Beberapa Wilayah Jateng Dilaporkan KLB Campak, Ini Penjelasan Dinkes Wonosobo -->

Beberapa Wilayah Jateng Dilaporkan KLB Campak, Ini Penjelasan Dinkes Wonosobo

6 Apr 2026, Senin, April 06, 2026
Beberapa Wilayah Jateng Dilaporkan KLB Campak, Ini Penjelasan Dinkes Wonosobo

JATENG.COM, WONOSOBO- Angka kasus campak di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada awal tahun 2026. Peningkatan ini juga tercatat di berbagai daerah di Jawa Tengah, dengan beberapa kabupaten menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Namun, keadaan berbeda terjadi di Kabupaten Wonosobo. Dinas Kesehatan setempat memastikan bahwa hingga saat ini wilayahnya belum termasuk dalam kategori KLB campak.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Wonosobo, Heriyono kepada jateng.com, Senin (6/4/2026).

"Kasus campak belum memenuhi kriteria KLB, belum terjadi KLB di Wonosobo," katanya.

Selanjutnya dijelaskannya, berdasarkan data lima tahun terakhir, jumlah kasus campak di Wonosobo cenderung berubah-ubah tetapi tidak menunjukkan peningkatan yang mencolok.

Pada tahun 2022, terdapat 142 orang yang dicurigai menderita campak, dengan 9 kasus positif dari 123 sampel yang diperiksa di laboratorium.

Selanjutnya pada tahun 2023, jumlah tersangka meningkat menjadi 234 kasus, dengan 37 kasus yang terbukti positif dari 213 sampel.

Pada tahun 2024, jumlah kasus yang dicurigai berkurang menjadi 226, dengan 16 kasus positif dari 225 sampel yang diperiksa.

Pada tahun 2025, terdapat 272 orang yang dicurigai, dengan 18 kasus positif dari 269 sampel yang diperiksa.

Sementara pada 2026 hingga akhir Maret, terdapat 120 tersangka dengan 5 kasus positif dari 119 sampel.

Heriyono menganggap, tren ini cukup stabil bahkan cenderung menurun.

"Ya turun, tapi ini yang 2026 baru saja tiga bulan," lanjutnya.

Ia memperkirakan jumlah kasus hingga akhir tahun akan mendekati angka tahun sebelumnya.

Meskipun beberapa wilayah mengalami peningkatan yang signifikan, situasi di Wonosobo dianggap masih dalam kendali.

"Di Wonosobo tidak seburuk berita yang beredar di luar sana," katanya.

Menurut Heriyono, salah satu penyebab kondisi tersebut adalah tingkat imunisasi, khususnya pada anak usia sekolah.

Dinas Kesehatan mencatat tingkat cakupan vaksin campak untuk bayi di Wonosobo hanya sekitar 85 persen. Artinya, sekitar 15 persen bayi belum menerima vaksinasi.

Sebaliknya, vaksinasi terhadap anak sekolah menunjukkan hasil yang sangat baik, yaitu lebih dari 98 persen.

Vaksin campak diberikan secara bertahap, yaitu ketika bayi berusia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak duduk di kelas 1 Sekolah Dasar atau sekitar usia 7 tahun.

Namun, masih ada beberapa tantangan di lapangan, khususnya penolakan dari para orang tua.

Beberapa alasan yang sering muncul antara lain kecemasan anak menjadi tidak tenang, demam setelah vaksinasi, serta aspek keyakinan.

"Masih terdapat sejumlah masyarakat yang menolak anak mereka untuk diimunisasi," katanya.

Namun demikian, Dinkes tidak melakukan paksanaan, tetapi pendekatan edukatif melalui tenaga kesehatan hingga perangkat desa.

Heriyono mengatakan, campak disebabkan oleh virus yang menyerang anak-anak yang memiliki sistem imun yang lemah.

Penyebarannya terjadi melalui tetesan atau percikan dari orang yang sakit.

Gejala yang sering muncul meliputi demam dan adanya bercak merah di kulit.

Kelompok yang paling rentan terkena campak adalah anak-anak balita, meskipun dewasa juga berisiko tertular.

Secara umum, penyakit campak merupakan kondisi yang bisa pulih secara alami. Namun, bahaya terbesar datang dari komplikasi yang muncul bersamaan dengan penyakit tersebut.

"Yang berbahaya adalah jika terdapat penyakit tambahan," katanya.

Untuk menghindari penyebaran, Dinkes menekankan perlunya vaksinasi, pemberian ASI secara eksklusif, serta penerapan gaya hidup bersih dan sehat.

Pengelolaan penyakit campak bisa dilakukan di puskesmas. Apabila diperlukan, pasien akan dikirim ke rumah sakit.

Saat ini, Dinkes Wonosobo tetap mengajarkan masyarakat agar tidak kendor dan memastikan anak-anak mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal. (ima)

TerPopuler