggal dari kayu salib.

Terdapat empat tokoh lain yang terlibat dalam proses penurunan tersebut, yaitu Bunda Maria, Maria Magdalena, serta dua orang pelayan Yusuf Arimatea.

Patung tersebut dibuat berdasarkan rancangan AM Putut Prabantoro, Pendiri Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).

Pada pertemuan umum hari Rabu (25/03/2026), karya tersebut diserahkan kepada Paus Leo XIV oleh Stanislaus Jumar Sudiyana ketika delegasi PWKI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menghadap Paus Leo di Lapangan St Petrus, Vatikan.

Pada pertemuan tersebut, turut hadir perwakilan PWKI lainnya yaitu, Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera dan Asni Ovier Dengen Paluin. Di sisi KWI, hadir Ketua Komisi Komunikasi Sosial Mgr Agustinus Tri Budi Utomo yang juga Uskup Surabaya serta Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial, Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo. Perwakilan PWKI dan KWI didampingi oleh Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan yang berasal dari Indonesia.

PWKI dan KWI mengunjungi Vatikan dalam rangka penandatanganan kesepakatan (MOU) penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan melalui Vatican News. Kesepakatan ini ditandatangani oleh KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Takhta Suci setelah pertemuan dengan Paus Leo XIV.

Yusuf dari Arimatea merupakan tokoh penting dalam kalangan Yahudi yang memiliki pengaruh besar dengan posisi sosial yang tinggi. Ia seorang kaya yang menjabat sebagai anggota Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) yang dihormati karena wewenangnya. Ia secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi menjadi salah satu murid Yesus.

Saat Yesus disalibkan, Yusuf Arimatea mengambil inisiatif untuk meminta jenazah Yesus agar diturunkan dan dikuburkan dengan layak. Permintaan ini diajukan kepada penguasa Romawi di Yerusalem, yaitu Pontius Pilatus. Setelah permintaan tersebut diterima, Yusuf Arimatea kemudian melepaskan jenazah Yesus dari salib dan selanjutnya menguburkan Yesus di makam yang disiapkan oleh dirinya sendiri.

Pertama Kali

Menurut Putut Prabantoro, dapat dipastikan patung berdimensi tiga itu merupakan karya pertama di Indonesia.

Bahkan patung yang menggambarkan adegan penurunan tersebut sulit ditemukan di wilayah lain di dunia, termasuk di Roma, Italia yang menjadi pusat gereja Katolik global.

Ia meminta bantuan Mas Nico dari Brata Gallery di Yogyakarta dalam membuat patung tersebut.

“Sebelum membuat patung tersebut, saya sudah melakukan penelusuran ke berbagai sumber melalui internet. Bahkan pematung di berbagai kota di Indonesia ketika diminta untuk membuat patung Yusuf Arimatea, selalu meminta contoh atau model jadi, untuk memudahkan pembuatannya. Sementara toko-toko penjual patung-patung rohani dengan cepat menyatakan tidak pernah memiliki,” ujar Putut Prabantoro dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3/2026).

Pengakuan Founder PWKI tersebut, desain yang dibuatnya dilakukan berdasarkan rekonstruksi dari cerita kakaknya L Putut Widiantoro yang mendapat bisikan seorang pria serta penampakan (vision) tentang kisah penurunan tubuh Yesus oleh Yusuf Arimatea. Oleh Widiantoro, adiknya diminta untuk mempersembahkan patung tersebut kepada Paus.

“Ada detail-detail khusus pada fisik patung yang dibuat. Itu merupakan poin penting yang perlu saya catat dalam proses membuatnya. Poin-poin penting itu  menjadi detail utama untuk menjelaskan proses penurunan tubuh Yesus dari salib. Praktis. karena tidak ada patung yang tersedia dirinya harus membuatnya sendiri. ” ujarnya.

Dua Hal Penting

Berdasarkan pengakuan Putut Prabantoro, terdapat dua hal yang penting pada patung tersebut. Pertama, warna dari patung tersebut, dan yang kedua adalah nama patungnya.

Dalam penglihatan saudara laki-lakinya, adegan penurunan Yesus dari salib terlihat berwarna-warni. Setiap tokoh memiliki warna tersendiri, khususnya pada pakaian yang mereka kenakan.

Namun karena fokus utama adalah Yusuf dari Arimatea, mungkin orang tidak akan mengenali tokoh yang dimaksud. Oleh karena itu, secara kreatif, Putut meminta tukang patung untuk memberikan warna khusus pada tokoh utamanya. Sementara tokoh-tokoh lain diberi warna hitam.

"Alasannya diberi warna hitam selain Yusuf Arimatea karena warna hitam menggambarkan peristiwa kesedihan. Hanya Yusuf Arimatea yang tidak diberi warna hitam," katanya.

Setelah patung selesai dibuat, Widiantoro meminta agar patung itu diberi nama. Nama yang dipilih harus menggunakan bahasa Ibrani (Yahudi) dan Latin. Dan, bukan nama dalam bahasa Inggris atau bahkan Indonesia. Ibrani dan Latin merupakan dua bahasa yang digunakan secara resmi pada masa peristiwa penyaliban Yesus berlangsung.

Untuk memastikan penulisannya, Putut Prabantoro selanjutnya bertanya mengenai cara menuliskan nama dalam dua bahasa kepada dua pastor yaitu Rm Markus Solo Kewuta SVD yang bekerja di Vatikan dan Rm Antonius Suhermanto yang merupakan mahasiswa doktoral dari Keuskupan Tanjung Karang.

"Jika dihitung, dari pembuatan sketsa hingga patung selesai membutuhkan waktu 7 (tujuh) bulan," kata Putut.

Mengenai kemungkinan bertemu dengan Paus Leo, menurut Putut, adalah kisah yang unik. Keputusan untuk berangkat ke Vatikan ditentukan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, saat dirinya bersama Mayong Suryo Laksono menghadap pada 15 Februari 2026.

Menurut Mayong Suryo Laksono, Uskup Surabaya menyatakan bahwa penandatanganan MOU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi akan dilakukan pada hari Rabu, 25 Maret 2026.

Alasannya adalah pertama, karena Uskup Surabaya hanya memiliki 5 (lima) hari yaitu tanggal 23 hingga 27 Maret dan pada 28 Maret harus sudah tiba di Surabaya.

Alasan kedua, tanggal 25 Maret adalah hari perayaan Bunda Maria menerima berita baik dari Malaikat Gabriel. Berita baik tersebut berkaitan dengan kehendak Tuhan yang menjadikan Maria sebagai ibu dari bayi yang kelak akan diberi nama Yesus.

Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menyebabkan gangguan dalam jalur penerbangan seluruh dunia, menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan serta kenaikan harga tiket pesawat menuju Eropa. Pemberangkatan ke Roma hampir ditunda, demikian dikatakan oleh Mgr Didik, panggilan akrab Uskup Surabaya tersebut.

Kepada Mgr Didik dan Rm Markus Solo Kewuta SVD diceritakan kisah perjalanan patung Yusuf Arimatea.

Patung itu dianggap sebagai rahasia atau misteri oleh Uskup Surabaya. Dalam misa kudus pada Rabu (25/03/2026), sebagian makna misteri tersebut "dijelaskan" di kapel Biara St Maria Teresa Scrilli, di Via Baglioni 10, Roma.

BERITA TERKAIT

Baca berita lain dari Jakarta.com di Google News atau langsung pada halaman Indeks Berita

TerPopuler