Kisah Siti Latifa: Dua Kali Mati Suri dan Pilihan Jadi Pengobat Alternatif -->

Kisah Siti Latifa: Dua Kali Mati Suri dan Pilihan Jadi Pengobat Alternatif

8 Apr 2026, Rabu, April 08, 2026

Ini adalah kisah mengenai Lestari Siti Latifa yang dikenal sebagai Tari, yang dua kali dianggap telah meninggal namun berhasil bangkit kembali. Pertama ketika ia mengalami sakit parah saat masih kecil, dan kedua kali saat mengalami kecelakaan berbahaya di Sampit, Kalimantan Tengah.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam Kisah (edisi khusus Majalah Intisari yang membahas kisah-kisah menginspirasi) Volume I November 2006 dengan judul "Dua Kali Mati Suri" | Penulis: Mayong S. Laksono

---

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terkini kami di sini.

---

Intisari-Online.com - Sudah dua kali Lestari Siti Latifa yang akrab disapa Tari dianggap meninggal. Pertama, ketika masih kecil dia mengalami sakit parah dan dinyatakan mati, namun bangun saat "jenazahnya" sedang dishalatkan sambil menunggu lubang kubur digali. Kedua, ia terbaring selama enam bulan di ruang perawatan intensif RS Pertamina Jakarta, sebagian besar tanpa detak jantung.

Namun, "perjalanan" yang dialaminya selama "kematian" akhirnya memberinya kekuatan untuk menjadi seorang penyembuh atau ahli terapi alternatif.

Ucapannya Tari, "Saya masih kecil saat itu," selalu terlontar setiap kali ia mengingat peristiwa pertama kali dia dinyatakan meninggal. Orangtuanya, Ki Sumarno dan Mbah Tuntum, meskipun dianggap sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan dalam Desa Payungan, Walitelon, Temanggung, Jawa Tengah, bukanlah keluarga kaya. Apalagi pada masa itu, fasilitas dan akses layanan kesehatan belum sebaik sekarang.

Lestari Siti Latifa, yang akrab dipanggil Tari, lahir pada 2 Mei 1973 sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Saat itu, dia mengalami demam. Kondisi yang tidak mendukung menyebabkan penyakitnya tidak segera dapat ditangani.Semakin lama keadaannya semakin memburuk, hingga akhirnya tidak bisa diselamatkan.

Pada sore yang hujan deras, Tari "meninggal dunia". Sesuai dengan kebiasaan setempat, sebelum dilakukan pemandian dan pengkafanan, jenazahnya diletakkan di atas tempat tidur dan ditutupi dengan kain. Orang-orang berkumpul di sekitarnya sambil membaca ayat-ayat suci.

Doa-doa dibacakan, kerumunan orang semakin bertambah. Segala prosesi upacara kematian dilakukan, termasuk persiapan liang lahat di tanah perkuburan. Di tengah segala kegiatan tersebut, tiba-tiba Tari terbangun.

Banyak orang mengira ada tanda-tanda buruk, atau mungkin ada roh yang masuk, jika saja tidak berpikir, yang meninggal adalah seorang anak perempuan kecil yang tak bersalah. Namun Mbah Tuntum, ibunya, mengetahui bahwa ini merupakan proses gaib yang sedang dialami putrinya.

Saat (dinyatakan) meninggal, Tari merasa dibawa oleh seorang pria ke suatu tempat yang menakutkan. Melewati pintu besar yang dijaga oleh raksasa berpakaian seragam sambil memegang gada, tongkat pemukul besar, Tari merasa masuk ke ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sedang menderita.

Ada orang yang tubuhnya terluka oleh besi yang menyala, ada yang menusuk mata sendiri, ada yang memotong lidahnya sendiri, ada yang menggaruk wajahnya hingga berdarah, dan sebagainya.

"Masih terlalu muda bagi saya untuk menyimpulkan apakah itu disebut neraka atau tidak," ujar Tari.

