KKN, Empati, dan Kehadiran Nyata Mahasiswa di Masyarakat -->

KKN, Empati, dan Kehadiran Nyata Mahasiswa di Masyarakat

6 Apr 2026, Senin, April 06, 2026

bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA — Dalam situasi di mana perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), terus mengalir deras, ruang-ruang yang berbasis kemanusiaan kembali menemukan maknanya. Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa diingatkan bahwa kehadiran mereka tidak hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga menyampaikan empati—sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Pesan tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, Prof. Jefri S. Bale, kepada para mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nusa Tenggara Timur. Ia menekankan bahwa meskipun teknologi sangat canggih, tetap ada batasan ketika menghadapi kenyataan sosial manusia.

"AI tidak memiliki rasa kasihan, ia tidak mampu meneteskan air mata ketika melihat balita yang kekurangan gizi," katanya.

Bagi Jefri, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar prosedur akademik, tetapi kesempatan untuk memberikan sentuhan kemanusiaan. Di wilayah seperti NTT, isu pembangunan tidak hanya memerlukan data dan inovasi teknologi, tetapi juga kesadaran sosial yang muncul dari kontak langsung dengan penduduk setempat.

Ia menegaskan agar mahasiswa tidak terjebak pada pendekatan teknokratis yang kaku. Justru sebaliknya, mereka harus menciptakan komunikasi yang hangat dan bersifat manusiawi agar program yang dilaksanakan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia mengingatkan agar para mahasiswa tidak terpaku pada pendekatan teknokratis yang terlalu ketat. Sebaliknya, mereka perlu membangun komunikasi yang penuh kehangatan dan berlandaskan kemanusiaan agar program yang dijalankan sungguh-sungguh dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menyarankan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pendekatan teknokratis yang kaku. Justru sebaliknya, mereka perlu memperkuat komunikasi yang hangat dan humanis agar program yang dikerjakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa, menurutnya, perlu lebih sering mendengarkan, belajar dari kearifan lokal, serta mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kenyataan sehari-hari. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi agen perubahan yang didasarkan pada ilmu, tetapi juga wakil dari nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembangunan.

Semangat dedikasi yang sama juga terlihat di Sulawesi Tengah. Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu mengirimkan sekitar 300 mahasiswa dalam program KKN Tematik Pertanahan yang fokus pada isu nyata di masyarakat, yaitu sertifikasi tanah wakaf.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Datokarama Palu, Sahran Raden, menyampaikan bahwa mahasiswa diberi tugas untuk mengidentifikasi sekitar 800 bidang tanah wakaf yang belum memiliki sertifikat.

Tanah-tanah tersebut mencakup aset penting bagi umat seperti madrasah, tempat ibadah, serta makam umum. Sebagian besar terletak di kawasan Kota Palu, yang hingga saat ini belum memiliki kejelasan hukum mengenai kepemilikannya.

Bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, program ini merupakan bagian dari percepatan sertifikasi tanah melalui skema Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).

Mahasiswa tidak hanya hadir secara simbolis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses teknis di lapangan, mulai dari validasi data, pemetaan, hingga sosialisasi kepada masyarakat tentang kepentingan legalitas tanah.

 

Bahkan, mereka turut berkontribusi dalam proses administrasi seperti pengurusan Akta Ikrar Wakaf (AIW), yang merupakan tahap awal sebelum tanah diajukan untuk mendapatkan sertifikat resmi.

Bagi Sahran, KKN Tematik ini bukan hanya sebuah program pendidikan, tetapi juga bentuk kontribusi nyata dalam menjaga aset-aset masyarakat agar memiliki dasar hukum yang jelas dan terlindungi.

Dua cerita dari Kupang dan Palu ini menunjukkan wajah KKN yang terus berkembang. Di satu sisi, mahasiswa diingatkan agar tidak kehilangan rasa kemanusiaan dalam perjalanan teknologi. Di sisi lain, mereka didorong untuk memberikan solusi nyata terhadap berbagai masalah masyarakat.

KKN tidak hanya berkaitan dengan pelayanan, tetapi juga tentang pembelajaran menjadi seseorang yang utuh, yang mampu menggabungkan ilmu, perhatian, dan tindakan nyata.

TerPopuler