Kisah Frans Asten: Ritual di Bukit, Kejadian Mencurigakan, dan Temuan Korban -->

Kisah Frans Asten: Ritual di Bukit, Kejadian Mencurigakan, dan Temuan Korban

18 Apr 2026, Sabtu, April 18, 2026
Kisah Frans Asten: Ritual di Bukit, Kejadian Mencurigakan, dan Temuan KorbanMEDIA KUPANG- Kasus kematian Kepala BPBD Belu Fransiskus Xaverius Asten kembali dibahas oleh saudara korban.

Perkara ini mendapat perhatian setelah keluarga korban mengunjungi Polda dan diadakannya rapat khusus mengenai pengaduan keluarga Frans Asten yang dipimpin oleh Irwasda Polda NTT.

Aloysius Mau (60), pamannya korban, pada Jumat 17 April 2026 kembali meminta polisi bekerja dengan optimal agar penyebab kematian serta motifnya dapat terungkap.

Mereka sama sekali tidak percaya bahwa korban meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Ia kemudian menceritakan kisah pencarian yang dilakukan oleh keluarga pada malam Sabtu, 8 November 2025.

Dalam keterangan saksi, diketahui bahwa korban meninggalkan rumahnya di Tulamalae pada hari Kamis, 7 November 2026, pukul 18.55 WITA.

Sejak saat itu, korban tidak pernah kembali ke rumah hingga diumumkan hilang dan masuk dalam daftar orang hilang pada Sabtu 8 November. Pencarian dimulai pada malam hari itu juga.

Pencarian dimulai dari sekitar kelurahan Tulamalae menuju arah Atapupu Kecamatan Kakuluk Mesak dengan menggunakan mobil Pik Up dan kendaraan dinas serta kendaraan lain yang dikendarai motor.

Mereka memeriksa semak-semak sepanjang jalan tersebut, dan anehnya, di lokasi penemuan korban tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan jenazah.

Aloysius bersama keluarganya pergi ke Bendungan Rotiklot untuk mengetahui penyebab korban yang hobi memancing.

Di tempat tersebut tidak ditemukan, sehingga mereka memutuskan untuk mencari di semak-semak dekat pintu gerbang bendungan Rotiklot.

Penyelidikan itu menyisir hingga ke pantai Teluk Gurita dengan dugaan korban sedang memancing di tepi pantai.

Kira-kira pukul 1 dini hari, keluarga melakukan upacara adat di sebuah bukit agar bisa menemukan jenazah. Mereka juga mengira korban menjadi mangsa buaya karena daerah pesisir Teluk Gurita sering dihiasi oleh buaya dan pernah memangsa dua nelayan dari Alor.

Hingga pagi hari, mereka melakukan pencarian di pelabuhan penumpang Teluk Gurita dan area konkas yang dipenuhi dengan pohon bakau.

Pada hari Minggu, 9 November 2026 sekitar pukul 09.00 pagi, mereka menerima telepon bahwa korban telah ditemukan di Sabanase Kilo 8 arah Atapupu, tetapi dalam keadaan meninggal dunia.

Menurut Aloysius, dia datang sebagai perwakilan keluarga untuk membantu proses evakuasi jenazah.

Ia secara langsung melihat kondisi tubuh yang terlentang dengan kepala miring ke arah dada, dihiasi luka-luka yang sudah membusuk dan berlubang dengan cacing keluar.

Di tempat tersebut, Aloysius melihat terdapat 2 karung beras Bulog dengan ukuran 50 kilogram di bagian kaki dan 10 kilogram di bagian kepala.

Sementara sepatu dan helm korban berada jauh dari jenazah, sedangkan pakaian sweater, ponsel, dan topi korban tidak ditemukan di lokasi tersebut.

Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Atambua untuk dilakukan pemeriksaan luar. Istri korban yang merasa tidak puas dengan kematian suaminya menganggapnya mencurigakan dan meminta dilakukannya otopsi.

Hasil autopsi yang disampaikan kepada keluarga menyebutkan adanya 11 tanda benturan pada tubuh korban dan korban dinyatakan meninggal dunia karena kekurangan oksigen.

Aloysius menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih percaya bahwa korban meninggal secara tidak wajar.

Ia meminta kasus ini segera terungkap karena menurutnya jika korban dibunuh, pelakunya masih berada di luar dan bisa saja membahayakan nyawa anggota keluarga korban lainnya.***

TerPopuler