Cara Media Israel Meliput Perang Iran-AS -->

Cara Media Israel Meliput Perang Iran-AS

4 Apr 2026, Sabtu, April 04, 2026

Pesan yang terus-menerus disampaikan oleh media-media Israel—bahwa Iran "harus dihentikan" atau Israel akan menghadapi kehancuran—perlahan-lahan masuk ke dalam kesadaran masyarakat Israel.

Pada tahap awal dari program "Patriots" diChannel 14Israel, pada 24 Maret lalu, stasiun televisi yang dikenal sebagai pendukung kuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menayangkan rangkaian video ledakan dan serangan udara.

Potongan tersebut dikombinasikan dengan pernyataan kemenangan dari Netanyahu dan Donald Trump, lengkap dengan latar musik yang berkesan militer.

Di layar televisi, Channel 14memperlihatkan tagar perang seperti "Kami akan menang" dan "Dengan bantuan Tuhan", bersama dengan bendera Israel.

Versi yang berbeda dari video tersebut, tetapi dengan pola serupa, diputar hampir setiap malam.

Channel 14 kerap disebut sebagai "Fox Newsversi Israel. Suasana siarannya mencerminkan gambaran media utama, sebulan setelah perang dengan Iran dimulai. Siarannya penuh semangat nasionalis, sedikit kritik, dan sepenuhnya sesuai dengan pesan resmi pemerintah.

Setelah Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, stasiun televisi di berbagai spektrum politik Israel secara rutin menampilkan slogan-slogan perang di layar, bersamaan dengan bendera Israel dan AS—sebuah tampilan yang menunjukkan keterlibatan erat antara dua negara tersebut.

Apa saja persamaan dan perbedaan dalam pemberitaan konflik Gaza dan Iran?

Cara peliputan berita ini mengingatkan pada gaya liputan media selama konflik di Gaza dalam dua tahun terakhir.

Mengenai situasi di Gaza, media massa di Israel menekankan pesan mengenai persatuan bangsa, ketangguhan bersama, serta dukungan penuh terhadap pasukan militer Israel.

Namun seiring berjalannya waktu, beberapa media mulai meragukan kemampuan pemerintah dalam mengambil keputusan, khususnya mengenai nasib para tawanan Israel.

Kritik tersebut terus muncul dalam pemberitaan, meskipun media massa Israel tetap tidak menayangkan gambar maupun narasi mengenai penderitaan warga Palestina.

Pandangan Israel hampir seluruhnya menjadi fokus utama liputan media mengenai konflik Gaza.

Sejak serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, pemberitaan televisi Israel langsung beralih ke model perang, menampilkan bendera serta slogan-slogan nasionalis di layar.

Channel 14kembali menggunakan istilah konflik di Gaza seperti "kemenangan mutlak" dan "dengan bantuan Tuhan," sementara jaringan utama memilih bahasa yang lebih netral.

Channel 12misalnya, kini mengadopsi slogan "Bersama sampai akhir," versi yang lebih lembut dari slogan sebelumnya terkait Gaza: "Bersama kita akan menang."

Mengenai Gaza, atribut para pengamat—pin kuning yang meminta pembebasan tawanan di media utama, bertentangan dengan topi dan pin berlogo "kemenangan penuh" di Channel 14—berfungsi sebagai simbol perpecahan politik yang mendalam.

Namun perpecahan kali ini di Iran tidak menghasilkan jurang perbedaan yang sama.

Yang menarik, para pengamat diChannel 14kini memakai bros berbentuk "Singa Yehuda," simbol yang merujuk pada suku kuno Yehuda serta nama operasi militer Israel saat ini, "Operasi Singa Mengaum."

Bagaimana media Israel menggambarkan Iran?

Lembaga-lembaga media Israel secara konsisten menyampaikan narasi Benjamin Netanyahu bahwa Iran merupakan ancaman yang mengancam keberadaan negara tersebut.

Di dalam pemberitaan, Iran sering digambarkan sebagai "kepala ular" atau "kepala gurita" yang mengatur dan mendanai jaringan kelompok aliansi di wilayah tersebut.

Struktur cerita ini telah dipertahankan selama beberapa dekade.

Selama hampir tiga puluh tahun, Netanyahu sering kali menyampaikan pidatonya dengan menyoroti ancaman dari Iran, memberi peringatan kepada forum internasional mengenai program nuklir Teheran, serta menegaskan bahwa negara tersebut hampir berhasil memproduksi senjata nuklir.

Pesan yang terus-menerus disampaikan—bahwa Iran "harus dihentikan" atau Israel akan menghadapi kehancuran—perlahan-lahan masuk ke dalam kesadaran masyarakat Israel.

Kata-kata seperti "ancaman nuklir" atau "lomba menuju perang nuklir" sering muncul dalam judul-judul berita di media Israel.

