Warga Berebut Gunungan di Grebeg Pasa Keraton Surakarta -->

Warga Berebut Gunungan di Grebeg Pasa Keraton Surakarta

22 Mar 2026, Minggu, Maret 22, 2026

Ratusan penduduk mengisi area Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah, pada hari Minggu, 22 Maret 2026 sejak pagi. Mereka sedang menantikan momen yang menjadi tradisi tahunan.Grebeg Pasayang diadakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tradisi budaya tersebut kembali menyajikan prosesi pengangkutan gunungan sebagai lambang rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Dari dalam kompleks Keraton Surakartasebuah pasangan gunungan, yaitu gunungan jalu (laki-laki) dan gunungan pawestri (perempuan) dibawa oleh puluhan abdi dalem menuju Masjid Agung. Upacara ini bukan hanya sebuah prosesi budaya, tetapi juga penuh makna filosofis yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Pengulu Tafsir Anom Keraton Surakarta, Muhtarom, menyampaikan bahwa Grebeg Pasa memiliki konsep yang mirip dengan Grebeg Mulud (Maulid Nabi) atau Grebeg Besar, yaitu sebagai bentuk rasa syukur Keraton Surakarta kepada Allah SWT atas berkah yang telah diberikan kepada seluruh umat termasuk Keraton Surakarta.

“Grebeg Pasa merupakan bentuk rasa syukur keraton terhadap anugerah Tuhan, khususnya setelah umat Islam melaksanakan puasa selama sebulan penuh,” kata Muhtarom saat diwawancarai oleh para jurnalis usai perayaan Grebeg Poso di Masjid Agung Surakarta hari ini, Minggu, 22 Maret 2026.

Selanjutnya Muhtarom menjelaskan makna di balik isi gunungan. Gunungan jalu terdiri dari hasil bumi mentah seperti umbi dan sayuran yang melambangkan tanggung jawab laki-laki dalam mencari penghidupan.

"Gunungan jalu atau laki-laki diisi dengan bahan-bahan makanan mentah berbentuk polo kependem atau polo kasamper atau polo gantung, sebagai simbol bahwa seorang laki-laki memiliki tanggung jawab penuh terhadap keluarganya. Tugas seorang laki-laki adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yang dinyatakan dalam bentuk polo," katanya.

Sementara gunungan pawestri terdiri dari makanan siap saji yang menggambarkan peran wanita dalam mengelola hasil kerja suami sebagai kebutuhan rumah tangga.

"Gunungan perempuan atau istri sebagai simbol wanita bahwa isi makanan yang siap saji artinya seorang wanita harus mampu mengatur hasil kerja suami, pendapatan suami, lalu diolah dengan baik untuk disajikan kepada keluarganya guna memenuhi kebutuhan dan keperluan hidup keluarga," katanya.

Saat tiba di halaman Masjid Agung, suasana menjadi penuh semangat. Doa dilakukan. Tidak lama setelah doa selesai, warga yang sudah menunggu sejak pagi langsung berebut isi gunungan yang dianggap membawa keberuntungan. Banyak orang datang dari berbagai penjuru kota hanya untuk mendapatkan bagian.

Dina Oktavia, berusia 22 tahun, warga dari Solo, mengakui bahwa ia selalu mengikuti tradisi ini setiap tahun. Ia tiba sejak pukul 09.30 WIB agar bisa mendapatkan posisi yang strategis. “Tadi saya mendapat telur dan kacang panjang. Nanti akan dimasak di rumah, semoga membawa keberuntungan karena sudah didoakan oleh abdi dalem,” ujarnya.

Pernyataan serupa diungkapkan Indri, 50 tahun, warga Semanggi, Solo. Ia mendapatkan kacang panjang, kerupuk, dan telur. "Setiap tahun datang ke sini agar mendapat berkah. Hasilnya dimasak menjadi lauk di rumah," katanya.

Grebeg Pasa bukan sekadar upacara adat, tetapi juga menjadi daya tarik pariwisata yang menggabungkan nilai spiritual, kearifan lokal, dan rasa persatuan. Dalam era modern, tradisi ini tetap bertahan, menjadi bukti kuat akan kedalaman budaya masyarakat Surakarta yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

TerPopuler