Tidak tahan melihat semua penderitaan itu, Tari berusaha keras. Ia meninggalkan tempat tersebut sambil menangis. Ternyata, ketika menangis itulah Tari bangun dari "kematian".

Orang-orang yang sedang membaca kitab di sekitar kaget ketika melihat gadis yang sebelumnya diduga sudah meninggal sedang menangis sambil menutupi wajahnya dengan kain. Ternyata dia belum mati. Sebaliknya, Tari sangat kaget melihat banyak orang berkumpul dalam suasana sedih.

Ia pulih dari sakitnya. Ternyata, jarak waktu antara saat ia demam tinggi dan ketika bangun dalam keadaan menangis, bagi Tari merupakan pengalaman yang menakutkan, sekaligus sulit untuk dijelaskan. Meskipun pada akhirnya ia sembuh.

Adiknya juga mati suri

Waktu terus berjalan. Tari berkembang seperti remaja lainnya, dalam lingkungan keluarga yang biasa saja. Namun tetangga tidak pernah melupakan kejadian pada siang hari itu. Bagi mereka, peristiwa tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa ada kekuatan tertentu yang mengelilingi keluarga Ki Sumarno dan Mbah Tuntum.

Terlebih lagi tidak lama setelah itu, adik bungsu Kenti juga mengalami kejadian yang sama. Ia menderita sakit parah, tidak bisa disembuhkan, dan akhirnya "meninggal". Tari mengingat, "Selama dua jam jantungnya tidak berdetak sama sekali. Tubuhnya dingin, akhirnya disimpulkan telah meninggal."

Tidak ada keraguan sama sekali bagi keluarga karena pernyataan bahwa Kenti meninggal - seperti yang terjadi pada Tari sebelumnya - datang dari salah seorang kakeknya, Mbah Sastrodiwiryo, yang merupakan seorang dokter.

Namun, serupa dengan Tari, Kenti juga mengejutkan banyak orang karena tiba-tiba sadar. Anak perempuan kecil yang tanggal lahirnya berurutan dengan saudara kandungnya itu kembali pulih seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Perbedaannya, sejak Kenti mengalami kematian semu ia tidak merasa mendapatkan keistimewaan, sedangkan Tari merasa memiliki kemampuan tambahan. Misalnya, ketika menghadapi seseorang yang sakit, ia langsung mengetahui cara pengobatannya. Ia menyebutkan suatu jenis ramuan atau bahan alami tertentu, terdengar seperti bicara asal dan tanpa sengaja, namun setelah dijalani ternyata orang yang sakit tersebut pulih.

"Itu mulai terjadi sekitar saat saya berusia 12 tahun," kata Tari.

Kisah tentang kekuatan Tari sebagai penyembuh mulai menyebar secara oral. Orang-orang yang sebelumnya mempercayakan pengobatan kepada Mbah Tuntum, sejak saat itu dapat berharap pada gadis tersebut.

Di sisi lain, Tari semakin sering melakukan "perjalanan" meskipun tidak perlu terlebih dahulu mengalami kehilangan. Ketika dia pindah dari rumah orangtuanya untuk bergabung dengan dr. Sastrodiwiryo yang menjadi "kakek sambungan" setelah kakek kandungnya meninggal, lokasinya tidak jauh dari desanya.

Tidak hanya kemampuannya semakin terasah; hati nuraninya juga semakin kuat. Demikian pula keyakinannya dalam agama. Ia menjadi lebih matang dan lebih bijaksana dibandingkan dengan remaja seusianya.

Saya juga lebih terampil," kata Tari. "Dalam kegiatan atau pekerjaan, saya melakukan hampir semua tugas laki-laki. Membajak tanah, memanjat pohon, atau memperbaiki atap rumah. Tanpa merasa bahwa saya seorang perempuan dan apa yang saya lakukan tidak cocok untuk perempuan. Intinya saya membantu orang tua, mengurangi beban mereka.

