
Ringkasan Berita:
- Harga minyak global meningkat lebih dari 7 persen karena memburuknya ketegangan di Selat Hormuz serta ketidakpastian dalam diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
- Serangan terhadap kapal dagang serta tindakan pemblokiran memperparah kekhawatiran mengenai pasokan energi dunia.
- Usaha perdamaian kembali dipertanyakan setelah pernyataan yang bertolak belakang dari kedua pihak.
NEWS.COM - Harga minyak global mengalami kenaikan yang cukup besar pada awal minggu karena meningkatnya ketegangan politik di kawasan Timur Tengah.
Al Jazeera melaporkan bahwa harga minyak mentah Brent yang diperdagangkan di Asia meningkat lebih dari 7 persen pada hari Senin (20 April 2026).
Harga sempat mencapai sekitar 94,69 dolar AS per barel, meningkat dari tingkat di bawah 90 dolar AS pada akhir pekan.
Peningkatan ini menunjukkan kecemasan pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Serangan Kapal di Selat Hormuz
Peningkatan harga terjadi akibat kejadian keamanan di Selat Hormuz, jalur penting pasokan energi global.
Operasi Maritim Perdagangan Inggris (UKMTO) mengungkapkan terjadinya serangan terhadap kapal niaga di wilayah tersebut.
Kapal perang Iran dilaporkan menembakkan senjata ke sebuah kapal tanker, sementara proyektil yang tidak dikenal mengenai kapal kontainer.
Insiden ini memperkuat risiko gangguan distribusi minyak global.
Lalu lintas kapal mengalami penurunan yang signifikan, hanya 19 kapal yang melewati area tersebut dibanding rata-rata historis sekitar 138 kapal per hari.
Tindakan Militer Amerika Serikat Menimbulkan Ketegangan
Tensi memburuk setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penyitaan sebuah kapal kargo yang berbendera Iran.
Trump mengatakan kapal tersebut berusaha menghindari pembatasan Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Dalam pernyataan tegas di media sosial, ia menekankan:
Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal... jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan semua pembangkit listrik serta jembatan di Iran.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran akan meningkatnya konflik yang terbuka.
Sinyal Perdamaian yang Berlawanan
Di tengah ketegangan, sinyal diplomatik justru menimbulkan kebingungan di pasar.
Surat Kabar New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat akan mengirimkan utusan ke Pakistan guna melanjutkan pembicaraan mengenai gencatan senjata.
Namun, Iran membantah keterlibatan mereka dalam diskusi tersebut.
Lembaga media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran menolak untuk hadir karena "permintaan yang berlebihan" dari Washington.
Perbedaan pernyataan ini menimbulkan ketidakpastian yang besar di pasar global.
Situasi Perundingan di Ambang Kegagalan
Vice Presiden JD Vance akan memimpin rombongan Amerika Serikat dalam pembicaraan terbaru.
Sebelumnya, dia tidak berhasil mencapai kesepakatan dalam putaran awal yang diadakan di Islamabad.
Kegagalan kedua bisa menjadi serangan politik besar, sekaligus memperpanjang perpecahan yang telah menggoncang perekonomian dunia.
Isu-isu utama yang masih menjadi perdebatan mencakup program nuklir Iran serta kondisi di Selat Hormuz.
AS menginginkan pembatasan peningkatan kadar uranium selama 20 tahun, sedangkan Iran hanya menawarkan jangka waktu lima tahun.
Stabilitas Energi Terkena Dampak
Perang ini secara langsung memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Penguncian efektif Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Pemerintah mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan energi darurat serta tindakan penghematan.
Namun demikian, pasar saham Asia justru mengalami kenaikan pada awal perdagangan.
Namun, selama perang dan ketidakpastian diplomasi berlangsung, fluktuasi harga energi diperkirakan tetap tinggi.
(news.com/Andari Wulan Nugrahani)