5 Kargo Kapal Iran yang Disita: Foto Tentara Israel di Lebanon -->

5 Kargo Kapal Iran yang Disita: Foto Tentara Israel di Lebanon

22 Apr 2026, Rabu, April 22, 2026
5 Kargo Kapal Iran yang Disita: Foto Tentara Israel di Lebanon
Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat menyita sebuah kapal kontainer Iran yang diberi nama Touska di Teluk Oman setelah kru kapal tidak menghiraukan peringatan selama enam jam.
  • Kapal tersebut diduga mengangkut barang-barang yang bersifat ganda seperti logam, pipa, dan komponen elektronik yang bisa digunakan untuk kebutuhan militer.
  • Di sisi lain, foto prajurit Israel yang memasak di rumah penduduk Lebanon menimbulkan kritik luas sebagai simbol penjajahan dan penghinaan terhadap martabat rakyat Lebanon.

NEWS.COM - Peristiwa global menjadi perhatian utama dalam 24 jam terakhir.

Kapal kargo berbendera Iran, Touska, yang disita oleh pasukan Amerika Serikat (AS), diduga mengangkut barang-barang yang dianggap sebagai barang yang dapat digunakan untuk dua keperluan.

Di sisi lain, foto prajurit Israel memasak di rumah penduduk Lebanon menimbulkan protes karena dianggap sebagai tanda penghinaan dan penguasaan.

Berikut berita selengkapnya.

1. Dokumen Beredar Mengungkap Pasokan Senjata Rusia ke Iran: Pesawat Tempur Su-35 hingga Rudal Kh-38

Kolaborasi militer antara Rusia dan Iran kini bukan lagi sekadar wacana geopolitik, tetapi mulai menunjukkan wujud nyata yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah.

Dokumen yang terungkap menunjukkan adanya aliran senjata strategis dari Moskow ke Teheran hingga tahun 2027—sebuah tanda bahwa konflik regional kini semakin berkaitan dengan persaingan global.

Di dokumen yang diunggah oleh situs united24media, Rusia dilaporkan menyediakan pesawat tempur Su-35 beserta peralatan senjata yang digunakannya.

Paket ini tidak hanya memperkuat kemampuan tempur Iran, tetapi juga memperluas jangkauan militer mereka dalam menghadapi kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel.

"Tujuan mereka jelas—menghancurkan pesawat lawan," demikian isi dokumen yang disebutkan dalam laporan tersebut.

Yang membuat penemuan ini penting bukan hanya jenis senjata yang dikirim, tetapi juga durasi waktu pengirimannya.

Pengiriman yang direncanakan hingga tahun 2027 mencerminkan adanya strategi jangka panjang, bukan sekadar tindakan darurat terhadap konflik yang sedang berlangsung.

Hal ini menunjukkan bahwa Rusia memandang Iran sebagai mitra utama dalam menghadapi tekanan dari Barat.

Jenis-jenis rudal yang terdaftar—mulai dari Kh-38 hingga K-77—mencerminkan peningkatan kemampuan multidomain Iran, baik dalam pertempuran udara maupun serangan darat dan laut.

Sukhoi Su-35 (kodifikasi NATO: Flanker-E) dibuat sebagai pesawat unggulan dalam pertempuran udara yang juga mampu melaksanakan tugas serangan darat dengan menggunakan radar multimode yang mampu mengawasi hingga 30 target secara bersamaan.

Salah satu senjata utama Su-35 dalam serangan permukaan adalah Kh-38, yang merupakan kategori rudal udara-ke-permukaan dengan berbagai sistem pengendali, mulai dari laser, inframerah, hingga satelit, tergantung pada tuntutan misi di lapangan.

Perjanjian kerja sama pengadaan alat perang Rusia oleh Iran.

Menggunakan sistem ini, Iran tidak hanya memperkuat pertahanannya, tetapi juga meningkatkan kapasitas serangnya secara signifikan.

Selanjutnya, dokumen tersebut mengungkap jalur produksi industri militer Rusia yang terlibat secara terstruktur.

Dari bahan peledak hingga komponen elektronik, seluruh lingkungan industri pertahanan digerakkan. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi tersebut merupakan kebijakan pemerintah, bukan transaksi acak antara berbagai entitas.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Kapal Iran yang Disita Amerika Serikat Mungkin Membawa Alat dengan Fungsi Ganda, Diduga Berangkat dari Asia

Kapal kargo berbendera Iran, Touska, yang disita oleh pasukan Amerika Serikat (AS), diduga membawa barang-barang yang dianggap sebagai barang dwiguna.