Bekerja diam-diam

Saat kelas 3 SMP, Tari diminta oleh Bude-nya, saudara iparnya, untuk tinggal di Jakarta. Bude yang tidak memiliki anak ingin mengasuh Tari, selain berharap bisa meringankan beban keluarga adiknya.

Tetapi apa yang terjadi, Pakde dan Budenya ternyata mudah marah. Bukan hanya caci maki yang sering dia terima ketika dia dihukum. Tampakan dan pukulan juga kerap dilakukan. Namun hal itu tidak membuat Tari membenci mereka, lalu pergi atau kembali ke rumah orangtuanya.

Ia justru mengalihkan kesedihannya dengan mencari aktivitas yang menghasilkan uang. Contohnya dengan membeli majalah dan buku bekas, lalu menjualnya kembali. Ia berusaha mendapatkan uang dengan berbagai inovasi yang dimilikinya.

Masuknya ke SMAN 53, Cipinang Elok, Jakarta Timur, Tari mengalami situasi yang tidak berubah. Namun, hal itu sama sekali tidak dianggapnya sebagai kesulitan. Ia tetap bersekolah dan terus mengisi waktunya dengan kegiatan yang bisa menghasilkan uang. "Intinya, saya tidak pernah membiarkan diri saya dalam keadaan tidak bekerja," ujar Tari.

Ia bahkan mencari pekerjaan tetap di sebuah restoran. Kegiatan setelah sekolah ini awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, lama-kelamaan Pakde dan Budenya mengetahuinya. Tari mendapat marahan yang sangat keras. Kemampuannya untuk bertahan pun rusak, ia memutuskan kembali ke rumah orangtuanya tanpa menyelesaikan pendidikan SMA.

Tidak lama tinggal di Temanggung. Kembali ke Jakarta, Tari mencari pekerjaan kembali. Ia mendapatkan posisi administratif di sebuah perusahaan swasta. Ia merasa nyaman bekerja di sana hingga akhirnya ditugaskan ke Sampit, Kalimantan Tengah.

Di kota tersebutlah Tari memulai karier setelah baru saja pulih dari luka akibat kerusuhan. Kemudian ia belajar tentang usaha perkayuan, hingga suatu saat atasannya menyuruhnya mencoba berwirausaha sendiri. Melalui perusahaan bersama, Tari mulai menjalani bisnis kayu.

"Dengan tabungan setahun bekerja, saya berusaha membeli kayu sendiri dari pedalaman, lalu menjualnya. Awalnya sedikit, sekitar 3-4 m3 kayu ulin. Secara perlahan, kuota saya meningkat terus hingga akhirnya mencapai 12 m3," kata Tari.

Pencapaian baru saja di depan mata ketika tiba-tiba bencana datang. Kecelakaan besar terjadi, dan untuk kedua kalinya Tari hampir kehilangan nyawanya - bahkan banyak orang yang mengira dia sudah meninggal.

Enam bulan tak sadar

Tari hanya sedikit mengingat peristiwa yang terjadi di awal tahun 2000. Matahari belum benar-benar terang ketika dia mengemudikan mobil Honda Civic Wonder berwarna merah keluar dari halaman kantor PT Rungo Alam Subur di Jl. Tjilik Riwut, Sampit.

Jalan utama di Kota Sampit sedang dalam proses pengaspalan ulang, yang tentu saja melibatkan banyak mesin dan peralatan berat. Satu sisi jalan telah diaspal dan diratakan, sehingga menyisakan sisi lainnya yang bisa digunakan oleh kendaraan secara bergantian. Tari mengemudikan mobil, sementara di sebelah kirinya duduk rekan kerjanya, Mbak Yuli yang berasal dari Semarang.

Tiba-tiba, sesuatu menabrak mobil Tari dengan sangat keras dari belakang. Secara tiba-tiba, dunia menjadi gelap total bagi Tari dan Yuli.

