5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik -->

5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik

21 Apr 2026, Selasa, April 21, 2026
5 Kapal Iran Disita AS, Harga Minyak Kembali Naik
Ringkasan Berita:
  • AS menyerang dan mengambil alih kapal berbendera Iran di dekat Selat Hormuz, sehingga memicu tuduhan pelanggaran gencatan senjata dari Iran.
  • Iran menolak berunding dengan tekanan dan mempertahankan hak strategisnya di Selat Hormuz.
  • Tensi tersebut menyebabkan harga minyak global melonjak tajam yang berdampak pada negara-negara Asia dan Eropa.

NEWS.COM -Peristiwa yang terjadi di Iran masih menjadi perhatian global dalam 24 jam terakhir.

Agen menyerang dan mengambil alih kapal yang berkibar bendera Iran, dikatakan berusaha menghindari blokade di dekat Selat Hormuz.

Iran juga menolak perundingan dengan AS di bawah tekanan dan menyatakan akan terus mempertahankan hak strategisnya.

Sementara itu, harga minyak global mengalami kenaikan dalam perdagangan awal, Minggu (19/4/2026), akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Berikut berita selengkapnya.

1. AS Menangkap dan Menyita Kapal Berbendera Iran, Disebut Coba Menghindari Blokade di Sekitar Selat Hormuz

Amerika Serikat (AS) melakukan serangan dan menyita sebuah kapal pengangkut yang berbendera Iran, pada hari Minggu (19/4/2026).

Menurut Amerika Serikat, kapal pengangkut barang yang berbendera Iran telah berusaha menghindari penjagaan armada laut di sekitar Selat Hormuz.

Merespons serangan Amerika Serikat, komando militer gabungan Iran berjanji untuk membalas.

Akibat serangan Amerika Serikat tersebut, muncul pertanyaan mengenai gencatan senjata yang rapuh beberapa hari sebelum berakhir.

Saat ini, para pihak yang bertengkar sedang berupaya memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa kapal perang rudal Angkatan Laut AS di Teluk Oman memberi peringatan kepada kapal yang berbendera Iran, Touska, untuk berhenti, dan kemudian "menghentikan mereka secara langsung dengan membuat lubang di bagian mesin."

"Angkatan Laut Amerika Serikat telah menghentikan kapal yang dikenai sanksi AS dan saat ini sedang memeriksa isinya," kata Trump, Minggu, dilaporkan oleh AP News.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat, yang tidak merespons pertanyaan, menyatakan bahwa kapal perusak tersebut telah memberikan "peringatan berulang selama enam jam."

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata

Komando militer gabungan tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, menuduh Amerika Serikat melanggar perjanjian damai dengan menembak salah satu kapal perdagangan Iran di Teluk Oman, dan berjanji akan membalas.

Media pemerintah merujuk pada pernyataan juru bicara Khatam Al-Anbiya yang menyampaikan pada hari Senin (20/4/2026) pagi bahwa kapal tersebut sedang berlayar dari Tiongkok menuju Iran.

"Kami memberi peringatan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons dan membalas tindakan pencurian senjata oleh militer AS," kata juru bicara tersebut.

Dilaporkan oleh Arab News, kejadian ini terjadi di tengah situasi yang memanas di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dan gas alam cair global, yang hampir tertutup sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai tujuh minggu lalu.

Iran sempat membuka kembali selat tersebut pada Jumat (17/4/2026) sebagai bentuk pengakuan terhadap gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, namun menutupnya kembali keesokan harinya sebagai respons terhadap blokade yang diterapkan AS terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan Iran.

Trump menyatakan Touska sedang dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat "karena catatan aktivitas ilegal sebelumnya."

Kapal Touska tercatat di situs web Kantor Pengawasan Aset Asing Kementerian Keuangan sebagai kapal yang dinaiki bendera Iran dan terkena sanksi Amerika Serikat.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Iran Menolak Perundingan di Bawah Tekanan AS, Mengklaim Memiliki Hak di Selat Hormuz serta Menghina Trump

Iran menunjukkan pendirian tegas terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan menolak semua bentuk pembicaraan yang dilakukan di bawah tekanan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh anggota parlemen Iran, Rouhollah Izadkhah, yang merujuk pada petunjuk Pemimpin Revolusi dan Republik Iran, Sayyed Motjaba Khamenei.

