Data Terbaru: 365 Tentara Amerika Terluka, 13 Tewas dalam Konflik Iran -->

Data Terbaru: 365 Tentara Amerika Terluka, 13 Tewas dalam Konflik Iran

4 Apr 2026, Sabtu, April 04, 2026
Data Terbaru: 365 Tentara Amerika Terluka, 13 Tewas dalam Konflik Iran
Ringkasan Berita:
  • Tensi antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat, dengan ratusan tentara AS mengalami cedera dan pesawat tempur mulai jatuh.
  • Di tengah meningkatnya ketegangan militer, usaha diplomasi internasional justru mengalami hambatan karena perbedaan kepentingan negara-negara besar.
  • Keadaan ini meningkatkan potensi gangguan terhadap jalur pasokan energi global.
 

GORONTALO.COM -- Sebanyak 365 prajurit Amerika Serikat dilaporkan mengalami cedera sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran.

Data ini diungkapkan oleh The Wall Street Journal berdasarkan informasi resmi dari Pentagon.

Berdasarkan data tersebut, jumlah korban luka terdiri dari 247 anggota Angkatan Darat, 63 personel Angkatan Laut, 36 dari Angkatan Udara, serta 19 Marinir.

Dari jumlah keseluruhan, sebagian besar korban terdiri dari tentara dengan pangkat menengah hingga tinggi, diikuti oleh perwira dan staf yang lebih rendah.

Selain korban luka, terdapat 13 prajurit Amerika Serikat yang gugur dalam operasi pertempuran.

Kondisi semakin memburuk setelah Iran dilaporkan menghancurkan dua pesawat militer Amerika Serikat dalam serangan yang berbeda pada hari Jumat.

Dalam kejadian tersebut, satu anggota berhasil dievakuasi, sedangkan yang lainnya masih dilaporkan hilang.

Peristiwa ini merupakan pertama kalinya pesawat tempur Amerika Serikat jatuh sejak perang meletus hampir lima minggu yang lalu.

Kejadian itu terjadi hanya dua hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat telah "menghancurkan Iran secara total" dan akan segera menyelesaikan operasi dengan cepat.

Di sisi lain, usaha diplomasi internasional juga menghadapi kendala.

Negara Teluk, Bahrain, yang saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Keamanan PBB, mengundurkan pemungutan suara mengenai resolusi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Resolusi tersebut sebelumnya telah diubah sehingga hanya memperbolehkan tindakan defensif untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, bukan tindakan ofensif seperti yang awalnya diajukan oleh negara-negara Teluk dan Amerika Serikat.

Namun, perubahan tersebut masih ditolak oleh Rusia dan Tiongkok, sehingga pemungutan suara diundur hingga minggu depan.

Selat Hormuz merupakan jalur penting secara global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melalui wilayah ini.

Ketidakpastian di wilayah ini berisiko menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian dunia.

 (*)

TerPopuler