Ternyata, sebuah mobil Kijang menabrak kendaraan Tari dengan kecepatan sangat tinggi. Mobil tersebut bukanlah mobil biasa, karena membawa sekelompok pencuri yang baru saja berhasil mencuri uang dari Bank Indonesia yang berada di depan kantor PT Rungo. Mereka berusaha melarikan diri dari kejaran polisi dan akhirnya terhenti setelah menabrak mobil Tari. Sama seperti adegan dalam film.

Bagi pihak kepolisian dan Bank Indonesia, Tari dan Yuli dianggap sebagai pahlawan karena berhasil menggagalkan aksi perampokan meskipun secara tidak sengaja.

Sayangnya, keberanian tersebut harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi karena mobil yang berjasa menghentikan upaya pelarian itu terlempar ke arahasphalt roller, mesin penghalus jalan aspal, peralatan besar yang seluruh bagiannya terbuat dari logam. Benturan yang sangat kuat benar-benar menghancurkan kereta Jepang itu, dan pasti saja, beserta isinya.

Hanya beberapa detik saya merasakan dada ini sangat nyeri, dan saya melihat gumpalan darah keluar dari mulut. Secara samar saya mendengar teriakan orang-orang. Dengan seluruh kekuatan yang saya miliki, saya berusaha menyampaikan pesan kepada mereka agar tidak memberitahu kejadian tersebut kepada orang tua atau Pakde dan Bude saya di Pulau Jawa," kenang Tari. Setelah itu, dunia menjadi gelap bagi dirinya.

Banyak orang yang melihat keadaan Tari dan Yuli pada saat itu, terutama melihat mobil yang hancur total, cenderung yakin bahwa keduanya tidak akan selamat. Baru setelah sembuh selama enam bulan, Tari diberitahu bahwa setelah kejadian tersebut dia dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian dibiarkan tanpa perawatan.

Klinik di Sampit menolaknya karena tidak melihat adanya peluang kesembuhan. Tari kemudian dibawa ke Surabaya, namun hasilnya sama. Dokter di klinik Surabaya menyarankan agar Tari dirujuk ke RS Pertamina Jakarta. Di rumah sakit tersebut juga banyak orang, termasuk para dokter, yang pesimis terhadap kondisi Tari. Hanya satu dokter yang percaya bahwa Tari masih bisa diselamatkan.

Enam bulan Tari terbaring di Ruang Perawatan Intensif (ICU) RS Pertamina Jakarta, ia mengalami masa tersebut dengan detak jantung yang sebagian besar tidak ada. "Tubuh saya hancur. Darah keluar dari semua bagian tubuh. Saya menjalani beberapa operasi beruntun. Namun yang membuat saya bersyukur, otak saya sama sekali tidak terganggu," ujar Tari sambil menunjukkan pelipis kanannya yang lembut tanpa tulang.

Juga terdapat bekas luka di telapak kaki yang dulu, akibat terbentuk karena lama tersembunyi di bawah gips hingga penuh dengan belatung. Terdapat lubang yang menembus paha, sedangkan telapak tangan kanannya menjadi datar dan melengkung setelah sebelumnya rusak parah.

"Maka, ketika kondisi saya mulai membaik, saya pernah berjanji, jika tangan ini pulih akan saya gunakan untuk membantu orang," katanya.

Di kondisi koma, Tari beberapa kali mengalami perjalanan rohani ke "alam lain". Salah satu pengalamannya yang menarik adalah mengunjungi suatu tempat yang sangat indah dan bersih.

Di tengah hamparan rumput yang tidak memiliki perahu meskipun banyak pohon rindang, terdapat sebuah bangunan yang terang benderang meskipun Tari tidak melihat adanya lampu. Bangunan tersebut dijaga oleh sekelompok pria berkuda. Tari yakin bahwa tempat itu adalah makam Nabi Muhammad SAW.

Bukti nyata, beberapa saat setelah ia pulih dan melihat foto makam Nabi yang berada di dalam Masjid Nabawi di Madinah al-Mukaromah, pengalaman spiritualnya terulang kembali.

