
bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Di ruang kamar yang nyaman di lantai dua rumahnya, saat dunia sedang terkunci rapat akibat wabah COVID-19, Saripah Nabilah duduk sendirian, merenung. Bukan hanya merasakan sakit karena virus yang mengganggu dadanya, tetapi juga ketidakpastian tentang masa depannya.
Di tengah isolasi tersebut, ia hanya bersahabat dengan kipas angin dan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya, sambil berpikir keras bagaimana melanjutkan hidup tanpa mendapatkan izin untuk melanjutkan studi.
Perempuan yang akrab dipanggil Bila ini menjadi contoh nyata dari semangat pantang menyerah. Ceritanya tidak hanya tentang kelulusan kuliah, tetapi juga bagaimana ia "menerangi jalan sendiri" di tengah prasangka dan keterbatasan.
Stigma, Restu, dan Pilihan yang Menyakitkan
Jika tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat ketat, sebagai seorang putri, ia menghadapi aturan yang ketat, jam delapan malam -jika tidak ada kegiatan hingga malam- harus sudah kembali ke rumah.
Namun, tantangan terbesar muncul ketika ia berusaha menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ayahnya, seorang pedagang yang sukses dalam membiayai keluarga tanpa gelar sarjana, memiliki pandangan yang berbeda mengenai arti kesuksesan.
"Orang tua aku berpikir, kesuksesan kita bukan hanya tentang memiliki gelar S1 dan bekerja, tidak harus seperti itu," kenang Bila saat diwawancarai langsung dalam acara MOKA-SERASI di UNM kampus Margonda, Depok, Sabtu (28/3/2026) lalu.
Ayahnya mendorong Bila untuk langsung berwirausaha, mengikuti jejaknya. Perbedaan pandangan ini berujung pada ucapan yang pahit, namun justru menjadi motivasi bagi Bila.
"Baiklah, ketika kamu ingin kuliah, berarti kamu sudah mampu mengambil keputusan sendiri, sudah bisa menentukan jalanmu sendiri. Ya, hidupilah, terangi jalanku sendiri," kata Bila saat bercerita.
Kalimat tersebut mengandung makna bahwa bantuan keuangan dari orang tua sangat terbatas untuk menutupi biaya pendidikan perguruan tinggi. Jika ingin memperoleh gelar sarjana, maka harus sepenuhnya mandiri.
Pencarian Beasiswa di Ruang Karantina
Tanpa menyerah, di tengah masa pemulihan dari COVID-19, ia mulai mencari peluang dengan usaha sendiri. Ia mendaftar ke berbagai universitas ternama, seperti Bakrie, President University, LSPR, hingga Universitas Nusa Mandiri (UNM).
Akhirnya berhasil diterima kuliah dengan beasiswa di President University dan UNM. Sebuah keraguan muncul, ingin memilih kampus yang mana. "Yang memberikan aku 100 persen (beasiswa) adalah President University dan UNM," katanya.
Namun, jika menunjukkan kedewasaan dalam memperhitungkan risiko di masa depan. Mengingat persyaratan IPK yang sangat tinggi dan jurusan Teknik Lingkungan yang tidak sesuai dengan minatnya, akhirnya memutuskan untuk memilih jurusan Bisnis Digital di UNM.
"Saya sedang menjalani usaha hijab, jadi saya membutuhkan wawasan dari pendidikan Bisnis Digital ini," tambahnya. Pilihan ini terbukti menjadi langkah paling cerdas dalam hidupnya.
UNM Ciptakan Lulusan Bermutu
Di UNM, yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Kampus ini menjadi lingkungan yang mendukung mobilitas dan kualitas para mahasiswanya.
Melalui program yang disediakan oleh UNM, jika berhasil mengikuti Studi Independen di PT Arkatama dan program Pertukaran Pelajar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di sana, ia memperoleh pengetahuan yang melampaui batas teori.
Ia mempelajari cara berbicara dan berdiskusi dalam bahasa Inggris bersama mahasiswa internasional serta memahami aturan bisnis global. Kualitas kurikulum UNM yang sesuai dengan kebutuhan industri membuat Bila bukan hanya lulusan yang hanya memiliki ijazah, tetapi juga praktisi yang handal.
Meskipun harus membayar sendiri kebutuhan hidupnya dengan bekerja sejak kuliah karena prinsip kemandirian yang diajarkan orang tuanya, Bila menunjukkan bahwa kualitas lulusan UNM sangat baik.
"Aku merasa masa kuliahku bukan hanya sekadar mengikuti perkuliahan di kelas, tapi aku juga bisa mengikuti beberapa kegiatan yang diberikan oleh dosen-dosennya. Sangat bersyukur sekali memilih kampus ini karena dukungan dari lingkungannya sangat luar biasa," katanya.
Penerapan Nyata dalam Dunia Kerja
Setelah menyelesaikan studinya pada Oktober 2023, ia bekerja dan menjabat sebagai Marketing and Partnership di perusahaan BATAS. Dalam dunia profesional, ia mengandalkan ilmu yang didapat selama kuliah di UNM: data.
Jika menjadi seorang profesional yang bekerja bukan berdasarkan asumsi, tetapi berlandaskan analisis data. Salah satu pencapaian yang membanggakan dalam dunia kerjanya adalah ketika ia berhasil meraih kemitraan untuk memberikan umrah gratis kepada para guru. Saat bercerita tentang bagaimana ia meyakinkan klien melalui pendekatan pribadi dan komunikasi yang matang, skill yang ia latih selama masa kuliah.
"Saya pernah mengajukan usulan program hadiah umrah gratis untuk guru-guru kami kepada sebuah perusahaan travel. Saat mempresentasikan ide tersebut, saya menyadari pendekatannya bukan hanya sekadar hitungan bisnis, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual," katanya.
Akhirnya, pihak travel menyetujui rencana tersebut. Awalnya mereka hanya bersedia mengizinkan satu orang, tetapi setelah berdiskusi lebih lanjut dengan pemilik usaha, beliau berkata, 'Pada saat penjurian nanti ada berapa kandidat? Lima orang? Saya tidak tega jika hanya memilih satu, jadi semuanya saya antarkan umrah'.
“Bagi saya, pengalaman ini menunjukkan betapa besar pengaruh dari kemampuan berkomunikasi, dengan ucapan yang tepat, kita mampu membuka pintu keberkahan bagi lima orang sekaligus,” kenang Bila dengan penuh perasaan.
Bukti Kualitas UNM
Cerita Saripah Nabilah menjadi bukti nyata bahwa UNM tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademis, tetapi juga lulusan yang memiliki kepribadian mandiri, mampu beradaptasi, serta mampu memberikan solusi praktis dalam dunia kerja.
Untuk UNM, jika merupakan wujud dari visi kampus dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Pesan Bila kepada adik-adiknya mencerminkan nilai-nilai yang ia junjung tinggi.
"Jangan hanya belajar di dalam kelas, tetapi carilah sebanyak mungkin pengalaman di luar karena hal itu akan sangat berguna nantinya di dunia kerja. Manfaatkan kesempatan kuliah dan program yang ada di kampus karena ini sangat membantu dalam membentuk pola pikir dan keterampilan kita," ujarnya.
Kini, orang tua Bila bersyukur melihat kesuksesannya. Ia telah mampu menyinari jalannya sendiri, membuktikan bahwa gelar sarjana dari universitas yang tepat menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu keberhasilan yang lebih luas.