Alat dengan fungsi ganda mungkin bisa dimanfaatkan oleh militer.

Hal tersebut disampaikan oleh sumber keamanan maritim Amerika Serikat pada hari Senin (20/4/2026).

Kapal kargo kecil ini termasuk dalam grup Islamic Republic of Iran Shipping Lines (IRISL) yang telah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat.

Kapal tersebut naik pada hari Minggu (19/4/2026) di dekat pelabuhan Chabahar Iran di Teluk Oman dan terakhir memberikan posisinya pada pukul 13.08 GMT, berdasarkan data pemantauan kapal di platform Marine Traffic.

Pemimpin Pusat Amerika Serikat menyatakan, kru Touska tidak mematuhi peringatan yang berulang selama enam jam, dan bahwa kapal tersebut melanggar pembatasan milik Amerika.

Sumber keamanan, yang enggan mengungkap identitasnya, menyatakan bahwa pendapat awal mereka adalah kapal tersebut mungkin membawa barang-barang yang bisa digunakan untuk dua tujuan setelah perjalanan dari Asia.

"Kapal tersebut sebelumnya pernah membawa barang-barang yang dianggap memiliki fungsi ganda," ujar salah satu sumber, Senin, dilansir Arab News.

Sumber tersebut tidak menyajikan informasi lebih lanjut mengenai barang-barang tersebut.

Pusat Komando Amerika Serikat telah memasukkan logam, pipa, dan komponen elektronik sebagai barang-barang lain yang bisa memiliki fungsi militer maupun industri serta dapat disita.

Tuntutan Iran

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat menyerang kapal perdagangan Iran, Touska, di dekat wilayah pesisirnya.

"Menyesali kejadian tersebut sebagai pelanggaran hukum dan pelanggaran hukum internasional," menurut laporan media Iran, Selasa (21/4/2026).

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Kapal Iran Disita Amerika Serikat, Apakah Ada Keterlibatan Tiongkok?

Mengutip dari FirstPost, Touska merupakan kapal pengangkut kontainer yang memiliki bendera Iran.

Panjangnya sekitar 294 meter dengan lebar 32 meter, meskipun sering dianggap "kecil", kapal ini masih termasuk besar berdasarkan data dari MarineTraffic.

Touska dikelola oleh Mosakhar Darya Shipping Co yang berlokasi di Teheran.

Kapal ini telah mendapat sanksi dari Amerika Serikat sejak tahun 2018.

Sejak tahun 2012, seluruh manajer teknis dan komersial dari perusahaan pemiliknya juga telah menerima sanksi, menurut laporan CNN.

Pada 2019, AS memberlakukan sanksi terhadap IRISL dan menyebutnya sebagai “jalur pelayaran pilihan bagi pelaku proliferasi dan agen pengadaan Iran,” termasuk untuk mengangkut material bagi program rudal balistik Iran, seperti dilaporkan Reuters.

Charlie Brown, mantan perwira Angkatan Laut Amerika Serikat dan penasihat senior United Against Nuclear Iran, menyampaikan kepada WSJ bahwa Touska sering melakukan perjalanan antara Tiongkok dan Iran.

Kapal tersebut diketahui singgah di pelabuhan Zhuhai di Tiongkok Selatan sebanyak dua kali pada bulan Maret, kata Brown.

Reuters juga melaporkan, merujuk pada analisis satelit dari SynMax, bahwa kapal tersebut terlihat berlabuh di pelabuhan Taicang, Tiongkok, di utara Shanghai, pada 25 Maret, kemudian berada di pelabuhan Gaolan di bagian selatan Tiongkok pada 29 hingga 30 Maret.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. 10 Negara yang Memiliki Tarif Pajak Terbesar di Dunia: Belanda sampai Israel, Jepang Berada di Peringkat Kedua

Beberapa negara berikut ini memberlakukan pajak penghasilan pribadi yang sangat besar kepada penduduknya.

Kebijakan ini biasanya bertujuan untuk menyokong layanan masyarakat yang luas, seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Dilaporkan oleh imidaily.com, pajak kekayaan merupakan salah satu alat yang paling sering menjadi perdebatan dalam sistem perpajakan global, sekaligus salah satu yang paling jarang diterapkan.

