Ancaman Trump, Iran: Tentara AS Akan Jadi Santapan Hiuh di Teluk Persia -->

Ancaman Trump, Iran: Tentara AS Akan Jadi Santapan Hiuh di Teluk Persia

4 Apr 2026, Sabtu, April 04, 2026
Ancaman Trump, Iran: Tentara AS Akan Jadi Santapan Hiuh di Teluk Persia

-MEDAN.COM- Wakil dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengingatkan, setiap upaya penyerbuan Amerika Serikat (AS) atau pendudukan wilayah Iran akan berakhir dengan akibat yang merusak. Ia menekankan, pasukan Amerika bisa menjadi "makanan hiu" di Teluk Persia.

Dalam pernyataannya, Enrahim Zolfaqari mengingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan serangan ke Iran. Ia menyatakan bahwa tindakan semacam itu akan berdampak buruk dan merugikan bagi pasukan Amerika.

Zolfaqari merespons ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan melakukan invasi terhadap pulau-pulau di Teluk Persia. Ia menganggap rencana tersebut tidak realistis dan dipengaruhi oleh tekanan luar, bahkan menuduh Trump bersikap tidak konsisten dan tidak dapat dipercaya.

Perwakilan Iran juga menyoroti keputusan militer Amerika Serikat yang dinilai mengancam keselamatan pasukan negaranya dengan memasukkannya ke dalam "lubang maut". Ia menyatakan, pasukan AS di wilayah tersebut terus menghadapi ancaman serius setiap hari, sementara beberapa pangkalan telah rusak dan prajurit AS harus bersembunyi di pusat-pusat sipil dan ekonomi negara-negara regional, meskipun tetap rentan terhadap serangan.

Mengenai kemungkinan invasi darat, Zolfaqari menyatakan bahwa pasukan Iran sudah lama bersiap menghadapi skenario ini. Ia memberi peringatan bahwa setiap tindakan agresif atau pendudukan akan berakibat pada penangkapan, pecahnya, bahkan hilangnya pasukan yang menyerang.

"Para komandan dan tentara Amerika Serikat pada akhirnya akan menjadi makanan hiu di Teluk Persia," katanya, menekankan betapa seriusnya konsekuensi yang akan dialami pasukan asing yang berusaha melakukan serangan, menurut laporan Tasnim News Agency.

Zolfaqari juga menyampaikan pentingnya mempelajari sejarah Iran. Ia mengajak para pemimpin Amerika Serikat untuk meninjau pengalaman masa lalu ketika pasukan asing berusaha menduduki negara tersebut, agar tidak membuat keputusan yang salah yang bisa menyebabkan banyak korban bagi pihak mereka.

Ia menegaskan, TNI Iran siap dan akan merespons dengan tegas setiap upaya nyata untuk melaksanakan ancaman serupa.

Trump Memberikan Batas Waktu 48 Jam

Dalam ultimatum yang dikeluarkan pada Sabtu (4/4/2026), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi tenggat waktu 48 jam kepada Iran agar membuka Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pasokan energi global.

Jika tidak tercapai kesepakatan dalam jangka waktu 48 jam, Iran akan menghadapi dampak yang signifikan.

"Waktu hampir habis—48 jam sebelum seluruh neraka akan menimpa mereka," tulis Trump di akun Truth Social miliknya, seperti dilaporkan AFP.

Ancaman ini bukan yang pertama kali disampaikan oleh Trump dalam beberapa minggu terakhir.

Sebelumnya pada 21 Maret 2026, Trump mengingatkan bahwa Amerika Serikat akan "menghancurkan" fasilitas pembangkit listrik Iran jika Teheran segera tidak membuka Selat Hormuz tanpa batasan.

Namun, dua hari setelah ancaman tersebut, presiden ke-47 Amerika Serikat itu sempat mengendurkan sikapnya dengan menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik.

Ia menyampaikan bahwa sedang berlangsung sebuah diskusi yang sangat baik dan efektif dengan pihak otoritas Iran.

Trump juga mengambil keputusan untuk menunda rencana serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran selama lima hari.

Penundaan tersebut kemudian kembali diperpanjang hingga batas waktu terbaru yang ditentukan pukul 20.00 pada Senin (23/3/2026), atau 07.00 WIB Selasa.

Di tengah meningkatnya retorika tersebut, para ahli menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi sipil dapat dianggap sebagai tindakan kejahatan perang.

Selat Hormuz merupakan jalur laut penting yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dunia, sehingga setiap ketegangan di wilayah ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian global.

Di sisi lain, laporan intelijen terbaru Amerika Serikat mengingatkan bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan melepaskan blokade di Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Berdasarkan penjelasan dari tiga sumber yang memahami isu tersebut, Teheran menganggap kendalinya terhadap jalur vital pasokan minyak dunia sebagai satu-satunya alat tekanan nyata yang dimilikinya terhadap Amerika Serikat.

Temuan ini menunjukkan bahwa Teheran akan terus membatasi jalur pelayaran tersebut untuk menjaga harga energi tetap tinggi.

Tindakan ini diambil guna memaksa Trump segera mencari solusi dari konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan, seperti dilaporkan Reuters, Jumat (3/4/2026).

Laporan tersebut juga menyajikan data terkini yang menunjukkan bahwa konflik yang awalnya ditujukan untuk melemahkan kekuatan militer Iran justru berpotensi memperkuat pengaruh regional Teheran.

Sampai saat ini, Teheran melalui Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menerapkan berbagai strategi agar lalu lintas komersial menjadi terlalu berisiko atau tidak bisa diasuransikan.

Sejak Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai konflik pada 28 Februari, Iran telah melakukan serangan terhadap kapal niaga, menyebarkan ranjau laut, serta meminta biaya penggunaan jalur laut.

Akibatnya, harga minyak global meningkat ke tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan mengakibatkan kekurangan bahan bakar di negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dan gas dari Teluk.

(*/-medan.com)

TerPopuler