
Anggota parlemen Myanmar pada hari Jumat (03/04) memilih mantan pemimpin militer, Jenderal Min Aung Hlaing, sebagai presiden setelah terjadi pemungutan suara di lembaga legislatif.
Tindakan ini diambil setelah pemilu yang diadakan pada bulan Desember dan Januari lalu, yang banyak dikritik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta pemerintah Barat sebagai pemilu yang tidak sah yang dibuat untuk memberikan legitimasi terhadap penguasaan militer.
Bagaimana Min Aung Hlaing menjadi presiden Myanmar?
Min Aung Hlaing mundur dari posisi panglima tertinggi awal minggu ini guna mencalonkan diri dalam pemungutan suara, dan ia berhasil meraih mayoritas yang dibutuhkan di parlemen.
Partai Persatuan, Solidaritas, dan Pembangunan yang memiliki keterkaitan dengan militer berhasil meraih lebih dari 80% kursi.
Seorang pria berusia 69 tahun telah menjadi pemimpin sebenarnya di Myanmar sejak kudeta 2021, saat militer menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dan dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.
Suu Kyi kemudian menerima hukuman 27 tahun penjara dalam proses yang banyak dikritik oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia.
Pada awal minggu ini, Min Aung Hlaing menyerahkan kepemimpinan angkatan bersenjata kepada Ye Win Oo, seorang sekutu dekat yang dikenal sebagai "mata dan telinga"-nya.
Myanmar masih terlibat dalam konflik saudara sejak kudeta tersebut, dengan hampir 93.000 jiwa meninggal dunia dan lebih dari 3,6 juta orang mengungsi.
Para analis mengatakan bahwa peralihan ini lebih merupakan perubahan teknis dari pemerintahan militer menjadi pemerintahan presidensial resmi, bukan perubahan kekuasaan yang nyata.
Siapa sebenarnya Min Aung Hlaing?
Pemimpin militer dahulu telah menguasai politik negara tersebut selama beberapa tahun terakhir. Ia berasal dari kelompok etnis Dawei, yang umumnya dianggap sebagai bagian dari mayoritas Burma yang lebih besar, tetapi memiliki identitas budaya tersendiri.
Ia mempelajari hukum sebelum akhirnya diterima di sekolah pelatihan perwira pada percobaan ketiganya, yang menjadi awal dari karier militer yang panjang.
Min Aung Hlaing secara bertahap meningkatkan jabatannya dan menjadi terkenal selama operasi melawan kelompok pemberontak etnis.
Ia mendapat banyak kritik dari komunitas internasional karena perannya dalam tindakan keras militer pada tahun 2017 terhadap komunitas Rohingya, yang menyebabkan sekitar 750.000 orang melarikan diri ke Bangladesh.
Pada tahun 2021, ia memimpin sebuah kudeta yang menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis oleh Aung San Suu Kyi, yang menyebabkan munculnya konflik nasional yang masih berlangsung hingga saat ini.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Prita Kusumaputri