"Jika terjadi negosiasi, kita akan memasukinya dengan posisi yang kuat dan penuh keyakinan terhadap angkatan bersenjata kita," kata Izadkhah, mengutip Al Mayadeen, Senin (20/4/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa Iran siap menghadapi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beserta aliansinya di kawasan.

Menurutnya, tujuan dari negosiasi bukanlah untuk memenangkan pertandingan, tetapi agar Washington dapat memahami posisi Teheran.

Selanjutnya, Izadkhah menegaskan pendirian tegas negaranya mengenai kepentingan strategis.

Kami tidak akan mengalah kepada siapa pun, dan kami tetap mempertahankan hak-hak kami di Selat Hormuz.

"Kami akan membuat kerangka kerja khusus untuk mengelolanya sesuai dengan hukum internasional," katanya.

Ia juga menghina kebijakan blokade yang dijalankan Trump di Selat Hormuz sebagai sebuah pementasan yang gagal, serta menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berani melakukan serangan langsung terhadap Iran.

Di sisi lain, kantor berita resmi Iran, (IRNA), menyangkal laporan mengenai adanya putaran kedua pembicaraan antara Iran dan AS-Israel di Islamabad.

IRNA menyatakan bahwa laporan tersebut "tidak benar" dan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Washington.

IRNA juga menyoroti sikap Amerika Serikat yang dianggap tidak konsisten.

IRNA mengatakan bahwa ekstremisme dan tuntutan yang berlebihan serta tidak realistis, serta perubahan posisi yang terus-menerus menjadi hambatan utama.

Pada situasi itu, IRNA menekankan, tidak ada kemungkinan yang jelas untuk negosiasi yang menghasilkan kesepakatan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Gerakan diam AS Mengangkut Baterai Rudal THAAD ke Yordania Terungkap oleh Tiongkok Melalui Foto Satelit

Pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kembali mendapat perhatian internasional setelah sistem pertahanan rudal canggihnya terlihat melalui gambar satelit yang dikeluarkan oleh perusahaan China.

Di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran, Departemen Pertahanan secara diam-diam mengalihkan baterai THAAD dan Patriot ke wilayah Yordania.

Namun, tindakan diam tersebut justru terungkap, menandai masa baru persaingan antara Amerika Serikat, Iran, dan Tiongkok dalam perang modern yang berbasis rudal dan pengintaian luar angkasa.

Citra satelit beresolusi tinggi yang dirilis pada 19 April menunjukkan secara rinci lokasi terbaru peluncur, radar, serta kendaraan pendukung militer Amerika Serikat.

Temuan ini memperkuat fakta bahwa meskipun terjadi gencatan senjata, pergerakan militer besar tetap sulit untuk disembunyikan di masa pengawasan satelit yang canggih.

Seorang analis keamanan Barat mengatakan, "Setiap tindakan militer besar kini dilakukan di bawah pengawasan terus-menerus dari luar angkasa."

Pergeseran sistem pertahanan ini tidak dilakukan tanpa alasan. Serangan balasan Iran pada bulan Maret lalu dilaporkan merusak fasilitas THAAD di sekitar Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.

Radar utama AN/TPY-2 yang berperan sebagai "mata" sistem tersebut mengalami kerusakan parah, sehingga memaksa Amerika Serikat untuk meninjau kembali strategi pertahanannya di wilayah tersebut.

Gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada 8 April—dengan perantaraan Pakistan—memberi kesempatan kepada Pentagon untuk memperbaiki serta memindahkan sistem pertahanan tersebut.

Sebaliknya, militer Amerika Serikat memutuskan untuk menyebarluaskan sistem tersebut secara lebih merata guna mengurangi potensi kerusakan menyeluruh akibat serangan besar.

Ini bukan hanya perubahan strategis sementara, melainkan bagian dari rencana penyempurnaan pertahanan regional," kata seorang sumber militer yang mengetahui operasi tersebut. Ia menambahkan bahwa penyebaran sistem secara terpisah bertujuan "membuat target musuh menjadi bingung dan memperkuat kemampuan operasional.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Harga Minyak Kembali Meningkat Akibat Tidak Ada Solusi Antara AS dan Iran Mengenai Selat Hormuz, Negara di Asia-Eropa Terkena Dampak

Harga minyak global mengalami kenaikan dalam perdagangan awal, Minggu (19/4/2026), akibat kemacetan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang menghalangi kapal tanker untuk melewati Selat Hormuz, jalur air penting di Teluk Persia yang menjadi vital bagi pasokan energi dunia.

