bengkalispos.com- Jusuf Kalla (JK), yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, memberikan pernyataan terkait video ceramahnya mengenai Maluku dan Poso yang tiba-tiba viral di media sosial.
JK merasa ada hal yang tidak wajar di balik viralnya video tersebut, khususnya mengenai waktu yang dekat dengan tindakan hukum yang ia ambil terhadap ahli forensik digital, Rismon Sianipar.
JK secara terbuka menyampaikan kecurigaan bahwa video tersebut viral bukanlah kebetulan. Ia mengira ada maksud tertentu di balik serangan yang berujung pada ceramahnya.
"Saya tidak menyalahkan politik, tetapi ini fakta bahwa hal ini muncul setelah saya melaporkan Rismon," ujar JK dalam konferensi pers di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
Seperti yang diketahui, Jusuf Kalla secara resmi melaporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri.
Laporan ini diajukan karena Rismon dituduh menyebarkan fitnah dan merusak nama baik dengan menuduh JK mendanai kasus ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
"Muncul ini. Sangat sensitif itu ijazah. Mengapa?" lanjutnya.
JK juga menganggap isu ijazah Jokowi sudah terlalu lama berlarut dan memicu perpecahan di kalangan masyarakat.
Menurutnya, isu ini dapat diatasi dengan mudah, yaitu dengan Jokowi menunjukkannya kepada masyarakat.
"Dan saya melihatnya asli, mengapa tidak diberi kesempatan untuk dilihat? Mengapa tidak diberi kesempatan untuk dilihat? Membiarkan masyarakat ini saling bertengkar dan menghina sesama warga. Dua tahun," tegasnya.
Tolak Pertemuan dengan Rismon
Di tengah memburuknya kondisi saat ini, JK juga mengungkap bahwa Rismon pernah mencoba melakukan pendekatan.
Namun, ia memutuskan untuk bersikap keras dengan menolak semua jenis pertemuan dengan Rismon.
"Ia ingin bertemu saya bersama tujuh orang. Ia ingin membawakan buku ke saya. Ingin ditemani oleh beberapa orang. Saya menolak. Saya tidak ingin terlibat dalam urusan tersebut," kata JK.
Mengenai tuduhan bahwa dirinya menyebabkan masalah terkait ijazah, JK membantahnya secara tegas.
Ia memandang narasi yang dibuat Rismon sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dengan menyebutkan nama-nama terkenal.
"Tetapi ini mengenai Rismon sudah melibatkan semua orang. Saya dituduh, Puan dituduh, SBY dituduh, siapa saja. Itu hanya peralihan saja," katanya.
JK juga menyangkal tuduhan bahwa ia mendukung dana sebesar Rp5 miliar kepada pihak tertentu agar memperburuk isu ijazah Jokowi.
"Sama saja. Mengapa? Apalagi saya, dituduh memberi Rp5 M. Mana saya memberi Rp5 M? Bahkan bertemu pun tidak tahu saya. Tidak mengenal pun. Ini buktinya. Nomor WA-nya," tambah JK.