Ringkasan Berita:
- Ammar Zoni mengucapkan pembelaan setelah dihukum 9 tahun penjara terkait kasus penyelundupan narkoba.
- Ammar Zoni mengenang momen saat dia ditinggalkan oleh Irish Bella ketika kondisinya sedang sulit
- Ammar Zoni mengungkapkan komitmennya terhadap anak-anaknya
TRENDS.COM - Aktor Ammar Zoni hingga saat ini masih dalam proses hukum terkait kasus peredaran narkoba yang menimpanya.
Sebagai pengingat, kegiatan peredaran narkoba terjadi saat Ammar masih dalam proses penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba.
Saat ini perkara tersebut sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan terus memasuki tahapan-tahapan persidangan yang penting.
Pada hari Kamis, 2 April 2026, persidangan berikutnya kembali diadakan dengan fokus pada pembacaan surat pembelaan atau pledoi oleh pihak Ammar.
Sebelumnya, pihak penuntut umum telah terlebih dahulu menyampaikan tuntutan terhadap Ammar Zoni. Dalam permintaannya, jaksa mengusulkan agar Ammar dihukum dengan hukuman penjara selama 9 tahun serta denda sebesar Rp500 juta.
Saat membaca pledoi, Ammar terlihat mengenakan kemeja panjang berwarna putih.
Kondisi persidangan terasa lebih penuh perasaan ketika dia mulai membacakan pembelaannya.
Pernyataan yang disampaikannya tidak hanya berisi pembelaan hukum, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan pribadinya.
Ammar secara terang-terangan menceritakan berbagai tantangan sulit yang telah ia alami dalam beberapa bulan terakhir.
Salah satu momen yang paling menyedihkan adalah perpisahannya dengan mantan istrinya, Irish Bella. Ammar menyebut bahwa perceraian itu terjadi saat dirinya sedang mengalami masa terburuk akibat kasus narkoba yang menimpanya.
Keadaan ini, menurutnya, semakin memperparah beban emosional yang harus ia hadapi.
Ammar juga menyampaikan janjinya kepada anak-anak. Bagaimana isi pembelaan Ammar Zoni?
Isi Pledoi Ammar Zoni
Sebelumnya, Ammar Zoni menyampaikan rasa penyesalannya saat membacakan pleidoi atau dokumen pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait kasus dugaan peredaran narkoba di dalam tahanan, Kamis (2/4/2026).
Ammar Zoni tidak mampu menahan perasaannya ketika menceritakan momen paling sulit dalam hidupnya, yaitu saat ia harus menghadapi permohonan perceraian dari istrinya, Irish Bella.
Peristiwa itu terjadi tepat saat ia sedang berjuang melawan ketergantungan narkoba di panti rehabilitasi akibat kasus yang kedua.
Dengan suara yang gemetar, Ammar Zoni mengenang kembali momen ketika ia menerima berita yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sangat menyedihkan bukan karena rehabilitasinya, tetapi kabar yang saya dengar berasal dari mantan istri saya,pernyataan Ammar di ruang sidang, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada hari Kamis (2/4/2026).
Berita itu merupakan keinginan Irish Bella untuk mengakhiri pernikahannya.
Yaitu keinginannya untuk mengajukan perceraian, meminta saya memberikan talak kepadanya,lanjutnya.
Ammar mengakui sangat menentang pernikahan tersebut.
Bagi dia, keputusan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai keluarga yang selama ini ia junjung tinggi, seperti kesetiaan almarhum ayahnya kepada ibunya hingga akhir hayat.
Tentu saja saya menolak. Bagi saya yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak pernah mengenal kata bercerai, jelasnya.
Ia berusaha segala cara untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya, mulai dari memohon, menangis, hingga memohon kesempatan. Namun, keputusannya telah bulat.
Situasi tersebut membuatnya merasa ditinggalkan dan diabaikan ketika ia paling memerlukan bantuan.
Ammar menempatkan dirinya sebagai seseorang yang sedang 'sakit' akibat ketergantungan, yang seharusnya mendapatkan perawatan, bukan dibiarkan.
Kecanduan merupakan gangguan otak yang bersifat kronis dan sulit untuk diatasi. Mengapa seseorang yang sedang sakit justru dibiarkan pergi?ungkapnya.
Pada saat ia adalah satu-satunya tempat yang menjadi rumah bagi saya untuk kembali, namun justru dikucilkan karena kekurangan saya,beber Ammar Zoni.
Ammar merasa seperti seseorang yang sakit dan membutuhkan perawatan, namun justru ditinggalkan saat paling memerlukan dukungan.
Kecanduan merupakan gangguan otak yang bersifat kronis. Mengapa seseorang yang sedang sakit justru dikeluarkan? Saat ia adalah satu-satunya tempat yang bisa saya kembalikan, malah justru diasingkan karena kelemahan saya, kata Ammar.
Kegundahan Ammar semakin memuncak ketika mengingat kepergian ayahnya, Suhendri Zoni, saat ia masih berada di balik jeruji besi dalam kasus sebelumnya.
Ia menganggap tidak mampu menemani ayahnya di saat akhir sebagai dosa yang besar.
Momen yang paling menyedihkan adalah ketika dia diperbolehkan melihat jenazah ayahnya dengan tangan terikat dan memakai rompi tahanan.
Rasa bersalah ini yang ia akui menjadi penyebab depresi parah hingga ia kembali terjebak dalam situasi yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya.
Klimaks perasaan Ammar meledak ketika ia menyampaikan pesan secara langsung kepada kedua anaknya, Air Rumi Akbar dan Amala Puti Sabai Akbar.
Ia menyesali banyaknya waktu berharga yang terbuang percuma di balik jeruji besi, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyaksikan mereka tumbuh dewasa.
Saya meminta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, mohon maafkan Daddy, ucap Ammar terbata.
Ia membayangkan momen-momen biasa sebagai seorang ayah yang kini tidak mungkin dapat ia lakukan.
Seharusnya Ayah telah melihat kalian berkembang, mengajarimu, membacakan cerita sebelum kalian tidur, serta mengantarkan kalian ke sekolah. Maafkan Ayah.
Di hadapan Majelis Hakim, Ammar menyampaikan komitmennya sebagai seorang ayah.
Daddy berjanji ini yang terakhir, benar-benar terakhir. Daddy berjanji besok lusa Daddy akan mengganti semua waktu yang pernah hilang, tegasnya.
(Trends.com)(Sumsel.com/Laily Fajrianty)