Aroma kayu manis membangkitkan semangat di sudut Pasar Johar Semarang -->

Aroma kayu manis membangkitkan semangat di sudut Pasar Johar Semarang

5 Apr 2026, Minggu, April 05, 2026
Aroma kayu manis membangkitkan semangat di sudut Pasar Johar Semarang

JATENG.COM, SEMARANG— Di sudut Pasar Johar yang perlahan mulai ramai, aroma kayu manis menyebar dari sebuah toko di ujung Johar Utara.

Namun di dalamnya, terdapat kisah mengenai kue lama yang tetap penting tanpa kehilangan asal-usulnya.

Di toko tersebut, dominasi warna hijau tosca yang menenangkan mata, konsepnya mirip dengan toko bolu tjilaki Bandung.

Beberapa hiasan seperti lampu dekorasi klasik Eropa menjadi daya tarik toko tersebut.

Selain itu, terdapat satu lemari kayu dan kaca yang khusus digunakan untuk menyimpan potongan logam yang diyakini merupakan sisa-sisa pasar Johar yang terbakar.

Pemilik Aldin Meidito memutuskan untuk tidak secara langsung menyebut usahanya sebagai ganjel rel.

Ia memberi nama toko tersebut "Gambang", istilah yang diambil dari bahasa Betawi atau mungkin juga diinterpretasikan dari lagu Gambang Semarang.

"Jika disebut ganjel rel, orang Semarang langsung membayangkan kue yang meluncur. Jadi kita buat orang penasaran terlebih dahulu. Masuk, baru tahu ternyata ini ganjel rel," katanya, Minggu (5/4/2026).

Meskipun secara dasar, dua nama tersebut merujuk pada kue yang sama.

Disebut gambang karena bentuknya mirip dengan bilah alat musik gambang kromong.

Sementara di Semarang, istilah ganjel rel muncul karena bentuknya yang mirip dengan bantalan rel.

Di toko ini, resep tradisional tetap dipertahankan, khususnya varian asli yang didominasi oleh rasa kayu manis.

Namun, agar dapat menarik perhatian pembeli, dilakukan beberapa penyesuaian kecil. Tambahannya meliputi isian keju, cokelat, hingga stroberi.

Tersedia versi potongan (slice) yang dilapisi mentega di atasnya untuk membuatnya lebih lembut saat dikonsumsi.

"Mungkin orang akan mencoba terlebih dahulu. Jika sudah menyukainya, baru membeli yang lebih besar," katanya.

Dari beberapa varian, rasa keju justru jadi yang paling diminati. 

Kesukaan para pengunjung saat ini lebih terarah pada rasa gurih yang dicampur dengan manis.

"Untuk persiapan kami mulai memanggang sekitar pukul 04.00 WIB, baru buka pada pukul 09.00 WIB. Saat ini kami hanya buka setelah kue selesai, biasanya sampai sore," katanya.

Inisiatif membuka toko kue ini tidak lepas dari alasan tertentu.

Setelah kebakaran Pasar Johar pada tahun 2015, keberadaan ganjel rel di wilayah tersebut semakin sulit ditemukan.

Meskipun sebelumnya, kue ini terkait dengan tradisi masyarakat Semarang, khususnya menjelang Ramadan.

"Kini orang mencari ganjel rel biasanya pergi ke Johar atau Kauman. Sebelumnya sempat hilang, jadi kita berusaha menghidupkannya kembali di tempat asalnya," katanya.

Ia juga mempertahankan konsep yang sederhana untuk minuman.

Alih-alih menawarkan kopi modern, toko ini justru menyediakan teh tradisional atau teh yang terasa klasik dengan menggunakan kemasan kertas lama.

Dari beberapa jenis teh kepyur, munculah teh original yang memiliki rasa pahit ketika diminum.

"Harga minuman dimulai dari Rp9 ribuan. Sedangkan kue dijual mulai dari Rp13 ribu per potong hingga Rp69 ribu per boks," katanya.

Di balik gagasan tersebut, terdapat hubungan pribadi dengan kawasan Johar.

Saat duduk di bangku SMP, Aldin pernah menjajakan sepatu di kawasan yang terkenal sebagai pasar gelap di sekitar Johar.

Pengalaman tersebut memberinya pemahaman yang memadai mengenai dinamika pasar tradisional, termasuk cara menarik pembeli agar datang dan tetap berada di sana.

"Pernah menjual di sini dulu. Jadi ada keinginan untuk kembali, tetapi dengan konsep yang berbeda," katanya.

Pikiran untuk membuka usaha ini juga terkait dengan media yang ia kelola, Hidden Gem Semarang.

Saat berusaha merayakan pencapaian jumlah pengikut, ia justru menemukan ketidakpuasan pasar di Semarang yang belum sepenuhnya menjadi tempat yang menarik bagi kalangan muda, seperti di kota-kota lain.

Ia kemudian membandingkannya dengan Pasar Santa di Jakarta, Pasar Cihapit di Bandung, serta Pasar Gedhe di Solo yang dianggap lebih ramai karena mampu menggabungkan tradisi dan gaya modern.

Dari sana, ia melihat celah di Johar.

Setelah mendapatkan izin pada bulan September, proses pembangunan dilakukan secara bertahap.

Toko kue ini secara resmi dibuka pada 14 Maret 2026, yang bersamaan dengan perayaan Ramadan.

Menariknya, pengunjung yang datang bukan hanya warga Semarang.

Berdasarkan informasi internal, banyak sekali pembeli yang datang dari luar kota, termasuk Jakarta. (Rad)

TerPopuler