Halmahera Tengah Stabil, Polisi Ajak Warga Pengungsi Kembali ke Rumah -->

Halmahera Tengah Stabil, Polisi Ajak Warga Pengungsi Kembali ke Rumah

5 Apr 2026, Minggu, April 05, 2026
Ringkasan Berita:1. Kondisi di perbatasan Desa Banemo dan Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara kini sudah stabil setelah sebelumnya terjadi keributan antarwarga.
2. Sebanyak 250 personel gabungan TNI dan Polri masih berada di pos-pos yang dianggap rentan
3. Pemerintah daerah bersama petugas keamanan telah datang ke lokasi bentrok guna menengahi warga, mendorong komunikasi, serta mengajak masyarakat yang sempat mengungsi ke hutan untuk kembali ke tempat tinggalnya.
 

TERNATE.COM - Kondisi di perbatasan Desa Banemo dan Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, pada hari Sabtu (4/4/2026) mulai membaik.

Dua kelompok masyarakat yang pernah berselisih pada Jumat (3/4/2026) pagi hingga siang, kini telah berhenti saling menyerang.

Namun, sebanyak 250 personel polisi dan TNI tetap berjaga di beberapa lokasi yang dianggap rentan guna menghindari terjadinya bentrokan yang berkelanjutan.

Personel juga telah melakukan pendekatan yang meyakinkan terhadap warga yang sempat mengungsi ke hutan agar kembali ke rumah masing-masing karena situasi dianggap sudah stabil.

Wakil Kepala Polda Maluku Utara Brigjen Stephen M Napiun menyampaikan hal tersebut, Sabtu (4/4/2026).

"Polisi masih menyelidiki penyebab kematian korban," tegas Stephen, yang pada hari yang sama segera menuju lokasi bentrok setelah mengetahui kejadian tersebut.

Selain Wakapolda Malut, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe beserta Komandan Korem 152/Baabullah Brigjen TNI Enoh Solehudin dan Bupati Halmahera Tengah Dr Ir Ikram M Sangadji telah tiba di Kecamatan Patani.

Mereka telah berjumpa dengan beberapa warga yang terlibat dalam kerusuhan dan melakukan perantaraan agar kerusuhan tidak berlanjut.

Kronologi Kejadian

Bkonflik antarwarga terjadi di perbatasan Desa Banemo dan Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Jumat (3/4/2026).

Pertikaian antar warga dimulai setelah jasad seorang laki-laki tua bernama Ali Abas (65) ditemukan pada Kamis (2/4/2026).

Korban merupakan penduduk Desa Banemo. Jenazah korban ditemukan di areal kebun yang termasuk dalam wilayah Desa Sibenpopo.

Keluarga korban mencurigai kematian Ali Abas disebabkan oleh pembunuhan. Alasannya, terdapat luka yang diduga akibat benda tajam pada tubuh korban.

Beberapa jam berikutnya, kedua kelompok saling menyerang dengan menggunakan senjata tajam seperti parang, tombak, hingga senapan angin.

Pertikaian antar warga terjadi sejak Jumat (3/4/3026) pagi dan mencapai puncaknya di siang hari.

Petugas gabungan dari Polres Halmahera Tengah dan TNI yang berasal dari Kodim 1512 Weda diterjunkan guna mengakhiri keributan.

Namun, kondisi sempat sulit dikendalikan akibat emosi masyarakat yang tinggi.

Untuk mengatasi situasi, Polda Maluku Utara mengirimkan personel dari Brimob dan Direktorat Samapta ke lokasi bentrok.

Pernyataan Sherly Laos 

Gubernur Maluku Utara Sherly Laos mengakui telah menerima informasi mengenai bentrokan antar warga di Halmahera Tengah.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Malut mendukung penyelesaian dengan pendekatan dialog dan penerapan hukum yang adil.

Sherly Laos menekankan bahwa setiap masalah pada dasarnya bisa diatasi dengan komunikasi yang jujur dan saling menghargai.

Ia juga mendorong partisipasi tokoh masyarakat, pemimpin agama, serta komponen pemerintah setempat dalam memperkuat kepercayaan antar warga.

Menurutnya, kehadiran pemerintah daerah bersama aparat keamanan di tempat terjadinya bentrok merupakan tindakan yang penting dalam menjaga ketenangan serta memastikan penanganan situasi berlangsung dengan tenang, terkendali, dan seimbang.

"Kehadiran pemerintah dan petugas di lokasi juga bertujuan untuk menenangkan, melindungi, serta memastikan kondisi tidak semakin memburuk," tambahnya.

Selain itu, ia mengajak masyarakat tetap cerdas dalam menghadapi informasi yang beredar, khususnya di media sosial, serta tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan. (*)

TerPopuler