
-MEDAN.COM- Peningkatan ketegangan antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon sejak awal Maret 2026 telah berdampak signifikan terhadap misi perdamaian PBB (UNIFIL), termasuk bagi pasukan Garuda TNI.
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 menjadi penyebab utama meningkatnya ketegangan di kawasan.
Kondisi ini menjadikan Indonesia dalam posisi yang berat, yakni tetap memegang teguh kebijakan luar negeri bebas dan aktif, namun menghadapi ancaman nyata terhadap keselamatan anggota milisnya.
Agung Nurwijoyo, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, menganggap bahwa pemerintah Indonesia sebaiknya mempertimbangkan penghentian sementara partisipasi dalam Board of Peace (BoP) yang didirikan Presiden AS Donald Trump.
Menurutnya, tindakan ini bukan merupakan pengunduran diri dari komitmen perdamaian global, melainkan strategi diplomasi yang tegas tetapi konstruktif.
Agung menekankan:
- Penangguhan merupakan pilihan yang masuk akal dan terkendali.
- Tidak ada jaminan bahwa Israel benar-benar berkomitmen pada penurunan ketegangan.
- Kepentingan keselamatan anggota militer Indonesia harus menjadi fokus utama.
- Tekanan diplomatik ini bisa menjadi tanda agar terjadi perbaikan nyata dalam perlindungan pasukan serta penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
- Oleh karena itu, Indonesia tetap menjunjung konsistensi dalam kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, tanpa mengorbankan kepentingan nasional maupun keselamatan personel.
Langkah penangguhan partisipasi Indonesia dalam BoP adalah sebagai berikut:
- Tekanan politik yang sah untuk meminta perlindungan terhadap pasukan.
- Sinyal diplomatik untuk meminta pihak yang terkait agar menghormati hukum kemanusiaan internasional.
- Strategi mempertahankan kredibilitas Indonesia sebagai negara yang konsisten dalam mendukung perdamaian global, sambil tetap menjaga kepentingan nasional.
Korban di Lapangan
Mulai akhir Maret 2026, 11 anggota TNI menjadi korban dalam rangkaian kejadian di Lebanon:
29 Maret 2026: Ledakan peluru meriam di Adchit Al Qusayr menyebabkan kematian Praka Farizal Rhomadhon dan melukai tiga anggota militer lainnya.
28 Maret 2026: Kecelakaan kendaraan di wilayah Selatan Lebanon menyebabkan kematian Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Serka Muhammad Nur Ichwan, serta melukai dua anggota tentara.
3 April 2026: Ledakan terjadi di fasilitas PBB dekat El Adeisse, menyebabkan tiga anggota TNI cedera, dua di antaranya mengalami luka berat. Jenazah prajurit yang gugur telah dikirim kembali ke Indonesia, sedangkan yang terluka masih menjalani perawatan di Beirut.
Respons Militer
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL merupakan pasukan yang telah mendapatkan pelatihan memadai dan paham akan tantangan dalam misi perdamaian.
Ia meminta keluarga anggota militer agar tetap tenang dan berdoa untuk keselamatan mereka.
Namun, Maruli mengakui bahwa setiap tugas dalam misi perdamaian global tidak dapat terlepas dari bahaya, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan konflik yang semakin memuncak.
(*/-medan.com)
Artikel ini telah tayang di news.com dengan judul 11 Anggota TNI Jadi Korban di Lebanon, Pakar Menyarankan Penundaan Partisipasi Indonesia di BoP