Pada Agustus 2025, setelah konflik berlangsung selama 12 hari melawan Iran, militer Israel merilis sebuah artikel berjudul "Di balik persaingan nuklir Iran: Panduan lengkap."

Artikel tersebut menggambarkan apa yang mereka anggap sebagai persaingan Iran menuju senjata nuklir, sambil menyatakan bahwa Israel telah "mengganggu secara mendalam dan menyeluruh program senjata nuklir Iran."

Situs berita Ynetkemudian merilis laporan dengan isi yang hampir serupa—memperkuat narasi militer Israel—dan kembali menyoroti apa yang mereka sebut sebagai "lomba Iran menuju senjata nuklir."

Pada November, Ynetmenambahkan peringatan terbaru: bahwa pertemuan konfrontatif berikutnya "hanya tinggal menunggu waktu," dan bahwa Iran sedang "mempersiapkan serangan roket ke arah Israel."

  • Tiongkok berusaha menjadi pihak tengah dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, apakah akan berhasil?
  • "Kau bukan lagi saudaraku" – Ketika konflik memisahkan anggota keluarga di Iran
  • Apa yang terjadi selama krisis minyak pada tahun 1970-an, dan apakah kita menghadapi kondisi yang lebih buruk saat ini?

Konten yang terus-menerus menggambarkan Iran sebagai ancaman semacam itu semakin memperkuat keyakinan bahwa penggunaan kekuatan militer adalah pendekatan yang efektif dan bahkan wajib dilakukan.

Sejak perang melawan Iran dimulai, media Israel secara aktif melaporkan keberhasilan operasi militer mereka.

Liputan tersebut sering menyajikan gambaran pasukan bersenjata Israel mendekati "kemenangan," sambil menekankan kerja sama yang kuat dengan Amerika Serikat.

Pada 27 Maret lalu, Channel 14menampilkan judul utama: "Di Jantung Teheran: Lokasi Produksi Rudal Balistik Iran Hancur."

Laporan tersebut menyoroti sejumlah serangan terhadap sasaran yang digambarkan sebagai "ancaman langsung dan penting bagi pemerintah Israel."

Suara yang mirip juga terdengar di media utama Israel.

Dalam laporan mereka, militer sering disebut sebagai "pasukan kami," sementara para ahli membicarakan operasi tersebut dengan penuh rasa kagum.

Mereka memakai kata-kata seperti "luar biasa" dan "tidak terduga" saat menggambarkan rekaman serangan udara.

Apa yang tidak disampaikan media Israel kepada masyarakat?

Meski awalnya media Israel menunjukkan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran, laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan di Iran hampir hilang setelah operasi militer dimulai.

Setelah perang selama 12 hari pada tahun 2025, pernyataan Benjamin Netanyahu bahwa Israel telah mencapai "kemenangan bersejarah" dan mengusir "ancaman eksistensial" Iran jarang dibahas kembali.

Namun kurang dari sembilan bulan setelahnya, Israel telah memulai kampanye militer yang baru.

Liputan media kebanyakan menghindari pembahasan mengenai alasan atau logika di balik serangan terbaru ini.

Pernyataan pemerintah tentang "ancaman yang segera terjadi" diterima tanpa adanya pengecekan mendalam.

Salah satu ciri yang jelas dalam liputan perang terhadap Iran adalah penerapan pembatasan informasi ketat mengenai lokasi rudal jatuh di Israel serta tingkat kerusakan yang terjadi.

Selama perang Juni yang lalu, anggota kabinet menuduh media internasional "membantu pihak musuh," yang akhirnya memicu aksi massa datang ke lokasi serangan dan menghalangi jurnalis asing dari Israel dalam meliput di lapangan.

Meskipun jumlah laporan kasus kali ini lebih sedikit, pembatasan cakupan tampaknya bervariasi di setiap daerah.

Majalah Israel-Palestina +972mencatat kejadian di mana relawan sipil di sekitar Tel Aviv memeriksa identitas para jurnalis, meskipun mereka telah memiliki izin resmi dari polisi Israel.

Dalam laporan tersebut, pemimpin kelompok relawan terdengar menyampaikan kepada rekan-rekannya: "Pastikan tidak ada pengintai di sini."

Di kasus lain, media hanya diperbolehkan melaporkan serpihan misil yang jatuh di sebuah sekolah—tanpa menyebutkan lokasi sebenarnya yang menjadi sasaran serangan.

Sementara media Israel secara sukarela menghindari pemberitaan tentang dampak serangan Israel maupun AS terhadap Iran, sensor pemerintah juga membatasi publikasi informasi mengenai seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan misil Iran di wilayah Israel.

Apakah terdapat media di Israel yang mengkritik pemerintah?

Di Israel, dukungan masyarakat terhadap konflik bersenjata sangat besar.

