Iran Kritik AS - Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan Posting Cuitan Sarkastik -->

Iran Kritik AS - Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan Posting Cuitan Sarkastik

4 Apr 2026, Sabtu, April 04, 2026
Iran Kritik AS - Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan Posting Cuitan Sarkastik

-MEDAN.COM - Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan mengeluarkan kritikan tajam terhadap Amerika Serikat melalui akun resmi mereka, @IraninSA.

Postingan yang menampilkan wajah para jenderal AS senior dengan tanda "X" besar berwarna jingga dilengkapi pesan singkat: "Perubahan rezim terjadi secara sukses. MAGA" langsung memicu perdebatan internasional.

Pesan itu dianggap sebagai jawaban tajam terhadap retorika Washington yang selama ini sering menginginkan perubahan pemerintahan di Iran.

Pengumuman Iran menyoroti penghapusan besar-besaran di dalam struktur militer Amerika Serikat.

Tanda "X" di wajah seorang jenderal dianggap sebagai simbol dari "perubahan pemerintahan" yang selama ini sering digunakan sebagai istilah politik oleh Amerika Serikat.

Slogan MAGA (Make America Great Again) yang terkait erat dengan Donald Trump digunakan secara sarkastis, memperkuat kesan mengolok-olok.

Di balik kritikan Iran tersebut, Pentagon sedang menghadapi badai pemecatan yang dikatakan sebagai yang paling keras dalam sejarah militer Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth segera melakukan "pembersihan" terhadap para perwira yang dianggap tidak selaras dengan visi "America First" saat perang Iran memasuki minggu kelima.

Selanjutnya, korban utama adalah Jenderal Randy George, Kepala Staf Angkatan Darat, yang selama ini memegang kendali penuh.

Berikut adalah beberapa variasi parafraze dari teks tersebut: 1. Selanjutnya, terdapat belasan jenderal bintang tiga dan empat yang juga dipecat, termasuk para komandan di Joint Chiefs of Staff, CENTCOM, serta pejabat intelijen militer. 2. Di samping itu, sejumlah besar jenderal bintang tiga dan empat juga diberhentikan, termasuk komandan di Joint Chiefs of Staff, CENTCOM, serta tokoh-tokoh penting dalam intelijen militer. 3. Selain itu, puluhan jenderal bintang tiga dan empat lainnya juga dipecat, seperti komandan di Joint Chiefs of Staff, CENTCOM, serta pejabat tinggi di bidang intelijen militer. 4. Berikutnya, ada belasan jenderal bintang tiga dan empat yang juga diangkat mundur, termasuk para pemimpin di Joint Chiefs of Staff, CENTCOM, serta pejabat intelijen militer. 5. Selanjutnya, terdapat belasan jenderal bintang tiga dan empat yang turut dipecat, antara lain komandan di Joint Chiefs of Staff, CENTCOM, serta petinggi di lingkungan intelijen militer.

Tujuan dari perubahan besar ini adalah untuk memastikan kesetiaan penuh militer terhadap Gedung Putih setelah kejadian jatuhnya dua pesawat tempur AS belakangan ini.

Tindakan ini dianggap bukan sekadar perubahan posisi biasa, melainkan upaya terstruktur untuk memperkuat otoritas dan menghilangkan suara-suar yang dianggap tidak sesuai dengan strategi Trump.

Reshuffle Kabinet Gedung Putih

Kekacauan tidak hanya terjadi di Pentagon.

Kantor Putih sedang mengalami ketegangan terkait wacana perubahan besar-besaran dalam kabinet.

Presiden Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan tindakan "reset" dalam politiknya setelah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya turun menjadi 36 persen — angka terendah sepanjang masa jabatannya.

Pertama kali korban adalah Jaksa Agung Pam Bondi yang secara resmi dipecat.

Selanjutnya, posisi yang terancam adalah Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick.

Selain itu, penyebab reshuffle kabinet diduga terkait dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak serta pidato presiden Trump yang dinilai tidak berhasil menenangkan masyarakat.

Pembicaraan Trump dengan judul "Kemenangan Amerika Serikat atas Iran" justru memperkuat persepsi bahwa konflik ini tidak memiliki titik akhir yang pasti.

Sebaliknya, pidato itu dinilai memperparah pandangan bahwa pemerintahan Trump kehilangan tujuan.

Dampak Politik dan Ekonomi

Di sisi lain, pendukung utama Trump tetap mendukung perang, namun tekanan ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar membuat dukungan menjadi goyah.

Pejabat di Gedung Putih menggambarkan pidato Trump sebagai usaha untuk menunjukkan penguasaan, tetapi tidak berhasil mencapai tujuannya.

Pesan-pesan ideologis tidak cukup untuk mengatasi dampak langsung yang dirasakan oleh rakyat, khususnya dalam bidang ekonomi.

Campuran kritik diplomatik Iran, gelombang pemecatan di Pentagon, serta perubahan susunan kabinet menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang mendalam dalam pemerintahan Trump.

Konflik Iran tidak hanya menguji kemampuan militer Amerika Serikat, tetapi juga mengganggu kestabilan politik dalam negeri.

Tindakan tegas ini mengingatkan pada peristiwa sejarah lain dalam militer Amerika Serikat, seperti pemberhentian Jenderal Douglas MacArthur oleh Presiden Harry Truman pada tahun 1951, atau gejolak internal masa Nixon.

Pola yang sama terjadi, yaitu ketika perang atau krisis luar negeri tidak bisa dikendalikan, tekanan politik dalam negeri mendorong pemimpin untuk melakukan perubahan besar-besaran.

(*/-medan.com)

Artikel ini telah tayang di news.com dengan judul Kedubes Iran Mengomentari Berubahnya 'Rezim' AS, Memposting Foto Jenderal Pentagon yang Dipecat

TerPopuler