Dari 38 negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), hanya empat yang menerapkan pajak kekayaan bersih secara menyeluruh terhadap warga negara: Norwegia, Spanyol, Swiss, dan Kolombia.

Beberapa negara lain, seperti Prancis, Italia, Belgia, dan Belanda, memberlakukan pajak terhadap jenis aset tertentu, bukan terhadap keseluruhan kekayaan bersih.

Berbeda dengan pajak penghasilan yang dipungut terhadap pendapatan warga, pajak kekayaan dikenakan terhadap aset yang dimiliki.

Perbedaan ini sangat penting bagi individu yang memiliki kekayaan bersih tinggi (HNWI) di mana kekayaan mereka terpusat pada aset, bukan pada pendapatan saat ini.

Di antara sepuluh negara dengan tarif pajak terbesar di dunia, Belanda berada di peringkat kesepuluh.

Yaitu dengan besaran pajak penghasilan pribadi mencapai 49,5 persen.

Nomor tersebut menggambarkan komitmen pemerintah dalam mempertahankan keseimbangan antara pendapatan negara dan kualitas kehidupan rakyat.

Di sisi lain, Swedia berada di peringkat kelima dengan tarif pajak penghasilan pribadi sebesar 52 persen, salah satu yang terbesar di dunia.

Tingginya pajak yang dikenakan di negara-negara ini sering kali sejalan dengan tingkat kesejahteraan dan kualitas layanan masyarakat yang juga baik.

Maka negara apa yang berada di peringkat pertama sebagai negara dengan tarif pajak terbesar di dunia?

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Media Lebanon Merilis Gambar Tentara Israel: Saat Pembunuh dan Penjajah Memasak di Tanah Orang Lain

Sebuah gambar yang menunjukkan seorang prajurit Israel sedang memasak di dapur sebuah rumah di Lebanon menjadi viral di media sosial.

Seorang tentara perempuan tersenyum dengan berbagai makanan yang terletak di atas meja difoto dan dipublikasikan pada hari Minggu (19/4/2026) oleh Bint Jbeil News, sebuah media asal Lebanon.

Gambar tersebut dilaporkan diambil di Bint Jbeil, sebuah kota yang terletak di Provinsi Nabatiyeh, Lebanon bagian selatan.

"Ketidakanggunan sepenuhnya," tulis media tersebut sebagai keterangan gambar di Instagram.

“Saat para pembunuh dan penjajah memasak di dapur tanah air orang lain.”

Diana Moukalled, seorang jurnalis dan sutradara film dari Lebanon, menyatakan bahwa gambar tersebut melanggar ingatan serta harga diri masyarakat Lebanon.

"Di sini kita membicarakan sebuah rumah yang masih dikelilingi oleh pohon-pohon hijau, masih menyimpan kenangan kehidupan keluarga, namun pemiliknya terpaksa meninggalkan tempat tersebut," tulis Moukalled di X.

Mereka dilarang kembali, sementara seorang prajurit dari pasukan pendudukan memasuki lokasi tersebut, mengambil hasil pertanian, memasak, dan tertawa seakan-akan rumah itu tidak memiliki pemilik.

Seakan-akan puluhan desa yang dilarang bagi penduduk selatan belum dikosongkan, dan seakan-akan semua kerusakan ini belum cukup.

Moukalled menyatakan pemandangan tersebut mencerminkan tindakan kejahatan Israel, mulai dari mengusir penduduk dari tanah mereka hingga merubah rumah menjadi area yang dikuasai oleh para penjajah.

Ini merupakan bentuk pendudukan dan penghinaan yang sengaja dilakukan terhadap kenangan, martabat, serta hak alami masyarakat untuk kembali ke tanah yang telah mereka bangun sendiri.

Seorang pengguna Palestina di X membandingkan gambar tersebut dengan peristiwa Nakba, atau "bencana", yang terjadi ketika lebih dari 700.000 penduduk Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka guna memberi ruang bagi pembentukan negara Israel.

"Ingat bagaimana kakek kita dulu menceritakan bahwa mereka meninggalkan masakan yang sedang dimasak di atas kompor ketika melarikan diri selama Nakba?" tulis Abier Khatib.

Sekarang kisah yang sama terjadi di Lebanon, dan hal itu sangat menyedihkan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(news.com)

TerPopuler