Laporan yang dikeluarkan Institut Demokrasi Israel menunjukkan bahwa 93% penduduk mendukung operasi militer pada hari-hari awal, dan angka ini hampir tidak berubah setelah dua minggu.

Di luar pengkritikan dari koranHaaretz—yang dikenal memiliki pandangan politik kiri dan pendirian editorial yang tegas—hampir tidak ada penolakan yang terdengar dari media utama.

Dalam sebuah penampilan yang langka, jurnalis investigasi terkenal Ilana Dayan berbicara diChannel 12, menyoroti kematian pasangan lansia akibat serangan roket.

Ia menyalahkan pemerintah Israel karena gagal menjaga kelompok yang paling rentan, sementara di sisi lain, menurutnya, "mereka mempermainkan masyarakat dalam perang di tengah perang, lalu mengunggah video yang menunjukkan kekuatan Israel serta klaim kemenangan beruntun."

Ia menekankan bahwa pejabat pemerintah—yang menyetujui rencana serangan tetapi tidak mengambil langkah-langkah perlindungan bagi penduduk sipil—harus dipertanggungjawabkan.

Media sayut kiri dan para tokoh diChannel 14 segera menyerangnya.

Seorang pembawa acara menyebut Dayan sebagai individu yang "menjijikkan" dan menuduhnya "mendukung musuh" setelah ia mengomentari kematian sebuah keluarga Palestina di Tepi Barat.

Channel 14 bahkan menerbitkan sebuah artikel berjudul "Kekudusan jiwa ala Ilana Dayan akan menyebabkan kita semua mati."

Media massa Israel dan berita palsu

Perang ini juga disertai maraknya beredarnya video palsu, sebagian besar diunggah oleh akun-akun asal Iran yang menyatakan menunjukkan kerusakan di Tel Aviv akibat serangan roket.

Beberapa materi dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan, sedangkan yang lain merupakan rekaman lama dari Gaza atau konflik sebelumnya yang diunggah kembali.

Media Israel juga tidak terlepas dari penyebaran informasi yang salah.

Setelah kematian Ali Khamenei yang disebabkan oleh militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu,Channel 14menyajikan sebuah video yang menunjukkan orang-orang Iran berseru "Bibi Joon," panggilan kecil untuk Perdana Menteri Netanyahu.

Para host menyebut video tersebut sebagai sesuatu yang "luar biasa" dan bersikeras bahwa rekaman itu asli.

Baru-baru ini diketahui bahwa video tersebut dibuat dengan menggunakan teknologi AI.

Akun-akun pendukung Netanyahu juga menyebarkan rekaman serupa, yang mengklaim menampilkan kerumunan di berbagai negara yang berteriak dengan slogan yang sama.

Di sisi lain, saluran resmi pemerintah Israel yang berbahasa Farsi mulai mengunggah video yang menonjolkan hubungan sejarah antara Yahudi dan Iran, lengkap dengan gambar singa, bendera Iran sebelum revolusi, bendera Amerika Serikat, serta pesawat tempur F-35.

Konten tersebut telah dipublikasikan ribuan kali dan menggambarkan Israel sebagai tokoh "pembebas," khususnya bagi perempuan Iran, sambil menunjukkan keselarasan penuh antara Israel dan Amerika Serikat.

Beberapa hari setelah video yang dibuat dengan AI ditayangkan diChannel 14, Channel 12—stasiun berita yang paling banyak ditonton di Israel—juga menyiarkan rekaman yang disebut sebagai serangan pesawat pengebom siluman B-2 Amerika Serikat terhadap Iran.

Ini dikeluarkan oleh pihak Amerika," ujar Nir Dovri, jurnalis militer dari jaringan tersebut. "Kita hanya perlu menikmati melihatnya.

Meskipun kemudian diketahui bahwa rekaman tersebut berasal dari permainan simulasi perang DCS World,Channel 14 juga ikut menayangkannya.

Konten semacam ini cepat menyebar di media Israel serta kalangan pengguna internet karena sesuai dengan narasi yang selama ini dikembangkan oleh pejabat pemerintah dan media utama.

Di tengah situasi di mana media Israel berperan sebagai penggerak opini masyarakat—tanpa adanya upaya serius untuk menguji pesan resmi atau melaporkan tingkat kerusakan yang terjadi baik di Israel maupun Iran—, informasi yang salah justru memperkuat keyakinan bahwa Iran merupakan ancaman yang mengancam eksistensi dan bahwa Israel sedang berada dalam jalur "kemenangan besar."

  • Melihat kembali sejarah persaingan antara Israel dan Iran
  • Seberapa besar kemampuan militer Iran dibandingkan dengan Israel?
  • 'Mereka merayakan kematian keluarga saya' – Kemarahan seorang ayah mengungkap perpecahan masyarakat Israel

TerPopuler