Di ambang kesadaran - sadar bahwa ia sedang terbaring di ruang ICU tetapi juga sadar sedang melakukan perjalanan tak kasat mata - Tari mendengar ucapan, "Ayo, kumpulkan tulang-tulang itu!" Ia merasa tulang yang dimaksud dalam perkataan itu adalah tulang-tulang tubuhnya yang saat ini, ia ketahui, hancur berantakan.

Jarang makan nasi

Enam bulan berlalu. Kondisi Tari perlahan-lahan membaik. Akhirnya dia benar-benar pulih. "Saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantu," tambah Tari.

Ia menyebut pihak Bank Indonesia yang menangani pengobatannya terus berpindah-pindah rumah sakit serta memberikan berbagai bantuan yang berkelanjutan. Jika bukan dengan cara terus-menerus mengisi tabungannya, maka melunasi seluruh utang keuangan Tari.

Ternyata, permintaan Tari yang datang segera setelah kecelakaan dipenuhi oleh teman-temannya. Tidak ada anggota keluarga yang diberitahu. Baru setelah keluar dari rumah sakit, Tari mengungkapkan kebenarannya kepada kerabatnya. Kepada Pakde dan Budenya, serta orangtuanya di Temanggung.

Sudah lama mereka hanya menerima kabar rutin dari teman-teman Tari, yang menyatakan bahwa dia dalam keadaan baik di Kalimantan. Padahal, hal ini diketahui melalui penuturan orangtuanya, tepat pada hari kecelakaan, bau amis tercium di seluruh bagian rumah orangtuanya. Tidak seorang pun menduga bahwa itu merupakan tanda buruk yang menimpa Tari. Mungkin saja perasaan ibunya.

Pada masa pemulihan, kejadian ajaib ternyata masih terus berlangsung. Selama sebuah perjalanan spiritual, Tari menerima tiga buah yang manis lalu dimakannya.

Ternyata, makanan rohani itu kemudian memperkuat tubuhnya. Dengan cara serupa, dia melanjutkan "laku" dengan hanya mengonsumsi nasi putih dan lauk bawang goreng. "Empat tahun saya lakukan hal itu. Setelah melewati masa tersebut, saya justru jarang makan nasi."

Selain itu, ia juga jarang mengonsumsi makanan. "Semua orang di rumah ini tahu. Asisten saya, saudara perempuan saya, mengetahui bahwa saya jarang makan. Paling banter hanya minum dan merokok," kata Tari sambil menunjuk staf di tempat praktiknya sebagai terapis alternatif di wilayah Kalibata, Jakarta Selatan.

Ditanya alasannya, "Saya sendiri bingung. Jika saya manusia biasa mengapa jarang makan, tapi jika gaib terlihat. Selain itu, saya jarang sakit."

Di lokasi tersebut, pasien datang dengan berbagai jenis keluhan. Tari, yang menggunakan nama Jeng Tari sebagai merek dagangnya, memberikan bantuan melalui berbagai cara. Mulai dari "laku", doa, hingga ramuan herbal yang bahan-bahannya disimpan dalam karung-karung di lantai atas tempat praktiknya.

"Saya hanya meminta pasien untuk percaya sepenuhnya, insya Allah akan sembuh. Saya hanya berperan sebagai perantara, sebagai pelaksana dalam mencapai jalan kesembuhan. Bahkan tanpa menjanjikan atau memastikan. Karena bagi saya, yang mutlak hanyalah Allah. Manusia bersifat relatif," tambah Tari.

Ia menghentikan percakapan untuk melayani pasien yang sudah menunggu cukup lama. Ada harapan, kepasifan, dan juga keyakinan di antara orang-orang yang berada di ruang praktik Jeng Tari. Benarlah janjinya yang diucapkan beberapa waktu lalu ketika tangannya rusak. "Jika tangan ini pulih, saya akan memanfaatkannya untuk membantu orang lain." Mayong S. Laksono.

TerPopuler