bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA — Siapa sangka, keputusan untuk meninggalkan zona nyaman sebagai pegawai negeri sipil (PNS) justru menjadi awal perubahan dalam hidup Tono Suwarna. Pria asal Cimaung ini kini dikenal sebagai petani bawang merah yang sukses mengubah arah kehidupannya. Bukan hanya karena kerja keras, tetapi juga keberanian untuk percaya pada sesuatu yang belum banyak dicoba: inovasi budidaya bawang merah dari biji, atau True Shallot Seed (TSS).
Di tengah perubahan harga dan ketidakpastian dalam produksi yang sering mengganggu para petani, Tono memilih jalur yang berbeda. Ia meninggalkan metode tradisional, yaitu menanam dari umbi yang selama ini dianggap paling aman, dan beralih ke teknologi TSS yang masih terasa asing bagi sebagian orang. Keputusan tersebut tidak muncul tanpa keraguan, namun justru berawal dari keyakinan bahwa perubahan merupakan bagian dari usaha.
"Pertama kali banyak orang mengatakan saya nekat. Tapi saya percaya, jika ingin berkembang, harus berani mencoba sesuatu yang baru," kata Tono sambil melihat lahan miliknya yang kini tumbuh rapi dan merata.
Keyakinan itu perlahan berbuah hasil nyata. Dengan penerapan TSS, ia mampu menghasilkan hingga belasan ton per hektare, dengan kualitas umbi yang lebih merata dan baik. Selain itu, biaya produksi menjadi lebih hemat, terutama dalam hal kebutuhan benih yang selama ini menjadi beban terbesar dalam budidaya bawang merah.
"Inovasi ini benar-benar mengubah kehidupan saya. Pengeluaran lebih hemat, hasilnya lebih banyak. Dari sini saya mampu membiayai pendidikan anak-anak hingga kuliah," katanya dengan nada rasa terima kasih yang tak bisa ditutupi.
Seperti yang diketahui, bawang merah di Indonesia memiliki peran penting. Bawang merah merupakan kebutuhan pokok bagi keluarga dan bahan dasar dalam berbagai masakan nusantara. Rata-rata penggunaan bawang merah masyarakat Indonesia mencapai sekitar 2,8 hingga 3 kilogram per orang per tahun.
Namun, permintaan yang tinggi belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat produktivitas petani. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata produktivitas bawang merah nasional berada di kisaran 9–10 ton per hektare. Angka ini masih tergolong rendah dibandingkan potensi hasil yang dapat dicapai dengan penerapan teknologi dan benih unggul.
Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan tingkat produktivitas ini memberikan peluang bagi inovasi seperti TSS untuk berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan hasil panen serta kesejahteraan para petani.
Teknologi TSS, khususnya benih bawang merah MERDEKA F1, telah terbukti mampu menghasilkan panen hingga 14–18 ton per hektar. Angka ini naik sekitar 40 sampai 80 persen dibandingkan cara tradisional.
Selain itu, pemanfaatan TSS mampu mengurangi biaya benih hingga 30–50 persen. Efisiensi ini memberikan peluang keuntungan yang lebih besar bagi petani, sekaligus mengurangi potensi kerugian akibat biaya awal produksi yang tinggi.
Direktur Eksekutif perusahaan benih unggul sayuran PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Glenn Pardede, menyampaikan bahwa inovasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan para petani di Indonesia. Ia menegaskan bahwa tantangan-tantangan di bidang pertanian tidak dapat diatasi dengan metode-metode tradisional.
"Inovasi merupakan hal yang sangat penting bagi para petani. Tanpa adanya inovasi, produktivitas akan tetap statis, sementara tantangan terus berkembang. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk menyediakan solusi yang sesuai dan memberikan dampak langsung kepada petani," kata Glenn.
Sebagai perusahaan benih sayuran terkemuka yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun di Indonesia, Ewindo terus berupaya mengembangkan inovasi dalam bidang pertanian, termasuk melalui TSS. Glenn menambahkan, kehadiran benih berkualitas seperti MERDEKA F1 tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga kelangsungan usaha tani.
"Kami berharap para petani tidak hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bekerja lebih efisien dan memiliki daya saing yang tinggi. TSS adalah salah satu inovasi yang kami dukung agar bisa mencapai tujuan ini," ujarnya.
Di lapangan, dampak dari inovasi ini mulai terlihat. Semakin banyak petani yang tertarik mengikuti langkah Tono, termasuk perubahan pola bisnis petani di mana sebelumnya tidak ada penyemai bawang merah kini mulai muncul. Petani juga melihat sendiri perubahan yang terjadi, mulai dari peningkatan hasil hingga kestabilan pendapatan.
Untuk Tono, yang juga merupakan salah satu pionir penanam bawang merah, keberhasilan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar. Ia kini aktif berbagi pengalamannya kepada petani lain di "Rumah Bawang" – lokasi di mana ia pertama kali mengenal inovasi TSS – sebagai pusat pembelajaran budidaya bawang merah yang didirikan oleh Ewindo. Selain di Cimaung, Jawa Barat, Rumah Bawang juga telah dibangun di Wonosobo, Jawa Tengah, dan Solok, Sumatera Barat.
Dengan adanya Rumah Bawang, para petani dan penyemai bawang merah dapat mempelajari secara rinci seluruh tahapan budidaya bawang merah TSS. Mulai dari pengolahan tanah, persiapan lahan, persemaian, penanaman, perawatan, panen hingga pascapanen dapat dipelajari secara mendalam oleh petani.
Tujuan dari ini adalah untuk meningkatkan keberhasilan para petani dan memastikan manfaat dari penanaman bawang merah TSS dapat dirasakan langsung oleh mereka. Selain itu, penyemai bawang merah TSS yang menyediakan benih bawang merah TSS kepada petani juga bisa belajar dan menerapkan sistem baru sebagai ekosistem yang lebih baik.
Pelatihan di rumah bawang dilakukan melalui diskusi dan praktik dalam kelompok-kelompok kecil, sehingga lebih efektif dan mudah dipahami oleh petani. Setelah mengikuti pelajaran dan meningkatkan tingkat pengetahuan petani serta penyemai, dilanjutkan dengan pengalaman petani yang perlu ditingkatkan melalui penanaman langsung oleh petani yang telah mendapatkan pendidikan.
Selanjutnya, petani ahli dapat membagikan pengetahuan mereka kepada petani lain, sehingga jumlah petani yang terampil dalam menanam TSS meningkat dan semakin bertambah, yang menyebabkan ekosistem TSS berkembang lebih cepat.
Di tengah meningkatnya kebutuhan bawang merah di tingkat nasional, inisiatif kreatif seperti Tono Suwarna dan Rumah Bawang semakin penting. Jika semakin banyak petani memanfaatkan inovasi serta beralih ke teknologi yang lebih efisien dan hasilnya lebih besar, sistem pangan Indonesia akan menjadi lebih tangguh, termasuk berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan para petani.