Harga minyak mentah Amerika naik sebesar 6,4 persen menjadi $87,90 per barel satu jam setelah perdagangan dilanjutkan di Chicago Mercantile Exchange.

Kemudian, harga minyak mentah Brent, yang menjadi standar internasional, meningkat sebesar 5,8 persen menjadi $95,64 per barel.

Pergerakan pasar ini terjadi setelah lebih dari dua hari penuh harapan yang meningkat dan kekecewaan terkait Selat Hormuz.

Harga minyak mentah anjlok lebih dari 9 persen pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran mengatakan akan sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif dikuasainya, untuk lalu lintas komersial.

Teheran membatalkan keputusan itu dan menembaki beberapa kapal pada Sabtu (18/4/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku.

Pada hari Minggu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat menyerang dan memaksa menyita sebuah kapal kargo yang berbendera Iran, yang diduga berusaha menghindari blokade tersebut.

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran bersumpah akan melakukan balasan. 2. Berikutnya, komando militer gabungan Iran berjanji akan membalas serangan. 3. Selanjutnya, pasukan militer gabungan Iran mengklaim akan merespons dengan balasan. 4. Komando militer gabungan Iran bersumpah akan memberikan balasan berikutnya. 5. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran menegaskan akan membalas tindakan yang dilakukan. 6. Setelah itu, komando militer gabungan Iran bersumpah akan melakukan pembalasan. 7. Berikutnya, komando militer gabungan Iran menyatakan akan membalas serangan. 8. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran berkomitmen untuk membalas. 9. Komando militer gabungan Iran bersumpah akan memberikan balasan terhadap tindakan yang dilakukan. 10. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran menegaskan bahwa mereka akan membalas.

Negara-negara di Asia dan Eropa yang terkena dampak

Kenaikan harga minyak pada hari Minggu menghilangkan sebagian besar penurunan yang terjadi pada Jumat, menunjukkan kembali munculnya keraguan mengenai seberapa cepat kapal akan kembali mengangkut jumlah besar minyak yang diimpor dunia dari Timur Tengah.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Menembak 7 Anak Kandungnya, Pria Amerika Serikat Tewas Ditembak oleh Polisi Saat Melarikan Diri

Seorang lelaki sekaligus ayah di Louisiana, Amerika Serikat (AS), dengan nama Shamar Elkins (31 tahun), menembak delapan anak, termasuk tujuh putranya sendiri, pada hari Minggu (19/4/2026) waktu setempat.

Dilaporkan oleh Associated Press (AP), pelaku tidak hanya menembak anaknya, tetapi juga dua perempuan yang salah satunya adalah istrinya. Akibatnya, korban mengalami cedera parah.

Juru bicara Kepolisian Shreveport, Chris Bordelon, menyampaikan bahwa semua korban anak yang meninggal berada dalam kisaran usia 3 hingga 11 tahun.

Dilaporkan oleh CNN, para korban yang telah teridentifikasi adalah JE (3), SE (5), KP (6), LP (7), MP (10), SS (11), KS (6), dan BS (15)

Ia menyebutkan pelaku juga meninggal setelah ditembak oleh aparat kepolisian saat berusaha kabur.

Berdasarkan penyelidikan sementara, diperkirakan alasan tindakan kekerasan Elkins terkait dengan masalah dalam keluarganya.

"Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya katakan, hati saya benar-benar kaget. Saya tidak mampu membayangkan bagaimana kejadian semacam ini bisa terjadi," ujar Bordelon.

Ia menceritakan kejadian dimulai ketika pada hari Minggu pagi, Elkins tiba-tiba menembak seorang perempuan di salah satu rumah di kawasan Shreveport, Louisiana.

Kemudian, pelaku berpindah ke rumah kedua dan menembak tujuh anak. Selanjutnya, satu anak ditemukan meninggal di atap yang diduga tertembak saat sedang mencoba kabur.

Di sisi lain, terdapat seorang anak yang juga melompat dari atap bangunan tersebut dan diduga dalam keadaan baik setelah dibawa ke rumah sakit.

Pada kesempatan yang sama, anggota DPR Amerika Serikat dari Louisiana, Tammy Phelps, menyebutkan bahwa beberapa anak sempat berusaha kabur melalui pintu belakang rumah sebelum diserang dengan kekerasan oleh Elkins.

"Saya bahkan tidak mampu membayangkan kondisi yang benar-benar dialami oleh petugas polisi dan tim respons darurat ketika mereka tiba di sini hari ini," ujarnya dalam konferensi pers.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(news.com)

TerPopuler