Tips psikolog untuk hadiri bukber, jangan ragu lagi -->

Tips psikolog untuk hadiri bukber, jangan ragu lagi

6 Mar 2026, Jumat, Maret 06, 2026

bengkalispos.com,MALANG—Pertemuan bersama yang seharusnya menjadi momen silaturahmi sering kali berubah menjadi tempat perbandingan sosial ketika pembicaraan mengenai pekerjaan, bisnis, pendidikan, hingga pernikahan membuat sebagian orang merasa ragu akan posisi mereka sendiri dan bagaimana menghadapinya, tidak perlu merasa minder.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, menjelaskan bahwa rasa minder tidak timbul karena bukbernya, tetapi karena bertemu dengan teman yang memiliki perkembangan kehidupan yang berbeda, sehingga tanpa disadari seseorang melakukanupwardperbandingan sosial ketika melihat prestasi orang lain yang dianggap lebih baik.

"Sebenarnya yang membuat seseorang merasa minder bukanlah kegiatan bukber itu sendiri, melainkan bagaimana ketika kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dari kita. Ketika kita melihat teman yang lebih sukses, kita cenderung membandingkan diri kita dengan mereka. Pada saat itulah rasa iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons," katanya Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan, dorongan untuk membandingkan diri semakin besar ketika bertemu dengan teman lama karena adanya kesamaan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan pribadi.

Sahabat dari masa sekolah menengah atau perguruan tinggi sering dianggap memiliki awal yang sama, sehingga secara tidak sadar menjadi patokan dalam menilai kesuksesan hidup saat ini. Semakin besar rasa persamaan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan untuk menggunakannya sebagai acuan dalam mengevaluasi kondisi diri sendiri, baik dalam hal karier, hubungan, maupun pencapaian finansial.

"Karena merasa memiliki latar belakang yang sama, kita cenderung mengira posisi kita saat ini seharusnya tidak terlalu berbeda," katanya.

Meskipun setiap individu memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda, merasa kurang percaya diri dalam situasi sosial merupakan hal yang wajar. Secara alami, manusia cenderung membandingkan dirinya sendiri untuk mengetahui posisi dan kondisi saat ini, baik dalam hal kemampuan, kepribadian, maupun sikap.

Atika juga menekankan bahwa proses ini tidak selalu memiliki dampak negatif. Membandingkan diri dengan orang yang lebih sukses dapat menjadi sumber semangat untuk berkembang, sementara melihat orang dengan prestasi berbeda juga bisa memicu rasa bersyukur dan memperkuat rasa percaya diri, asalkan individu mampu memahaminya secara seimbang.

"Selain itu, peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang melihat kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat harga diri yang dimiliki, meskipun konten yang ditampilkan sering kali hanya bagian kecil dari kehidupan seseorang dan tidak mencerminkan kenyataan secara utuh," katanya.

Untuk tetap percaya diri ketika berhadapan dengan banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar seseorang tidak hanya memperhatikan orang-orang yang capaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan hidup orang lain secara lebih seimbang.

Selain itu, penting untuk memfokuskan energi pada pengembangan diri dengan menanyakan langkah nyata apa saja yang dapat dilakukan untuk berkembang, serta terbiasa menulis setidaknya tiga pencapaian yang telah diraih sebagai pengingat bahwa setiap orang berkembang dengan waktu dan kecepatan yang berbeda.

“Jika overthinkingberlangsung lama dan mengganggu kegiatan sehari-hari, maka bantuan ahli selalu dapat diperoleh," katanya.

TerPopuler